Dalam kehidupan, manusia perlu berani mengambil sikap atau keputusan atas setiap permasalahan hidup yang dilematis. Dan setelahnya, harus meyakini dan berani bertanggung jawab atas keputusan yang diambil, dalam konteks apa pun itu.

Itulah pesan utama unit metalcore asal Malang, Jawa Timur ini lewat single debutnya yang bertajuk “Covenant of Stone”. Judul lagu ini mengandung arti ‘Perjanjian di Atas Batu’, yang mereka ambil dari kisah Nabi Musa pada era Ramses II, khususnya pada peristiwa pembebasan budak Ibrani dan jatuhnya hukuman kepada orang Mesir.

“Kami coba menggambarkan kisah tersebut melalui lagu ini dengan menggambarkan sudut pandang percakapan atau dialog antara Nabi Musa dengan Tuhan,” tutur pihak band. “Secara garis besar, bermula di mana Nabi Musa memiliki keraguan atas dirinya yang dipilih sebagai utusan dan setelah melewati perbincangan degan Tuhan, akhirnya Nabi Musa menerima dan memiliki keberanian untuk kembali ke Mesir sebagai Nabi.”

“Covenant of Stone” sendiri digeber dengan semangat metalcore yang kental, yang diakui pihak band banyak terpengaruh olahan band-band dunia seperti Polaris, Architects, Periphery hingga Northland. Apa yang menarik dari konsep band-band tersebut di mata Pacificmyth?

“Yang pasti karena musikalitas atau genre (mereka) satu frekuensi dengan kami,” cetus Pacificmyth kepada MUSIKERAS, beralasan.

Selain itu, lanjut mereka lagi, band-band itu pula yang paling mempengaruhi para personel Pacificmyth; Ardy Agil Utama (vokal), Indra Sukma (gitar), Unda Rikmana Dean (gitar), Aryawardhana (kibord) dan Asfa Firosa (dram) dalam penulisan lirik serta isu dan pesan yang ingin mereka sampaikan melalui lagu-lagunya. Dan untuk mendukung konsep tersebut, Pacificmyth menganggap metalcore sebagai genre yang paling tepat untuk melampiaskannya.

“Kami merasa metalcore adalah segmentasi atau genre musik yang paling tepat untuk menyampaikan berbagai sudut pandang pikiran kami, dan juga karena influence kami yang paling dominan adalah dari segmentasi musik metalcore. Selain itu, kami merasa di Kota Malang sendiri masih belum ramai band yang membawakan warna atau genre musik di segmentasi ‘metalcore’ yang bernuansa modern.”

Proses pengerjaan “Covenant of Stone” dimulai pada awal 2019, dan membuthkan waktu sekitar dua sampai tiga bulan untuk merampungkannya. Salah satu faktor yang membuatnya agak lama karena proses rekaman, mixing dan mastering dikerjakan di luar kota, yakni dieksekusi bersama Willy Juno di Wakajzee Studio, Jember. Disamping itu, jadwal produksi juga terhambat kesibukan pekerjaan masing-masing personel.

Pengumpulan materi aransemen “Covenant of Stone” dikerjakan oleh Unda Rikmana yang kemudian dilanjutkan dengan proses penulisan lirik oleh Aryawardhana dan Ardy Agil. Sementara untuk pengisian vokal clean dibantu oleh sahabat mereka, Willdan Antiqta.

Setelah merilis “Covenant of Stone”, Pacificmyth yang terbentuk pada 2015 lalu ini langsung menggenjot proses penggarapan album mini (EP). Secara teknis, mereka kini sedang menjalani proses rekaman untuk vokal dan akan dilanjutkan mixing dan mastering di Wakajzee Studio. Selain itu, secara paralel mereka juga melakukan ‘brainstorming’ untuk menentukan tema dan isu yang ingin diangkat dalam EP debut tersebut. (mdy/MK01)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY