Dari Denpasar, Bali, unit alternative rock/emo ini hadir untuk menyemarakkan panggung musik keras independen Tanah Air. Kini, sekitar tiga bulan lebih sejak terbentuk pada awal 2020, Veilside berhasil merampungkan dan merilis single debut mereka yang bertajuk “Stigma”. Lagu ini bercerita tentang jiwa yang lelah terhadap kehidupan, jiwa yang ingin bebas dari segala pandangan negatif duniawi, dan jiwa yang ingin pergi menemukan jati diri.

Jati diri Veilside sendiri, secara musikal, banyak dipengaruhi leburan beberapa referensi band luar seperti Blessthefall, Saosin, Bring Me the Horizon, Crazy88, Dream State, Windrunner serta band lokal Knuckle Bones.

“Dari segi aransemen musik sebetulnya kami memiliki sejumlah opsi,” tutur Veilside kepada MUSIKERAS, “Tapi untuk single debut, menurut kami, musik yang easy listening dan dari segi materi musiknya tidak terlalu berat (sehingga) mungkin akan mudah diterima oleh pendengar di luar sana.”

Proses kreatif saat penggarapan “Stigma” diawali Fitria Kusuma (vokal), I Kadek Dwi Angga (bass), I Gede Yudik Darmawan (gitar) dan Silham (dram) dari pemilihan materi yang akan mereka bentuk menjadi sebuah lagu.

“Kira-kira proses dari awal pemilihan materi hingga rekaman menghabiskan waktu sekitar satu bulan satu minggu hingga kami menentukan tanggal rilis. Untuk ‘Stigma’ ini kami mengerjakan semua prosesnya sendiri yaitu lewat home recording kami sendiri.”

Setelah peluncuran “Stigma”, proyek terdekat Veilside saat ini adalah menggodok proses kreatif album mini (EP), dimana proses produksinya juga mereka kerjakan sendiri, mulai dari pengolahan materi, aransemen musik hingga rekamannya. Namun saat ini, tahapannya masih di pendalaman materi dari masing-masing lagu. (aug/MK02)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY