Di sela kegiatan promosi karya rekaman terbaru bandnya, Burgerkill yang bertajuk “Killchestra”, gitaris Agung Hellfrog memanfaatkan kesempatan untuk mewujudkan dirilisnya video musik untuk single solonya, “Revelation Dreams”. Stok gambar di video yang mulai ditayangkan hari ini itu sendiri diabadikan saat Burgerkill menjalani tur di daratan Eropa.

Komposisi “Revelation Dreams” yang diproduseri Agung bersama gitaris tandemnya di Burgerkill, True ‘Eben’ Megabenz itu sendiri sebenarnya bukan karya baru. Sebelumnya, lagu berkontur metal dengan format instrumental tersebut sudah pernah dirilis dalam sebuah album kompilasi gitaris berjudul “Nothing But Guitar 2” pada awal 2015 lalu. Dan di ajang AMI Awards 2015, “Revelation Dreams” berhasil meraih dua penghargaan di kategori “Karya Produksi Metal”, yakni “Produser Terbaik” serta “Artis Penampil Terbaik”.

Lantas apa yang membuat Agung baru sekarang bisa mewujudkan video musik untuk “Revelation Dreams”?

“Sebetulnya dari dulu pengen rilis (lagu) ini, khususnya video klipnya. Dan memang syutingnya juga udah dari tahun 2018 lalu. (Tapi) Dari proses editing-nya lumayan banyak kendala, sempat pindah editing, dan akhirnya baru bulan lalu fix dengan konsepnya,” urai Agung kepada MUSIKERAS, mengklarifikasi.

Walau berselang kurang lebih lima tahun sejak lagu tersebut diperdengarkan pertama kali, namun Agung mengaku sama sekali tidak melakukan perubahan di “Revelation Dreams”. Ia tetap menggunakan master rekaman yang sama.

“Kalau pun nanti ada perubahan, lagu ini akan saya masukin ke materi album solo. Tentunya, semua isian secara sound dan teknik rekaman akan diubah. Misalnya dram akan pakai yang organik, pakai ampli gitar beneran, sebagaimana rekaman yang semestinya. Kalau yang versi di ‘Nothing But Guitar’ itu banyak melibatkan (perangkat) virtual, (efek) plug-in… untuk album akan dikerjain dengan proses yang proper,” cetusnya meyakinkan.

Dari segi musikal, Agung menyebut “Revelation Dreams” pada dasarnya adalah sebuah komposisi metal seperti umumnya, namun disajikan tanpa vokal. Ia mengibaratkan kurang lebih seperti lagu-lagu dari band Arch Enemy, yang dihilangkan isian vokalnya.

“Di sini ya saya ganti aja nada-nada vokalnya dengan gitar, dan banyak masukin unsur harmoni, nada-nadanya lebih melodius…. Dan walaupun bisa dibilang musiknya metal, namun secara influence, saya banyak juga masukin pengaruh dari gitaris-gitaris yang bukan metal, kayak Vinnie Moore dan Joe Satriani, lalu Marty Friedman atau yang modern kayak Jeff Loomis, yang bisa dibilang paling menginspirasi saya waktu penggarapan lagu ini. Kurang lebih seperti itulah…. Tapi dari segi lick dan komposisi, banyak juga pengaruh atau inspirasi dari gitaris-gitaris era ‘80an dan ‘90an.”

Selain “Revelation Dreams”, kepuasan lain yang dirasakan Agung Hellfrog saat ini, ya apalagi kalau bukan dirilisnya album mini (EP) “Killchestra”, karya rekaman terbaru Burgerkill, dimana band asal Ujungberung, Jawa Barat ini menyuguhkan kolaborasi peleburan musik metal dan orkestra dengan Czech Symphony Orchestra, sebuah kelompok orkestra dari Praha, Republik Ceko.

“Killchestra” yang telah dirilis sejak 19 April 2020 dalam jumlah terbatas tersebut menyuguhkan enam buah lagu Burgerkill yang telah diaransemen sedemikian rupa untuk menyesuaikan dengan kebutuhan orkestra, yaitu “Anjing Tanah”, “Penjara Batin”, “An Elegy”, “Only the Strong”, “Angkuh” dan “Tiga Titik Hitam”. Di EP ini, Burgerkill bekerja sama dengan Alvin Witarsa untuk pengolahan aransemennya.

Bagi Agung, “Killchestra” adalah sebuah karya membanggakan, sebuah pencapaian ide ‘liar’ yang ia yakini juga banyak diimpikan banyak musisi. Khususnya dari ranah rock dan metal. Banyak yang mendambakan mempunyai album dengan konsep yang menyatukan musik cadas dengan orkestra. Bahkan di panggung level global, konsep seperti ini sudah diwujudkan oleh band-band besar seperti Metallica hingga Behemoth.

“Itulah kebanggaan yang paling mendasar buat saya, ternyata saya (dan Burgerkill) bisa juga punya karya yang disatuin dengan orkestra,” seru Agung semangat.

Proses penggarapan “Killchestra” sendiri menghabiskan waktu yang tidak sebentar. Prosesnya telah berlangsung sejak 2013 silam, melalui masa-masa meeting untuk menggodok ide-idenya, lalu bertemu dengan pihak sponsor dan seterusnya. “Jadi udah panjang banget prosesnya, sampai akhirnya kami berangkat ke Ceko untuk rekaman orkestranya di sana. Itu juga ngasih pengalaman yang menarik, membanggakan dan tentunya menyenangkan buat saya.” (mdy/MK01)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY