Judul di atas dilontarkan unit metal asal Surabaya ini mengenai konsep musikal di single terbarunya, “Delusif” jika harus dibandingkan dengan konsep yang diterapkan di album “Jurnal Amarah”, rilisan 2017 lalu.

Para personelnya, yakni Ahmad ‘Cak Boker’ Badaruzzaman (bass), Bima ‘Kordes’ Reza (gitar), Bayu Karna (vokal), Fajar A. (gitar) dan R. Wiryawan (dram) mengakui, kali ini geberan musiknya dibuat lebih sederhana. Lalu, selain itu, Tikam juga berusaha mengurangi referensi. “Di album pertama mungkin kami masih terlalu nafsu dan kekanakan ya, maunya semua yang bagus-bagus dimasukin. Akhirnya bikin lagu lama banget nggak kelar-kelar karena kebanyakan keinginan. Nah, sekarang kirain bakal lebih gampang karena referensinya makin dikit, eh ternyata sama aja susah. Cuma bedanya kalau dulu bingung kebanyakan referensi, nah sekarang bingung gimana bikin lagu yang simple tapi enak dan nagih,” seru Cak Boker kepada MUSIKERAS sambil tertawa.

“Delusif” sendiri digarap setelah Tikam banyak menghabiskan waktu bertualang dari panggung ke panggung tiga tahun belakangan ini. Hingga akhirnya pada Jumat, 10 April 2020 lalu mereka bisa merilis single barunya itu.

Di lirik lagu ini, Tikam bercerita tentang seseorang yang berusaha keluar dari zona nyaman untuk menemukan sebuah tempat dimana dia bisa hidup sesuai dengan potensi penuh yang ada pada dirinya. Dalam visualisasi videonya, Tikam menghadirkan seorang pria yang berhadapan dengan sebuah rumah besar. Kemudian di dalam rumah tersebut tampak banyak makhluk mengerikan dengan situasi yang sangat acak. Dimulai dari sebuah lobi mewah, lalu dimensi antah berantah, hingga lorong kosong dengan lampu yang redup. Inti dari gambaran pada video tersebut adalah, menaklukkan tempat tersebut bukan perkara mudah, namun rasa takut hanyalah produk pikiran. Semua hanya delusi, tapi satu hal yang nyata adalah jika ia tidak memulai, maka perubahan tidak akan terjadi pada hidupnya.

Lalu seperti karya-karya pada debut album Tikam sebelumnya, mereka masih konsisten menggunakan bahasa Indonesia dengan gaya vulgar ala mereka. Membalik logika umum masih jadi gaya andalan Cak Boker dalam menulis liriknya, contoh saat ia menceritakan tentang cahaya dan gelap, dimana ia justru memposisikan cahaya sebagai hal yang negatif, sementara sebaliknya gelap justru menjadi suatu hal yang positif.

Di lini produksi, Tikam yang terbentuk pada 11 Desember 2013 lalu mempercayakan proses perekaman dram dan vokal dieksekusi di studio Daztanian, Surabaya, dengan bantuan Johan (audio engineer Fraud) untuk pengoperasian teknisnya. Namun untuk isian gitar dan bass, mereka melakukan rekamannya sendiri di tempat milik Kordes. Kemudian proses produksi dilanjutkan oleh Itok Winursito untuk penggarapan editing, mixing hingga mastering.

Setelah perilisan single “Delusif”, Tikam rencananya bakal menggelar tur bersama rekan band satu label yang mereka bentuk sendiri, yakni INSTING Creative Records. Namun tentunya, rencana itu bakal diwujudkan setelah kehebohan wabah Covid-19 berlalu.

Inshaa Allah bakal ledak-ledakin lagi deh bareng teman-teman. Kami harus segera mengembalikan api yang redup ini,” cetus Cak Boker bersemangat.

Selain rencana tur, juga ada pemikiran untuk penggarapan album, namun saat ini masih dalam tahap brainstorming. “Awalnya kan tahun ini kami pingin rilis tiga single dulu dengan konsep yang masih satu tema, hanya beda di penyajian saja, mau eksperimen dululah. Tapi kok ngelihat responnya ‘Delusif’ ini bagus, banyak yang ngompor-ngomporin buat gasak album. Kayaknya sih habis ini satu single lagi, habis itu langsung album deh… hahaha. Soalnya single yang berikutnya udah kadung mau matang ini, tinggal poles aja.” (mdy/MK01)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY