Di Indonesia, di sebuah kota kecil yang dikenal sebagai kota santri bernama Pasuruan, Jawa Timur ternyata bersemayam sebuah unit death metal unik. Hysteroctomy – nama band tersebut – justru mengedepankan citra religius. Bertolak belakang dengan band-band death metal umumnya yang identik dengan lirik-lirik lagu tentang depresi, kritik spiritualitas, atau segala hal yang berkaitan dengan kengerian.

Baru-baru ini, band yang hanya diperkuat dua personel inti, yakni Muhammad Aldi Arifin a.k.a. Aldi Tacul (vokal) dan M. Bagus Kuncoro Adi a.k.a. Bagus Saprol (gitar) baru saja merilis demo lagu bertajuk “Umar“. Sebuah karya rekaman yang bercerita tentang Umar Bin Al-Khattab, seorang panglima perang pada masa kejayaan Islam masa lalu. Hysteroctomy sangat mengagumi sosok Umar hingga membuatnya dalam sebuah lagu, yang memberikan gambaran sejarah tentang siapa sosok Umar itu. Untuk diketahui, Umar Bin Al-Khattab merupakan sahabat Nabi Muhammad, yang juga ayah Hafshah, istri Nabi Muhammad. Umar Bin Al-Khattab adalah seorang Khalifah kedua yang berkuasa kisaran tahun 634 sampai 644.

“Umar adalah panglima perang pada masanya, panglima perang yang sangat cerdas, pemberani dan berwibawa, tentunya banyak dikagumi oleh umatnya atau umat Islam. Referensi kami cukup banyak di agama Islam ini, bisa dari kitab suci Al Quran, dari kehidupan, sejarah, prasejarah, tentunya semua mengangkat Islam,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, menerangkan.

Aldi Tacul menuturkan, alasan mereka membawa konsep Islam dalam musik karena ingin berdakwah di jalur musik cadas. Apalagi, kebetulan kedua personelnya merupakan alumni pondok pesantren di Pasuruan. Dan walau sebagian umat Islam ada yang meyakini musik sebagai sesuatu yang haram, keduanya menganggap itu sebagai hak masing-masing orang untuk melakukan penilaian.

“Yang saya tahu, dakwah itu bisa dari mana saja, bisa bentuk apa saja, dan Hysteroctomy berdakwah dalam musik death metal, dan kami juga pasti akan menunjukkan lirik yang kami jadikan lagu, dalam bentuk video lirik atau semacamnya,” ujar Saprol menegaskan.

Selain lirik, komposisi musik dalam beberapa part di lagu “Umar” pun terdengar bernuansa Timur Tengah, yang dimainkan  dengan tempo cepat ala band death metal legendaris asal AS, Suffocation. Menurut mereka, kali ini konsep mereka memang sedikit berbeda dibanding karya dua lagu sebelumnya, yang sudah dirilis pada 2017 lalu. Dan tahun ini, Hysteroctomy diubah menjadi agak cepat dan brutal.

Saat menjalani proses penggarapan “Umar”, Aldi dan Bagus Saprol sempat mengalami kesulitan lantaran domisili keduanya yang berjauhan. Bagus berada di Malang sehingga merekam semua part gitar dan bass sendiri di Vertuso Studio, Malang. Sementara untuk dram dieksekusi dengan memaksimalkan software MIDI drum. Aldi sendiri merekam vokalnya di Silverzone Music Pasuruan dengan bantuan Reno untuk proses mastering. Keseluruhan proses hanya menghabiskan waktu selama tiga hari.

“Hari pertama Saprol menghabiskan waktu seharian untuk menyelesaikan rekaman gitar 1, gitar 2, bass dan penggabungan sample dram. Setelah itu hari kedua file dikirim, Tacul menyiapkan lirik dan berlatih. Akhirnya di hari ketiga siap untuk rekaman vokal. Tak butuh waktu lama, kurang lebih satu jam lebih selesai.”

Hysteroctomy yang bermakna ‘pengangkatan organ rahim’ terbentuk pada 2015 dan sempat merilis dua lagu bertajuk “Saladin” dan “Jahiliyah” saat masih diperkuat formasi Bagus Saprol, dramer Yahya Ipunk serta vokalis Ja’far Goprak. Sayangnya setelah itu, Hysteroctomy vakum selama dua tahun. Setelah Jafar dan Yahya mengundurkan diri, bergabunglah Aldi Tacul yang menyemangati Saprol untuk terus berkaya dan berdakwah lewat death metal.

Setelah “Umar”, Hysteroctomy sudah menyiapkan album mini (EP) yang rencananya mereka luncurkan secara independen tahun ini juga. (aug/MK02)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY