Lewat “Fatamorgana”, RESTLESS Kobarkan Kembali Semangat Goth-Metal

Perilisan single terbarunya, “Fatamorgana” pada 25 Maret 2020 lalu menjadi jawaban atas segala gunjingan miring mengenai eksistensi unit gothic metal asal Ujung Berung, Jawa Barat ini, pasca hengkangnya vokalis mereka, Soffa Al Marwah serta gitaris Sulaeman yang juga merupakan pendiri Restless.

Kini dengan formasi baru yang diperkuat dramer Riski ‘Abet’ Risnandar – satu-satunya personel asli sejak Restless terbentuk pada September 1995 silam – lalu Dice Midyanti (kibord), Ahmad Saeful Muharam (bass), Dadi Ferdiansyah (gitar), Adi Santosa (violin) serta vokalis baru Listriana ‘Alice’ Riadini, Restless siap kembali menyuguhkan karya-karya terbaru untuk para Staygoth, sebutan untuk para penggemar Restless.

“Fatamorgana” sendiri merupakan karya daur ulang (recycle) dari lagu mereka yang sebelumnya pernah dirilis di album kedua Restless, “Shadow Of Black” (2002). Di single ini, Restless memberikan sesuatu yang berbeda dan baru dalam penggarapannya, dan sangat jauh berbeda dibanding versi sebelumnya, baik dari aransemen maupun sound secara keseluruhan. Namun tentu saja, masih diberi sentuhan orkestra sebagai salah satu ciri khas.

Keputusan melakukan daur ulang “Fatamorgana” sendiri didasari fakta bahwa lagu tersebut merupakan salah satu karya Restless yang populer di kalangan Staygoth. Selain itu, “Fatamorgana” juga tersebut merupakan lagu yang sering dibawakan pada saat manggung sehingga tidak asing lagi di telinga para penggemar Restless.

“Dan filosofi dari ‘Fatamorgana’ itu juga yang membuat kami kembali bergairah untuk kembali eksis dan berkarya setelah kurang lebih satu tahun sempat hiatus. Alasan itulah yang muncul di benak kami ketika berkumpul untuk merumuskan single dan konsep baru Restless. Dari segi musikalitas, kami berusaha agar dapat diterima di semua kalangan metal dengan menyesuaikan antara lirik dan konsep aransemen yang lebih modern, terutama dari segi sound dan lainnya.Yang pasti, tidak menghilangkan karakter dan ciri khas dari ‘Fatamorgana’ (versi) sebelumnya,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS, beralasan.

Proses kreatif dan penentuan ide dilakukan oleh semua personel Restless saat penggarapan “Fatamorgana” versi baru. Mereka memulainya dari tahapan pre-production dimana mereka menggarap konsep untuk gitar, bass, dram hingga perubahan beberapa struktur di lagu “Fatamorgana” agar sedikit lebih modern. Setelah konsep gitar, bass, dram telah selesai, dilanjutkan dengan proses penulisan orkestrasi, penentuan nada vokal dan violin. Setelah penentuan ide dan konsep selesai, maka dilanjutkan dengan proses latihan studio atau rehearsal dimana masing-masing personel bisa mengetahui kekurangan dari hasil yang telah dikonsep terlebih dahulu sebelum dilanjutkan pada tahap revisi.

“Di sinilah proses kerjasama, ide dari masing-masing personel mulai terbentuk dan bersinergi satu sama lain. Setelah itu dilanjutkan dengan tahap revisi sampai akhirnya rekaman. Untuk proses rekaman sendiri dilakukan secara bertahap dan terpisah, seperti gitar, bass, dan kibord dilakukan dengan cara home recording oleh masing-masing personel. Sementara untuk dram, violin dan vokal dilakukan di studio. Semua proses tersebut berlangsung selama kurang lebih lima bulan, termasuk re-arrange, rekaman, mixing dan mastering.”

Oh ya, saat penuangan ide-ide, Restless menyerap referensi dan inspirasi musiknya tidak hanya dari ranah metal atau gothic saja, melainkan juga dari berbagai genre musik lain seperti classical hingga pop. “Bahkan inspirasi juga kami dapatkan dari musik soundtrack untuk film agar musik Restless diharapkan lebih berwarna dan dapat diterima di berbagai kalangan.”

Terbentuknya Restless sendiri berawal dari sebuah proyek musikal yang diinisiasi oleh Dani (mantan dramer Jasad) dan Sule (mantan gitaris Sacrelegious), dan kini menjadi satu-satunya band beraliran gothic metal di Ujung Berung yang masih bertahan sampai saat ini. Sejauh ini, Restless telah merilis single “Embun Suci” (1995), album mini (EP) “Bentangan Sunyi” (1997) dan “Shadow of Black (2002), lalu album penuh “Hariku Lebih Hitam dari Gelapnya Malam” (2007), single “Sang Pemberi Cahaya” (2010) dan “Bila Waktu” (2011), album penuh “Andalusia” (2013) dan EP “Gothchestra Conspiracy” (2016).

Sejauh ini, ada rencana Restless untuk merilis album baru, namun terhadang kondisi pandemi Covid-19 yang mengharuskan mereka terpisah satu sama lain. “Kami tidak bisa bertatap muka atau bertukar fikiran secara langsung dan tidak bisa melakukan rehearsal secara rutin kembali. Akan tetapi bukan berarti penggarapan album tidak berjalan, proses penggarapan dan materi baru masih berjalan sampai sekarang walau pengerjaannya harus dilakukan di rumah masing masing, dan sampai saat ini proses tersebut masih pada tahap pre-production. Insya Allah jika keadaan sudah normal kembali pada akhir tahun ini proses untuk album baru bisa mulai digarap.” (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *