Sejak keluarnya himbauan untuk berdiam diri di rumah demi memutus rantai penyebaran Covid-19 atau virus Korona, banyak musisi yang akhirnya terpaksa memutus segala kegiatan luar ruangnya. Tak ada kegiatan latihan, apalagi manggung. Lalu bagaimana mereka memanfaatkan waktu selama berdiam di rumah?

Sebagai musisi, tentunya sebagian besar tetap melakukan kegiatan bermusiknya, tanpa harus bertemu satu sama lain. Kebanyakan akhirnya menyalurkan kreativitasnya dengan melakukan jamming via media sosial seperti Instagram, Facebook hingga YouTube.

Selain itu, tentunya meluangkan waktu mendengarkan musik. Nah, MUSIKERAS mencoba mencari tahu musik apa saja yang mereka konsumsi selama menjalani masa karantina ini. Sebagai pembuka, kami menginterogasi Eet Sjahranie, salah satu gitaris rock yang disegani di Tanah Air, yang juga selama ini dikenal sebagai penggerak utama Edane, salah satu band rock legendaris Indonesia.

“Kayaknya gue baru-baru ini lagi dengerin Deep Purple sama Michael Schenker… Memang pengen denger lagu-lagu lawas aja,” ujar Eet Sjahranie kepada MUSIKERAS, mengakui.

Untuk Deep Purple, Eet secara spesifik menunjuk album “Come Taste the Band”, rilisan Oktober 1975. Sepanjang sejarah karir band rock legendaris asal Inggris tersebut, album yang antara lain melejitkan single “You Keep On Moving” ini merupakan satu-satunya yang tidak diperkuat oleh dua personel ikoniknya, yakni gitaris Ritchie Blackmore dan vokalis Ian Gillan. Penggarapan “Come Taste the Band” dieksekusi oleh David Coverdale (vokal), Tommy Bolin (gitar), Jon Lord (kibord/organ), Glenn Hughes (bass/vokal) dan Ian Paice (dram). Formasi Deep Purple itu pula yang pernah menggelar konser di Stadion Senayan, Jakarta (sekarang bernama Gelora Bung Karno) pada 4-5 Desember 1975 silam. Dalam sebuah wawancara, Jon Lord mengakui “Come Taste the Band” sangat bagus, hanya memang banyak yang menilainya bukan sebagai album Deep Purple.

“Yang istimewa, ‘Come Taste the Band’ itu Deep Purple yang cukup kontroversial,” cetus Eet, “karena bagi penggemar die hard-nya, (album itu) bukan Deep Purple. Gue bukan penggemar berat Deep Purple, walaupun Ritchie Blackmore sudah pasti salah satu guitar hero gue… tapi Deep Purple album ‘Come Taste the Band’ ini, like it or not masterpiece buat gue. It’s a ‘groovy’ hard rock album!

Sementara untuk Michael Schenker, Eet sangat menyukai salah satu komposisi bertajuk “Systems Failing” dan “Captain Nemo” yang termuat di album “Built To Destroy” (Michael Schenker Group), rilisan September 1983. Michael Schenker sendiri dikenal sebagai salah satu gitaris rock berpengaruh, yang sebelumnya telah mengukir bakat besarnya lewat band rock Scorpions dan UFO.

“Lagu-lagunya simpel dan (permainan) gitarnya sangat melodik, and certainly guitar tone so special, unik! Gue selalu amazed kalau denger lagu ‘Systems Failing’, terkesan poppy but great guitar work! Dan ‘Captain Nemo’, believe it or not adalah lagu yang menginspirasi gue untuk lagu ‘Jabrik (Big Town)’ di album Edane.”

Oh ya, satu lagu lagi yang juga menarik perhatian Eet adalah “Touch Too Much”, salah satu karya band rock legendaris asal Australia, AC/DC dari album “Highway to Hell” (1979). Album ini merupakan karya rekaman terakhir gitaris Angus Young dkk bersama vokalis kharismatik, Bon Scott yang meninggal dunia pada 19 Februari 1980.

“Gue kemarin-kemarin sempat intense dengerin lagu AC/DC ‘Touch Too Much’, it’s simply a groovy hard rock n roll! Lagu yang mungkin sangat jarang dibawain live sama mereka! Go listen to it man, it’s a cool song! Intro-nya terkesan seperti ada synth-nya, padahal gitar! Mungkin karena dimainkan sedemikian rupa, jadi begitu bunyinya!”

Saat ini, Eet Sjahranie dan bandnya, Edane sedang menyiapkan sebuah single baru, yang rencananya baru akan dirilis setelah badai Covid-19 berlalu. (mdy/MK01)

Kredit foto: Azhan Miraza

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY