Oke, pertama-tama yang harus ditegaskan, MUSIKERAS bukan media gosip, apalagi gosip murahan. Walau band ini dibentuk oleh salah satu selebritis paling kontroversial di jagat dunia hiburan nasional, namun tentunya kami tidak akan menyentuh area itu. Lagi pula, vokalis Kudeta, Vicky Prasetyo ini rupanya punya talenta yang mengerikan di kancah permetalan. Bukan ‘kaleng-kaleng’!

Ya, sejak kemunculan Kudeta di skena musik keras Tanah Air, mereka langsung diserbu sorotan metalheads. Tak sedikit yang meragukan dan menganggapnya cari sensasi. Tapi kenyataannya, sepak terjang band ini terus bergulir dan berhasil membuktikan kecadasannya. Bahkan kini, tanpa banyak basa-basi, band yang juga diperkuat formasi Aank Omi Mastin (gitar), Andi Cakra Manggabarani (gitar), Iyus ‘Manyun’ Sutangga (bass) dan Rifki13 (dram) ini sudah melahirkan dua karya rekaman.

Single pertama, yakni “Revolusi Jiwa” telah diluncurkan sejak 14 Desember 2019 lalu, kemudian menyusul yang terbaru, “Menang Atau Mati (Pandemic)” yang telah tayang di kanal YouTube milik Vicky, pada 16 Mei 2020 lalu.   

Menurut Kudeta seperti yang dituturkan kepada MUSIKERAS, proses penggarapan single rekaman mereka tersebut sangat seru. Karena tidak tanggung-tanggung, Kudeta langsung melibatkan Agung Hellfrog, salah satu musisi dari band metal paling tangguh di Indonesia, Burgerkill. Andil Agung di sini adalah sebagai pengarah musik (music director).

“Kami memang ingin diarahkan oleh figur besar di skena ini. Sebelumnya musik dan lagunya sudah jadi dan kami sudah sering membawakannya secara live di beberapa gigs, sampai akhirnya setahun kemudian kami bertemu dengan Agung Hellfrog. Kami rekaman di (studio ST12) Bandung dan prosesnya nggak lama karena sebelumnya kami ada workshop selama sebulan, sebelum masuk ke dapur rekaman,” ungkap pihak band menjelaskan.

Pemilihan Agung sendiri dianggap selaras dengan konsep musik Kudeta sendiri, yang tidak jauh-jauh dari referensi metalcore dan thrash metal, yang banyak dipengaruhi oleh band-band dunia seperti Caliban, Lamb of God, Avenged Sevenfold dan tentunya, Burgerkill. Dan terbukti, hasil akhirnya membuktikan performa single yang lebih apik.

“(Agung) Bisa menjadikan musik kami lebih rapi, lebih dinamis dan tentunya lebih powerful, karena dari tangan Agung banyak figur baru dan pattern dram yang ditambahkan, sehingga musik kami lebih tight dan jadi lebih melodik juga tentunya!”

Setelah “Revolusi Jiwa” dan “Menang Atau Mati (Pandemic)”, Kudeta rencananya bakal melanjutkan proses penggarapan album mini (EP) pertamanya, yang sempat tertunda akibat terhadang Covid-19. Bahkan kini tahapan produksinya, atau tepatnya proses perekaman isian instrumennya, sudah mencapai 70%. Menurut pihak band, hampir bisa dipastikan EP debut mereka tersebut bakal diberi judul “Pandemic”, karena digarap di tengah terjangan wabah global Korona.

So, doakan ya para Metalheads, semoga cepat rilis dan kita akan segera launching party… Amin,” cetus pihak band semangat.

Pergerakan menuju terbentuknya Kudeta sendiri dimulai sekitar Maret 2018 oleh Aank Omi dan Vicky, yang sebelumnya sering ngepunk dan main bareng di Cikarang semasa SMA. Keduanya lantas bertemu dengan Manyun dan mulai sering membawakan lagu-lagu metal di berbagai pentas ‘bawah tanah’ berskala komunitas. Singkat cerita, manajer mereka, Ari Dote lalu merekomendasikan Cakrabarani, gitaris potensial asal Makassar untuk memperkuat formasi Kudeta. Lalu dari rekomendasi Agung Hellforg, Kudeta juga merekrut Rifki13 (Tujuh Kurcaci) untuk bergabung. (mdy/MK01)

.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY