Dua unit hardcore-punk asal Bandung, Jawa Barat ini sepakat berbagi karya dalam sebuah album mini (EP) split bertajuk “Svbaltern” pada pertengahan Mei 2020 lalu sebagai kontribusi untuk memeriahkan geliat musik ‘bawah tanah’. 

Tidak tanggung-tanggung, The Animal That Therefore I Am (TATTIA) dan Katastrov merilis “Svbaltern” secara gratis, dan memang diproduksi dalam jumlah terbatas. Hanya sebanyak 100 keping CD dan kaset. Alasan mereka sederhana; bukan karena semata-mata ingin menjadikan EP tersebut menjadi sesuatu yang terbatas dan eksklusif, tapi lebih karena persoalan dana.

“Ya, maklum band bawah tanah seperti kami kan selalu berhadapan dengan persoalan ekonomistik. Dan kami sebisa mungkin berusaha mandiri dan berkolektif,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, terus-terang.

Selain itu, “Svbaltern” dibagikan gratis karena menurut kedua band, sebenarnya tak ada juga yang bisa dikatakan spesial dari EP mereka tersebut. “Kalau pun harus berpretensi ada, seperti memberikan gagasan yang segar, itu hanya dari segi musiknya saja. Dan itu udah biasa, bukan sesuatu yang baru. Karena itu kami bagikan secara cuma-cuma, selain kami ingin memberi secuil kontribusi bagi permusikan ‘bawah tanah’.”

Tujuan lain TATTIA dan Katastrov merilis “Svbaltern” adalah sebagai upaya mereka untuk menanggapi situasi sosial-politik yang telah terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Tentu saja, mereka menyadari bahwa apa yang mereka lakukan mungkin tidak akan banyak berkontribusi pada perubahan sosial. Karena bagi mereka, musik bukanlah mesin perubahan sosial, tetapi hanya sebagai media ekspresi yang mencerminkan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dan “Svbaltern” adalah simbol perlawanan terhadap semua bentuk sistem represif.

Dan sebagaimana semangat band-band hardcore-punk pada umumnya, TATTIA dan Katastrov juga ingin menyuarakan kegelisahan, kemarahan serta kemuakan mereka atas semua yang terjadi di kehidupan sehari-sehari mereka akibat sistem ekonomi-politik yang timpang dan represif. Itulah alasan mereka memilih nama ‘Svbaltern’ sebagai judul EP.

“Istilah ‘Svbaltern’ sangat mewakili musik atau seluruh ide kami yang tertuang dalam split EP ini, dan istilah ini bukanlah sesuatu yang asing dalam peristilahan filsafat dan politik di kita. Istilah ini kami petik dari salah satu pemikir Italia, Antonio Gramsci dan kemudian dipopulerkan kembali oleh pemikir kontemporer India, Gayatri Spivak. ‘Svbaltern’ menjadi lambang, sebuah simbol resistensi dari hasrat kami yang selama ini direpresi oleh segala bentuk kekuasaan.”

Proses penggarapan “Svbaltern” keseluruhan terbilang cukup lama, lebih dari satu tahun setengah, yang dimulai sejak akhir 2018 hingga awal 2020. Tadinya, oleh TATTIA, EP tersebut rencananya hanya dirilis sebagai ‘single match’, bukan sebagai split EP. Tapi karena ada kendala, akhirnya mereka memutuskan menjadikannya sebagai proyek bersama dengan Katatstrov. Seluruh lagu kami direkam di studio yang berbeda-beda. Katastrov merekam materi lagu-lagunya di Funhouse studio, sedangkan TATTIA di studio milik rekan mereka, di Hometrack untuk gitar dan di Teargas.

“Dalam proses perilisan split EP ini, nggak selamanya berjalan mulus. Tentu sangat tidak mudah untuk merangkum dua spirit atau ide dari kedua band yang memilik latar belakang atau kultur yang berbeda. Selalu ada perbedaan. Tapi perbedaan itu nggak terlalu mencolok atau tajam. Kebanyakan sih dari segi teknis. Kalau dari segi ide, secara garis besar, kami punya misi atau semangat yang sama. Sehingga perbedaan yang terjadi selalu bisa diatasi. Dan kami sendiri bersyukur, karena TATTIA sebagai newcomers, banyak mereguk pengalaman dan pembelajaran berharga dari perilisan split EP ini. Kami banyak belajar dari kawan-kawan Katastrov yang telah lama berkecimpung dalam dunia musik bawah tanah, dan telah lebih dulu menerbitkan album mini.”

Oh ya, sedikit menengok latar belakang kedua band. The Animal That Therefore I Am mulai menggeliat di skena ‘bawah tanah’ pada 2018 lalu di Bandung. Band yang kini dihuni formasi Catur Kondo Sunyoto (vokal), Satria Wiguna (gitar), Dedi Sahara (bass) dan Mukti Prakesha (dram) ini sempat merilis single “Godzilla In Mexico (Roberto Bolaño)” saat masih diperkuat Hilman, dramer sebelumnya. Nama ‘The Animal That Therefore I Am’ sendiri diambil dari judul buku karya Jacques Derrida, dimana isi buku dan sosok pengarang buku tersebut menjadi alasan utama mereka memilih nama tersebut.

Katastrov yang diperkuat Roma Maleakhi (vokal),  Arief Sulaimansyah (gitar) dan Satria Gustian (dram) sendiri sudah lebih dulu menancapkan eksistensinya di skena hardcore dibanding TATTIA, tepatnya sejak Juni 2016. Nama ‘katastrov’ mereka ambil dari kata ‘catastrophe’ yang artinya bencana, dan dipilih sebagai representasi dari materi musik dan lirik yang bernuansa apokaliptik. Dari suara distorsi gitar yang berat dan tebal, karakter vokal yang berteriak frantik dan emotif serta gebukan dram yang terdengar besar dan luas. Musik Katastrov banyak terinspirasi dari band-band hard rock atau proto-metal seperti Black Sabbath dan Motörhead yang dicampur dengan riff gitar sederhana dan ketukan dram khas punk/hardcore macam Discharge atau Doom dengan balutan sound gitar yang gahar dan kasar ala band death metal Swedia di awal ’90an seperti Entombed dan At the Gates.

Setelah perilisan EP  “Svbaltern”, TATTIA dan Katastrov akan berkonsentrasi menyiapkan ‘movement’ untuk membuat EP mereka tersebut dapat diterima dan didengarkan oleh khalayak luas, khususnya di skena musik cadas ‘bawah tanah’. (mdy/MK01)

Daftar lagu “Svbaltern”: (1) Surga Imajiner (Katastrov), (2) Kami Tak Bicara Dengan Bahasa Surga (The Animal That Therefore I Am), (3) Manusia (Katastrov), (4) Anti-oedipus / Bagaimana Kami Tak Lagi Menghasrati Represi (The Animal That Therefore I Am), (5) The Subaltern Is What Resists Symbolization Absolutely (The Animal That Therefore I Am)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY