Sejak terjadi pergantian formasi di November 2019 lalu, unit groove metal asal Surabaya, Jawa Timur ini pun seperti menemukan karakter musikal mereka yang sesungguhnya. Perbedaan latar belakang dan selera musik para personel barunya justru menghasilkan penyatuan yang memuaskan buat mereka, seperti yang tertuang lewat single perdananya, “Dogma Jiwa” yang telah diluncurkan sejak Maret 2020 lalu.

“Formasi baru ini cukup unik karena kami semua benar-benar berangkat dari aliran yang berbeda-beda satu sama lain,” cetus gitaris Aloysius ‘Loys’ Andre kepada MUSIKERAS, mewakili rekan-rekannya di band.

Loys sendiri banyak menyerap inspirasi dari band-band cadas seperti Bullet For My Valentine, Sepultura dan Megadeth. Gitaris Rendy Etika Putra adalah fans berat Spawn of possesion, dan dramer Danang Efendi adalah penggemar abadi Chris Adler (eks Lamb of God). Sementara bassis Akmad ‘Ipong’ Irvan, sangat mengidolakan Billy Sheehan (Mr. Big/Sons of Apollo) dan sudah terbiasa membawakan lagu-lagu Mr. Big saat ‘ngamen’ di cafe-cafe. Sehingga hasilnya, pada bagian chorus “Dogma Jiwa”, Nazgul menurunkan tempo lagu dengan bermain lebih soft untuk menghadirkan nuansa ‘manis’ dan terdengar lebih ear catchy. Tepatnya di part sebelum melodi utama. Sebelumnya, konsep awal “Dogma Jiwa” yang dibuat gitaris Rendy tidak melibatkan part ‘lembut’ tersebut.

Secara keseluruhan, lebih jauh Loys juga menegaskan bahwa musik yang dimainkan Nazgul di single “Dogma Jiwa” bisa dibilang tidak murni metalcore seperti yang mereka harapkan sebelumnya. “Karena ada beberapa riff yang groove-nya seperti Lamb of God, tapi ada sedikit sentuhan hard rock.”

Penggarapan “Dogma Jiwa” dimulai Nazgul sejak Desember 2019, yang diawali dari pembuatan alur lagu hingga mixing. Loys, Rendy, Danang, Ipong dan vokalis Egypta Ulayya Izzaz merampungkannya dalam waktu kurang lebih dua bulan. Menurut pihak band, proses tersebut agak lama karena personel Nazgul baru bergabung semua, mulai dari dramer, bassis dan gitaris.

“Yang tetap dari awal adalah saya dan si vokalis, Egypt. Jadi bisa dibilang ini adalah formasi dari nol,” ujar Loys menegaskan.

Jadi yang mereka lakukan pertama kali saat personel baru tersebut bergabung adalah menjajal lagu-lagu dari Lamb of God, seperti “Laid to Rest”, “Omerta” dan “Walk with Me in Hell” di studio. Setelah menemukan kenyamanan dan mendapatkan groove-nya, barulah mereka mulai mencoba membuat lagu.

“Untuk prosesnya, single ‘Dogma Jiwa’ ini diawali dari riff yang dibuat oleh Rendy. Karena ia terbiasa bermain death metal, (jadi) pada awal banyak membuat riff death metal. Tapi karena saya tidak terbiasa bermain death metal, ada beberapa riff yang akhirnya diubah dan disesuaikan dengan kebutuhan lagu, dan teman-teman yang lain setuju. Proses rekaman untuk semua isian gitar, bass dan dram kami lakukan dengan menggunakan software Cubase. Hanya vokal yang kami take di studio Rampage, Surabaya.”

Sekilas tentang Nazgul, band ini diresmikan kelahirannya pada Februari 2017, dimana tujuan awal berdirinya adalah membawakan lagu-lagu milik Bullet for My Valentine. Alasannya, karena seluruh personelnya memiliki kesukaan yang sama. Selain itu, khususnya di Surabaya, belum ada band yang secara spesifik membawakan lagu-lagu dari Bullet for My Valentine. Formasi awal Nazgul dihuni oleh Loys, Dani (Blackjack), Michael (Unique), Abas (Pizzank Rock) dan Putu (Ravenheart). Seiring perjalanannya, terjadi perombakan formasi dengan bergabungnya Egypt (Decepticon), Rendy (Wafat/Fear Inside), Ipong (Legacy) dan Danang (Blindside/Fear Inside).

Setelah single “Dogma Jiwa”, Nazgul langsung meneruskan proses penggarapan lagu kedua dan ketiga. Rencananya, tahun ini Nazgul akan merampungkan empat lagu untuk kebutuhan album mini (EP) yang ingin dirilis segera dalam format fisik. (mdy/MK01)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY