Setelah vakum selama dua tahun, unit cadas asal Jakarta ini kembali mengaum. Sebuah single enerjik bertajuk “Misconception” telah digelindingkan sejak Maret 2020 lalu, dimana metalcore semakin kental merasuki nadi musik mereka.

“Dari segi musikal, tentu tidak dipungkiri kami terinspirasi dari salah satu band influence kami, yaitu As I Lay Dying,” cetus Break the Sun kepada MUSIKERAS, terus-terang.

“Misconception” sendiri dibangun dari kisah nyata, yang mengacu pada perbedaan konsep antara gitaris dan vokalis Break the Sun sebelumnya. Keduanya berselisihpaham masalah konsep musikalitas, sound dan karakter Break the Sun ke depannya.

“(Mereka) Berselisih paham perihal konsep album kedua yang sedang proses pengerjaan saat itu. Konsep yang diinginkan mantan vokalis dinilai mengubah struktur musik Break the Sun. Saat itulah sang eks vokalis mengundurkan diri dan saat itu pula gitaris Yusron ‘Gelz Jona’ menulis lagu yang berjudul ‘Misconception’ pada 2016 lalu.”

Ya, “Misconception” memang telah digarap Yusron ‘Gelz Jona’, Damas Bintang Sagita (gitar), Achmad Rayendra Sukmana (bass/vokal clean) dan Krisita Pandu Jayanata (dram) sejak sekitar tiga tahun lalu di PLUG studio Cibubur, namun belum pernah dipublikasikan sejak lagu tersebut dibuat.

Kini, di lini vokal, Break the Sun telah diperkuat oleh vokalis baru, Qois ‘Qoisaz’ Abdul Aziz yang baru bergabung pada Januari 2020. Kehadiran vokalis yang berkarakter hardcore tersebut dianggap membawa warna baru dalam ramuan musik Break the Sun. “Perpaduan karakter suara vokalis hardcore dan musik metalcore akan terjadi pada album kedua kami nanti, yang akan kami rilis tahun ini juga, jika tidak ada kendala.”

Lebih jauh tentang rencana merilis album – atau tepatnya album mini (EP) – Break the Sun menegaskan bakal ada perubahan konsep jika dibandingkan dengan album mereka sebelumnya, “Horror of the Final Day” (2013). “Sangat berbeda, namun tetap dengan garis besar di genre metalcore, walaupun ada sedikit perubahan pada lead dan sound, atau modern metalcore dan djent metalcore. Saat ini pun, proses rekaman sedang berlangsung seperti yang ada di feed Instagram kami. Lagu pertama sedang proses mixing-mastering, dan (kini) kami sedang proses rekaman lagu kedua untuk album baru.”

Oh ya, nama Break The Sun sendiri dipilih dari ide Jona, yang juga merupakan pendiri band kelahiran 2009 silam ini. Ia mengambilnya dari kata ‘break’ yang berarti patah atau pecah, dan ‘sun’ atau matahari. Jadi keseluruhan didefinisikan sebagai ‘hancurkan atau pecahkan matahari’. Alasannya, karena sebagian besar waktu untuk bertemu atau keluar rumah para personelnya terjadi di malam hari. “Jadi bagaimana kami bisa menghancurkan matahari di siang hari, agar kami dapat terus bertemu dan bersulang!”

Selain di kanal Youtube, lagu “Misconception” juga bisa dinikmati di berbagai gerai penyedia jasa dengar musik digital (streaming) seperti Spotify, Joox, iTunes, Amazon Music, Tidal dan Reverbnation. Sebelum “Misconception”, Break the Sun juga telah merilis single “Under Pressure” (2014) dan “Desire to Conquer” feat. Wanted (2015). (aug/MK02)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY