“Lewat musik instrumental kita bisa membuat pendengar menentukan story dalam imajinasi mereka, salah satunya adalah ‘obat’, ibarat kata, musik bisa jadi poison, tapi juga bisa jadi obat.”

Kalimat di atas dilontarkan oleh Yuris Becker, gitaris sekaligus pendiri unit progressive metal asal Yogyakarta, Jawa Tengah ini, berkaitan dengan peluncuran single terbaru mereka yang berformat instrumental, “The Gate”. Di komposisi ini, Yurie ingin menciptakan sebuah lagu yang bersifat ‘kesembuhan kepada penderita mental illness atau mental disorder’.

“Kalo lu dengerin lagu yang patah hati dan itu related sama lu, maka lu bakalan ikut mental down, itu adalah poison. Dan kalo mental lu lagi down maka lu perlu obat. ‘The Gate’ bisa jadi salah satu obatnya. Inilah (alasan) kenapa gue nyiptain lagu ini, agar mengubah perspektif orang-orang, dimana lagu instrumental yang biasanya dicap sebelah mata, juga bisa jadi obat atau self healing. Apalagi dibalut dengan genre progressive metal, how it works? Silakan dengar lagunya 2-3 kali maka barulah lu bisa ngerasain. Kalo cuma sekali denger ya cuma skip aja ending-nya, nggak bakalan berarti apa-apa,” beber Yurie kepada MUSIKERAS, berusaha meyakinkan.

Ia lantas menambahkan, bahwa lebih dari 18 orang menangis setelah mendengarkan lagu ini, dan ada juga yang malah makin bersemangat. Dan menurut Yurie itu mungkin berkaitan dengan keadaan para pendengarnya itu.

“Bukan salah pendengarnya. Mungkin mereka yang nangis adalah para pendengar yang jujur untuk mencari solusi magis di lagu ini, alhasil mewek deh. Mereka bilang makasih udah nyiptain lagu ini. Yurie bilang; nggak perlu berterima kasih. Kenapa? Kami yang harusnya berterima kasih kepada kalian, karena kalian udah jujur ungkapin hati kalian lewat lagu ‘The Gate’ ini. ‘The Gate’ kan artinya gerbang, ini dianalogikan sebagai jalan keluar. Mudah-mudahan siapa pun yang mendengarkannya bisa mewakili perasaan kalian yang sedang buntu dan mencari jalan keluar.”

Yurie Becker, Ridha Andrianto (dram) dan Saiful ‘Ipul’ Anwar (bass) menggarap “The Gate” dalam waktu yang cukup lama, dimulai sekitar Desember 2019 hingga April 2020 lalu. Salah satu masalahnya karena produser mereka, yakni Aditya Rizki dari Adrina Music Studio perlu melakukan riset terlebih dahulu untuk mencari karakter sound yang pas. Selain itu, ditambah pula adanya masa pandemi Korona sehingga sedikit membatasi ruang gerak mereka dalam perampungannya.

“Perjuangan yang panjang dan melelahkan dimana masing-masing personel harus mencari ide yang cukup untuk lagu yang digadang-gadang sebagai ‘obat’ ini. Mixing, riset sana-sini, sampai mastering dihajar terus-terusan. Tapi akhirnya terbayarkan juga di akhir April lalu. Kami bertiga merasa puas dan lega sudah menyelesaikan tugas yang panjang ini, hanya untuk sebuah single. Akhirnya ‘The Gate’ rilis pada 1 Mei 2020, tepat pukul 12 malam, dan pas banget momennya sama Hari Buruh Dunia. Ya sebagai buruh seni kami merasa terwakili juga oleh momen itu.”

Dari sisi musikal, Mercusuar meramu “The Gate” dengan mengandalkan sumber inspirasi yang beragam, yang dibawa oleh masing-masing personel. Bahkan mereka menyebutnya agak menyimpang dari genre Mercusuar. Misalnya, Yurie lebih suka mendengarkan orkestra, lalu Ipul lebih ke math rock, sementara Ridha malah ke death metal. Tapi mereka percaya bahwa inilah karakter Mercusuar, yang dibentuk dari kesepakatan menganut progressive metal yang juga diberi sentuhan unsur djent agar lebih kekinian. Jadilah olahan musik yang mengandung serapan dari berbagai referensi musisi yang mereka dengarkan, seperti Hans Zimmer, Thomas Bergensen, Bernard Herrmann, John Williams, Allan Holdsworth hingga band-band cadas macam Fleshgod Apocalypse, Spawn of Posession, Necrophagist dan Our Oceans.

Memainkan progressive metal, bagi band yang terbentuk pada 2012 silam ini memberikan kenikmatan tersendiri buat mereka. Karena alasannya, bisa dibawa ke mana saja, tidak terbelenggu oleh genre tertentu. “Selama berani memberikan bumbu genre apa pun sih, tabrak sana-sini, mau dikasih dangdut koplo sampe jazz sekalipun kalo itu pas ya keren aja. Bukankah itu makin kaya tuh hasilnya? Memang garis besarnya harus ada metalnya, karena selain identitas, biar kelihatan keren juga… hahaha. ‘Music makes you braver’, kata Thomas Bergensen!”

Oh ya, “The Gate” sendiri merupakan single kedua Mercusuar setelah “Periodic” yang dilepas pada 2018 lalu. Kedua single tersebut merupakan pemanasan menuju perilisan album album mini (EP) yang dicanangkan bisa rilis tahun ini. “Doakan saja Juli atau Agustus 2020 bisa kelar dan terealisasikan!” Amin. (aug/MK02)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY