Akhirnya, konspirasi perantau asal Medan yang mencari ruang pelampiasan untuk menikmati euphoria dan kerasnya moshpit panggung-panggung musik keras di skena ibukota memuntahkan single pemicu kerusuhan bertajuk “Justice”. Sebuah komposisi yang menekankan prinsip bahwa jangan pernah berharap apa pun jatuh dari langit, karena semuanya butuh aksi.

“Justice” yang sudah bisa ditemukan di berbagai penyedia jasa dengar musik digital (streaming) seperti Spotify, Deezer dan YouTube Music ini digarap para personel Mossak di Dark Tone Studio Blackandje Records, dengan bantuan Adria Sarvianto untuk mixing, lalu Benitho Siahaan untuk mastering, dan perancangan logo oleh Boy Rajagukguk.

Sopian ‘Pian’ Manullang (vokal), Christian ‘Tian’ Sianturi (gitar), Sahala ‘Ogan’ Morgan Tobing (bass) dan Marangkup ‘Ackup’ Hutauruk (dram) berkutat selama 2-3 bulan saat menggarap “Justice” bersama single kedua yang rencananya bakal dirilis beberapa bulan ke depan.

Mossak mengakui, saat menjalani prosesnya, band yang terbentuk sejak 20 Januari 2019 lalu ini menghadapi banyak tantangan teknis. Misalnya, setiap personel berangkat dari latar belakang genre yang berbeda, dan itu harus diakomodasi karena masing-masing diberi kebebasan untuk memberi ide dalam mengaransemen lagu tersebut hingga jadi materi yang siap direkam.

“Belum selesai sampai di situ, waktu 24 jam juga terasa kurang, karena background setiap personel adalah karyawan kantoran, jadi belum tentu setiap saat bisa berkumpul. Dalam sebulan bisa dihitung berapa kali bertemu. Bahkan sebelum memasuki studio rekaman, dalam sebulan, bisa jadi personel yang bisa kumpul lengkap hanya sekali,” ungkap Mossak kepada MUSIKERAS, terus-terang.

Lalu saat memasuki studio rekaman pun, lanjut Mossak, masih ada kendala teknis lainnya. Pasalnya, ada personel yang baru pertama kali masuk ke studio rekaman, ada yang kagok saat ketemu tempo, ada yang bingung dalam pemilihan sound, bahkan ada yang sering lupa materi karena terlalu lama menunggu giliran untuk mengisi part.

“Proses penggarapan single ini merupakan pengalaman yang mungkin sangat berharga bagi kami, karena di situ kami banyak belajar hal, baik tentang chemistry antar personel hingga teknis yang mungkin seharusnya personel lain tidak perlu tahu banget soal setingan alat masing-masing. Pokoknya serulah…!”

Namun terlepas dari hal-hal tadi, penggodokan “Justice” dari segi musikal berhasil merangkum perbedaan. Jika diusut satu per satu, banyak referensi yang sadar tak sadar mempengaruhi proses penggarapan lagu. Tian misalnya, ia sangat menggemari Bring Me the Horizon, sementara Pian lebih berkiblat ke Lamb Of God, lalu ada Ogan yang sedikit mengarah ke Slipknot dan As I Lay Dying, dan terakhir Ackup yang malah dianggap sedikit tidak konsisten.

“Dia rada nggak jelas, ngakunya punk, tapi kebanyakan denger Enter Shikari. Kalo yang hardcore dia suka banget Sick of It All, dan untuk band lokal (dia suka) Jeruji dan Fraud.”

Tapi pada akhirnya, Mossak bisa menghasilkan komposisi yang sesuai dengan misi mereka, yakni ingin agar pesan lagunya bisa sampai ke telinga pendengar. “Meskipun dengan aransemen yang bisa dibilang keras. Terutama di vokal ya, sangat konsen banget karena ya memang power dari lagu ini ada pada liriknya. Kalo dari aransemen sih kayaknya nggak banyak neko-neko… hahaha…!”

Setelah perilisan “Justice”, rencananya Mossak yang mendapatkan namanya dari plesetan kalimat ‘moshing batak’ ini ingin merilis album mini (EP), sambil terus berpromosi dan mencari ajang manggung. “Intinya nggak pengen jadi siapa-siapa juga sih, pengen terus berkarya aja tanpa batas, karena ya pada awalnya, band ini dibentuk karena emang pengen bikin karya.” (mdy/MK01)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY