Tepat 5 Mei 2020 lalu, band rock legendaris yang paling dihormati di jagat rock Tanah Air ini merayakan hampir setengah abad perjalanan karirnya. Dan sampai hari ini, God Bless yang kini diperkuat formasi Ahmad Albar (vokal), Ian Antono (gitar), Donny Fattah (bass), Abadi Soesman (kibord) dan Fajar Satritama (dram) sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda untuk menghentikan sepat-terjangnya. Semangat mereka untuk terus memanaskan panggung rock terus membara.

Walau baru sempat menelurkan sebanyak tujuh album studio, namun sebagian besar karya rekaman God Bless tersebut menelurkan sejumlah lagu yang sampai sekarang masih melekat kuat di ingatan para penggemar rock di Indonesia, bahkan sampai ke negara tetangga. Nah, di antara deretan panjang lagu-lagu terpopularnya, redaksi MUSIKERAS mencoba menyuguhkan ulasan yang berbeda.

Kali ini kami khusus memilih dan membahas karya-karya rekaman God Bless yang bisa dikategorikan keras, enerjik, dan lumayan didominasi distorsi yang pekat dalam konteks karakteristik lagu-lagu God Bless. Sepuluh lagu yang kami hadirkan di sini merupakan kesimpulan dari jajak pendapat atau survei kecil-kecilan yang kami lakukan di berbagai saluran obrolan dunia maya. Berikut hasilnya:

Trauma (album “Semut Hitam”, 1987)

Salah satu karya sangar God Bless ini diciptakan oleh dramer God Bless era itu, Teddy Sujaya, yang digeber dengan deru musik yang cepat dan memburu. Liriknya sendiri merupakan karya Iwan Fals yang menceritakan kenangan gelap seorang narapidana atas kesalahan yang terus menghantui hidupnya.

“Di sini God Bless memainkan lagu dengan tempo cepat yang sangat berbeda dan tidak seperti kebanyakan lagu mereka lainnya, yang biasanya tempo medium atau slow dengan aransemen yang sangat megah dan rumit khas God Bless,” ulas Roy Jeconiah, mantan vokalis Boomerang yang sangat menyukai lagu ini.

“(Lagunya) Ngebut, powerful, cepat, liriknya juga ekstrim pada saat itu. Gue denger lagu ini masih SD kayaknya. Buat gue saat itu, untuk band Indonesia, lagu ini sangar banget,” ujar Ade Himernio, gitaris Noxa.

Menjilat Matahari (album “Raksasa”, 1989)

Lagu ini dibuka dengan intro khas dari permainan kibor mendiang Jockie Surjoprajogo yang megah dan lebar, yang seolah menjadi gerbang menuju laju musik yang kencang dan mengentak. Saat lagu ini dirilis, penggemar God Bless diperkenalkan pada warna baru musik mereka, yang antara lain dipengaruhi sentuhan permainan modern dari gitaris Eet Sjahranie – pengganti Ian Antono saat itu – yang cenderung lebih teknikal.

Srigala Jalanan (album “Apa Kabar?”, 1997)

Untuk pertama kalinya, God Bless menerapkan konsep dua gitaris di lagu ini (dan di albumnya secara keseluruhan). Lahir dari masa transisi God Bless, dimana Ian Antono akhirnya setuju kembali bergabung di formasi God Bless, berdampingan dengan Eet Sjahranie. Konon, menurut Eet, riff utama lagu ini dibangun dari gagasan yang tadinya disiapkan Eet untuk Edane.

Jikun, gitaris /rif menilai formasi dua gitaris Ian Antono dan Eet Sjahranie di lagu tersebut menghasilkan sebuah komposisi rock yang sangat gila. “Ibarat minum bir langsung tenggak nggak pakai jeda sampai habis, menyatukan dua (permainan) solo gitar yang punya warna masing-masing, Om Ian yang melodius dan (efek) delay-nya, (lalu) disambut Om Eet dengan speed ghost stroke – istilah ini saya bikin sendiri karena bunyinya kayak setan nyamber. Oh iya, beberapa kali ketemu (Eet) selalu saya tanyakan (tentang) teknik itu tapi nggak pernah dijelasin oleh Om Eet. Kedua permainan mereka seperti mau ngasih tahu kepada gitaris-gitaris muda, ‘Diam kau! Nikmati saja permainan kami!’ Selamat ulang tahun God Bless, tanpa kalian saya nggak akan jadi gitaris dan ngeband. Sungkem!”

Sesat (album “Huma di Atas Bukit/God Bless”, 1975)

Versi asli lagu ini dibesut dengan komposisi bernuansa funky, didominasi dialog atraktif antara permainan gitar Ian Antono dengan permainan organ Jockie Surjoprajogo yang kaya warna, dan kental akan nuansa rock enerjik era ‘70an. Pada 1990, “Sesat” sempat didaur ulang oleh formasi Ahmad Albar, Jockie Surjoprajogo, Donny Fattah, Teddy Sujaya dan Eet Sjahranie dengan pendekatan yang lebih modern, dan termuat di album “The Story of God Bless”.

Musisi (album “Cermin”, 1980)

Salah satu karya God Bless yang terbilang rumit, sangat mewakili konsep albumnya yang dirancang lebih progresif. Ian Antono mengakui penggarapan album ini memang disengaja menumpahkan totalitas mereka, sebagai pembuktian musikalitas para personel God Bless saat itu. Seperti halnya “Sesat”, lagu ini juga sempat didaur ulang di album “The Story of God Bless”. Bahkan pada 2017 lalu, God Bless merekam ulang keseluruhan album “Cermin”, termasuk “Musisi” plus tambahan tiga lagu baru.

Maret 1989 (album “Raksasa”, 1989)

Album “Raksasa” lumayan banyak didominasi lagu bertempo cepat dengan pendekatan aransemen yang modern di era itu. Selain “Menjilat Matahari”, lagu ini juga menerapkan formula yang kurang lebih sama, dimana permainan riff-riff gitarnya terdengar lebih menonjol dan menggigit. Dan di lagu ini pula kita menikmati masa puncak Ahmad Albar, saat tarikan vokalnya masih sangat bertenaga dan lantang.

Eet Sjahranie menyebut “Maret 1989” sebagai salah satu lagu yang bertempo cepat, namun mempunyai kelebihan dimana sentuhan heaviness di lagu tersebut tetap bisa terjaga. Karena menurut Eet, ia merasa lagu bertempo cepat biasanya cenderung terdengar lebih enteng. “… since there isn’t space to express the heaviness…!”

Sebenarnya, dari album “Raksasa” Eet juga menjagokan lagu “Emosi” jika merujuk master rekaman yang seharusnya (bisa didengarkan di rilisan kaset edaran pertama). Namun sayangnya, album fisik (CD) versi remastered yang diedarkan label Logiss Records selama ini, menurut Eet, dicomot dari master rekaman yang salah. “So dissapointed. I hate it!” 

Semut Hitam (album “Semut Hitam”, 1987)

Lagu enerjik anthemic yang sangat kental akan vibrasi positif dan terdengar menyenangkan, baik di tuturan lirik maupun garapan komposisinya. Salah satu lagu wajib yang selalu berkumandang di setiap panggung God Bless, dimana penonton pasti tergoda untuk ikut bernyanyi bersama. Dan buat Ian Antono, karya ciptaan Jockie dan Donny Fattah ini adalah salah satu lagu favoritnya.

“Kenapa saya suka ‘Semut Hitam’, karena lagu ini… ya kalau God Bless main di mana pun selalu diminta (penonton). Dan saya perhatiin, sebetulnya ‘Semut Hitam’ itu beat-nya gampang, dan liriknya sepanjang jaman ya… semut itu kan gotong royong, pagi berangkat cari makan, pulang bareng, gotong royongnya yang kuat. Dan itu… orang biasa pun gampang mengerti dan (juga) gampang mengikuti nada-nadanya,” ungkap Ian Antono kepada MUSIKERAS, lewat rekaman video singkat yang dikirim ke redaksi.

Sang Jagoan (album “Raksasa”, 1989)

Lagu ini terdengar seolah mengulang formula yang ada di lagu “Trauma”, baik dalam hal tempo, maupun kegelapan tema di liriknya. Kekerasan dunia jalanan diumbar di liriknya, yang lantas disampaikan dalam komposisi yang melaju cepat dan ingar-bingar.

Kehidupan (album “Semut Hitam”, 1987)

Salah satu nomor anthem yang kembali menancapkan wibawa God Bless di panggung rock Tanah Air, setelah nyaris tanpa aktivitas berarti sejak merilis “Cermin” pada 1980 silam. Komposisi yang dianyam dengan kombinasi instrumentasi paling adil dan seimbang dari setiap personel, tanpa terdengar berlebihan, dan menjadikannya sebagai salah satu hit terpopular God Bless sepanjang masa.

Arian 13 adalah salah satu musisi yang menyebut “Kehidupan” sebagai lagu God Bless yang paling berkesan buatnya. Jika tidak salah, vokalis unit rock Seringai ini pertama kali mendengar lagu “Kehidupan” di acara Aneka Ria Safari yang ditayangkan stasiun TVRI menjelang akhir era ‘80an. Sebelumnya Arian hanya sebatas tahu Ahmad Albar karena perannya di dunia film, tapi tak pernah memperhatikan bandnya.

“‘Kehidupan’ mempunyai bassline yang catchy banget, di situ awalnya gue tertarik. Pada akhirnya satu lagu itu catchy banget buat gue, dan akhirnya gue minta ke bokap untuk membelikan kasetnya di sebuah toko kaset langganan kami dulu, Toko Tengah di Dago, Bandung. Sejak itu, album ‘Semut Hitam’ nampaknya tidak pernah keluar dari pemutar kaset gue untuk beberapa lama.”   

Prahara Timur Tengah (album “36Th”, 2009)

Rasanya tak adil tanpa menyelipkan satu komposisi dari album yang digarap formasi Ahmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah, Abadi Soesman dan dramer Yaya Muktio ini. Memang dari sudut komersil, bisa dibilang album ini tak mampu berbicara banyak, tapi bukan berarti lagu-lagu di dalamnya berada di bawah standar. Dan lagu “Prahara Timur Tengah” ini – selain “NATO” dan “Biarkan Hijau” – adalah bukti kepiawaian God Bless dalam meramu lagu berkadar rock, sekaligus heavy. (mudya mustamin/MK01)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY