HATHGONE Geber “Broken Psalm”, Karya Awal untuk Skena Hardcore Punk

Pandemi Covid-19 banyak sekali menghambat aktivitas musisi di seluruh dunia. Termasuk trio hardcore punk asal Bandung ini. Tadinya mereka berniat menggarap sebuah album mini (EP), dimana keseluruhan material lagunya bisa dibilang sudah rampung hingga 70%. “Semoga dalam satu atau dua bulan ke depan kami sudah bisa lagi masuk ke studio untuk mengeksekusi material tersebut,” ujar Dimas ‘Dritt’ Saputra, vokalis Hathgone kepada MUSIKERAS, berharap.

Kendati demikian, sebuah single pemanasan bertajuk “Broken Psalm” telah mereka letupkan belum lama ini. Di karya rekaman debut tersebut, Dimas, Ridwan Ariansyah (gitar) dan Farhan Naufal (bass) melebur beberapa elemen sederhana dalam olahan musiknya, meliputi hardcore punk, crust, sampai metal, yang diniatkan Hathgone untuk menggerus gendang telinga usang para pendengarnya.

“Sampai urusan genre (kami) tidak mematok kepada satu jenis musik tertentu, melebur apa pun jenis musik yang kami sukai. Ya, sebuah crossover. Kami tidak mau ambil pusing mematok sebagai genre ‘a’ atau ‘b’. Sebuah hal yang tidak lagi relevan untuk hari ini, ya, karena memang influens-nya datang dari segala musik yang kami dengarkan dengan berbagai selera masing-masing, yang notabene bermacam-macam jenisnya. Namun, jika bicara roots, ya, boleh disederhanakan sebagai hardcore punk.”

Proses produksi “Broken Psalm” sendiri menguras waktu yang cukup lama bagi Hathgone, karena dilakukan selama dua sesi dengan jarak waktu yang lumayan jauh. Direkam di Funhouse Studio oleh EDZ pada September 2019 dan Februari 2020, lalu lanjut ke tahapan mixing dan mastering yang dieksekusi oleh Alikbal Rusyad di The Pandora Labs.

“Sebenarnya proses pembuatan materi, produksi, sampai post-produksi berjalan lancar-lancar saja. Bahkan, tanpa kendala yang terlalu berarti. Namun, kami lebih memilih untuk menjalani secara santai.”

Khusus rekaman untuk isian dram, Hathgone sempat melakukannya sebanyak dua kali lantaran hasil dari rekaman sesi pertama mereka anggap agak kurang memuaskan. “Dan sosok di balik trek dram, kami sangat dibantu oleh Rully Ramdhani dari unit dark hardcore, Ametis.”

Hathgone sendiri terbentuk pada akhir 2019 lalu, dari gagasan tiga musisi yang berasal dari band yang berbeda. Karena satu tongkrongan, maka ketiganya intens bertemu, dan kerap mendengarkan berbagai macam jenis musik yang sama, mulai dari hardcore punk, crust, metal, bahkan pop.

“Akhirnya keluarlah ide dari Ridwan untuk membentuk sebuah band. Tidak ada visi yang terlalu jauh, niatnya hanya bersenang-senang memainkan musik yang kami gemari. Nama Hathgone dipilih pun tidak memiliki makna yang terlalu filosofis, hanya karena keren untuk dilihat dan dibaca… hahaha!” (aug/MK02)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *