Sulit saya katakan betapa bangganya kami akan kumpulan lagu-lagu ini. Seperti yang kalian tahu, kami memanfaatkan waktu kami yang membuat kami memiliki banyak kesempatan.

Ucapan di atas terlontar dari mulut Jeff Ament, pembetot bass Pearl Jam, tentang pembuatan album terbaru bandnya, “Gigaton” yang akhirnya dirilis via label Monkeywrench Records/Republic Records sejak 27 Maret 2020 lalu. Sebuah karya rekaman yang berjarak tujuh tahun perilisannya dengan album sebelumnya, “Lightning Bolt” (2013).

“Pembuatan album ini adalah sebuah perjalanan panjang,” cetus gitaris Mike McCready. “(Perjalanan yang) gelap secara emosional dan membingungkan, tetapi juga menggairahkan dan merupakan peta jalan yang eksperimental menuju penebusan secara musikal.”

Kali ini, Jeff Ament, Mike McCready, Matt Cameron (dram), Stone Gossard (gitar) dan Eddie Vedder (vokal) mengerjakan “Gigaton” bersama produser Josh Evans. Sebelumnya, selama hampir tiga dekade, Pearl Jam selalu berkolaborasi dengan produser Brendan O’Brien. Namun demikian, Josh bukan orang asing di kubu Pearl Jam. Dalam beberapa kesempatan, Josh kerap membantu band tersebut dalam perancangan sound dari sisi teknis, termasuk di penggarapan album “Lightning Bolt” serta beberapa jadwal manggung. Josh juga pernah menjadi teknisi sound untuk proyek solo Jeff Ament dan Mike McCready. Sementara di skena grunge, Josh yang juga berasal dari Seattle – kota kelahiran grunge  pernah pula terlibat di penggarapan album milik Soundgarden, Mother Love Bone dan Mad Season.

Sejauh ini, dari album “Gigaton”, Pearl Jam telah merilis tiga single, yakni “Dance of the Clairvoyants”, “Superblood Wolfmoon” dan “Quick Escape”. Menurut Josh, permainan solo gitar Mike McCready di bagian akhir lagu ini telah mengingatkannya pada lagu “Reach Down” dari album Temple of the Dog, proyek kolaborasi personel Pearl Jam dengan Soundgarden pada 1990 silam.

“Saya ingin soundnya seperti pasukan tentara robot lebah yang dipadu dengan (gesekan) strings dari lagu ‘Toxic’ milik Britney Spears,” seru Josh sambil tertawa, seperti dikutip dari wawancaranya dengan variety.com.

Pearl Jam mengawali debut kesuksesannya ketika merilis album “Ten” (1991), setahun setelah terbentuk di Seattle, Washington. Saat dirilis, “Ten” berhasil menerobos ke peringkat kedua terlaris di Amerika Serikat dan antara lain melejitkan tiga single, yakni “Alive”, “Even Flow” dan “Jeremy”. Dan menurut data 2013, “Ten” sudah terjual sebanyak lebih dari 10 juta keping di seluruh dunia. Formasi Pearl Jam sendiri terbentuk setelah Mother Love Bone, band milik Jeff Ament dan Stone Gossard bubar. Keduanya lantas mengajak Eddie Vedder, Mike McCready dan dramer Dave Krusen untuk bergabung dan membentuk Pearl Jam. Posisi dramer di band ini sendiri beberapa kali terjadi pergantian. Saat ini, Matt Cameron yang juga tergabung di Soundgarden merupakan dramer tetap di Pearl Jam sejak 1998.

Sejauh ini, angka penjualan 10 album studio Pearl Jam sebelum “Gigaton” telah menyentuh angka lebih dari 32 juta keping di wilayah AS dan lebih dari 85 juta di seluruh dunia. (MK03)

Kredit foto: Danny Clinch

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY