Sebagai langkah pemanasan menuju perilisan album penuh pertamanya, unit modern rock asal Tasikmalaya, Jawa Barat ini telah melepas single “Sòlido Serenata” yang kental akan grunge Seattle serta nuansa nu metal awal 2000an. Judulnya sendiri terinspirasi dari salah satu episode serial kartun Tom & Jerry, sekaligus menjadi simbol dan citra baru bagi SVPRCHRGR atau Supercharger.

Lewat “Sòlido Serenata”, band yang diperkuat formasi Prabu Grahadiandita (vokal), Cesar Akbar Alaydrus (gitar), Lutfhi Ramadhan (bass) dan Aldy Nur Ikhsan (dram) ini ingin menunjukkan bahwa menjadi pelaku di skena independen tidak harus mengikuti kecenderungan tren yang malah bisa membuat keragaman musik di skena tersebut menjadi terbatas. Makanya mereka pun tidak ragu bereksperimen di lagu tersebut.

Secara garis besar, menurut pihak band, lagu “Sòlido Serenata” menceritakan tentang bagaimana mengendalikan diri di dalam istilah konsistensi, serta bagaimana menyikapi dampak negatif dari idealisme. Semua pesan yang termuat di dalam liriknya juga diterjemahkan menjadi bahasa instrumen musik yang eksperimental dan liar. Permainan riff gitar yang berat dan karakter vokal yang khas tetap menjadi kekuatan utama yang ditawarkan SVPRCHRGR seperti di lagu-lagu mereka terdahulu. Namun dengan catatan, isian dram dan bass kali ini dibuat lebih eksplosif dan variatif ditambah nuansa modern dari bebunyian instrumen digital.

“Eksperimen paling ugal-ugalan yang pernah kami kerjain. Jujur ‘Sòlido Serenata’ yang kami rilis pertama sebagai single adalah lagu terakhir yang kami selesaikan untuk album. Cenderung anti basa-basi, nggak peduli orang mau ngomong apa, suka yaa nikmati, kalo gak suka ya kami nggak peduli. Nuansa ngototnya lagu ‘Sòlido Serenata’ ini diambil dari Slipknot, terus si Slipknot nih ngopi bareng sama System Of A Down, Linkin Park, Alice In Chains, dibawah asuhan Pink Floyd,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, sambil tertawa.

Proses kreatif penggarapan “Sòlido Serenata” sendiri sempat tertunda cukup lama dikarenakan kesibukan masing-masing personel di luar musik. Mereka merekamnya di hampir empat studio yang berbeda, salah satunya di Studio 12 Bandung. “Itulah mengapa memakan waktu kurang lebih dua bulan hingga proses mixing akhir.”

Saat ini, sambil mempromosikan “Sòlido Serenata”, SVPRCHRGR juga tengah menjalani proses penggarapan album, dimana kali ini mereka banyak mendapat bantuan teknis dari engineer muda bernama Fauzi Nurdinsyah. Mulai dari pemilihan sound hingga proses mixing dan mastering untuk membuat kemasan musik rock modern yang lebih berkarakter. “Kebetulan target (rilis) kami di akhir 2020, tapi sebelum menuju perilisian versi full album Svprchrgr bakalan ngasih 3-4 single (terlebih dahulu) dan kesemua treknya nanti akan terdapat di album baru juga.”

Saat terbentuk pada 2017, SVPRCHRGR sendiri sempat mengawali karirnya dengan memainkan lagu-lagu alternative/metalcore dari band-band dunia macam Killswitch Engage, Trivium, Limp Bizkit, Nirvana, Stone Temple Pilots hingga Foo Fighters. Lalu seiring berjalannya waktu, muncul pemikiran untuk membuat dan membawakan lagu sendiri. Namun karena perbedaan referensi masing-masing personel yang sangat berbeda, akhirnya mereka sepakat mengonsep musik yang fresh dan unik.

Sejauh ini SVPRCHRGR telah menghasilkan tiga single rekaman dan satu album mini (EP) yang dapat didengar melalui platform musik digital. Begitu juga dengan “Sòlido Serenata” yang bisa ditemui di berbagai gerai penyedia jasa dengar musik digital (streaming) seperti iTunes, Spotify, Deezer, Joox dan Tidal. (mdy/MK01)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY