Masih dengan nuansa emo rock/post-hardcore yang sempat ramai di era 2000an hingga sekitar 10 tahun kemudian, band asal Manado, Sulawesi Utara ini akhirnya melampiaskan album penuh pertamanya, yang bertajuk “Sweet Affection On Your Eyes” pada 21 Maret 2020 lalu. Karya rekaman ini sekaligus menjadi pembuktian bahwa genre tersebut belum ‘mati’. Paling tidak begitu yang diyakini Fight For Another Hero (FFAH). Walau bisa saja album tersebut dianggap jauh dari sempurna, namun FFAH berharap persembahan mereka ini bisa menambah gairah di skena emo rock/post-hardcore Tanah Air.

Kalimat yang dijadikan judul album itu sendiri – menurut Kevin Wongkar (gitar/vokal clean), Yudistira Dama (vokal scream), Arya Primasatya (bass), Harfinsha (dram) dan Jonathan Tubongkasi (synth/kibord) – merupakan gambaran umum dari jatuh cinta yang memang berawal dari tatapan. Liriknya sendiri sebagian besar ditulis oleh Kevin Wongkar.

“Namun ada beberapa lagu yang coba kami buat untuk terasa lebih ‘mature’ untuk aliran ini. Sedangkan untuk referensinya masih dari band-band emo rock/post hardcore seperti The Used, Saosin, Story of the Year, The Finch, Confide, Attack Attack, Asking Alexandria dan Bring Me the Horizon,” ujar mereka kepada MUSIKERAS, memperjelas.

“Sweet Affection On Your Eyes” mulai digarap FFAH sejak awal 2019 lalu, dimana eksekusi produksinya dilakukan di Nocturn Records studio, di Tomohon. Proses tersebut sudah mencakup proses rekaman, tracking, mixing hingga mastering. Namun menurut mereka, sempat ada beberapa kendala yang membuat jadwal rilis album tersebut tertunda.

“Karena awalnya kami merencanakannya (dirilis) di akhir 2019, tapi dikarenakan jadwal dari studio rekaman serta waktu dari engineer-nya sendiri yang padat maka terjadi keterlambatan. Jarak juga menjadi kendala karena Manado ke Tomohon lumayan jauh, dan juga keluarnya gitaris yang sempat mengisi lead di single kedua sebelumnya, jadi kami harus mencari pengganti untuk album ini.”

Namun, untuk ukuran album perdana, FFAH yang terbentuk pada 2010 silam ini mengaku seluruh lagunya merupakan yang terbaik bagi mereka. Dan bahkan ada empat lagu di antaranya yang menjadi andalan; yaitu lagu “Memerah Melemahkan”.

“Ya mungkin karena lagu ini satu-satunya yang berbahasa Indonesia, kemudian di sini kami lebih mencoba membuat lagunya lebih soft dengan vokal yang berbeda di (bagian) reff. Terus ada (lagu) ‘This Bleeding Hands’ dan ‘Distance Means Nothing When You Mean Everything’, yang mungkin menurut kami paling matang dari sisi komposisinya. Terakhir ada ‘It’s Over’, dimana kami ingin yang mendengarkan merasakan kesan ‘fragile’-nya menjadi pria sedih berbaju hitam.”

Saat awal FFAH terbentuk, Manado tengah dilanda tren musik elektronik yang digabungkan dengan metal. Pada 2010, FFAH merilis album mini (EP) berjudul “Goodbye Doesn’t Always Sadly End” berisi enam lagu yang dirilis secara digital. Setahun kemudian mereka melempar single bertajuk “OMG!” yang disertai video musik. Lalu sempat vakum beberapa tahun karena kesibukan masing-masing personelnya, serta terjadi pula beberapa kali pergantian formasi. Untungnya, pada 1 Mei 2019, FFAH bangkit kembali dan merilis single “Distance Means Nothing, When You Mean Everything”, lalu disusul single berikutnya, “Pergi Menghilang” pada 17 September 2019. Kedua single itulah yang menjadi pemanas sekaligus pengantar menuju perilisan “Sweet Affection In Your Eyes”.

“Sweet Affection On Your Eyes” sendiri kini sudah bisa dinikmati via berbagai kanal digital penyedia jasa dengar lagu (streaming) seperti Spotify, Apple Music, Amazon dan di berbagai aplikasi lainnya. (aug/MK02)

.

 

1 COMMENT

  1. Untuk memerah melemahkan gampang di ingat bagian reffnya,tapi untuk keselurahan album paling suka it’s over

LEAVE A REPLY