Karena menolak energi kreativitasnya terhenti di kala pandemi, unit hardcore punk asal Kota Malang ini pun menggarap video live session dan menayangkannya di kanal YouTube. Sebagai pembuka, Apatrides menyodorkan video lagu “Wreck Em’ All “ sebagai persembahan awal.

Rencananya, akan ada empat track yang bakal mereka unggah secara berkala selama tiga minggu ke depan. “Kami ingin sedikit memberikan karya. Dan live session dipilih karena konsep dan gambarannya sudah terencana sejak lama, namun baru bisa dieksekusi pada saat pandemi ini,” cetus pihak Apatrides kepada MUSIKERAS, memberikan alasan.

“Wreck Em’ All” sendiri merupakan salah satu lagu yang termuat di album mini (EP) pertama Apatrides yang bertajuk “Terpasah”, yang telah beredar sejak November 2019 lalu. Liriknya menceritakan tentang perpecahan yang timbul akibat isu SARA, yang berkembang secara masif di tengah-tengah masyarakat.

“‘Wreck Em’ All’ ini merupakan bentuk dari kemuakan kami setelah menyaksikan bagaimana ujaran kebencian ini benar-benar membuat kita lupa akan prinsip-prinsip humanis,” seru dramer Bandhu Manhistha mewaliki rekan-rekan bandnya.

Keseluruhan proyek live session Apatrides direkam pada pertengahan bulan puasa tahun lalu, yang dieksekusi Bandhu, Adam Lazuardi (vokal), Asmi (bass) dan Nando Pamungkas (gitar) di AA Musik Studio, Sawojajar, Malang. Dalam penggarapan teknisnya, mereka dibantu oleh operator yang berpengalaman, Gigih Praseta yang sekaligus memoles mixing dan mastering-nya. Bisa dibilang, menurut pihak band, nyaris tak ada kendala teknis saat proses pengambilan gambar. Kecuali pada saat pengeditan dan pewarnaan video. “Karena ada beberapa data kamera yang corrupt, namun bisa diakali dengan apik oleh sang editor, Adam Lazuardi yang juga merangkap sebagai vokalis kami,” ungkap pihak band lagi.

Setelah penggarapan proyek live session, kini Apatrides juga kembali melanjutkan proses penggarapan album kedua, yang dicanangkan beramunisikan 10 trek. Sejauh ini, mereka telah merampungkan tujuh lagu, dan mengincar awal 2021 sebagai momen perilisan.

Dari sisi konsep musikal, Apatrides menjanjikan bakal ada sedikit pergeseran. Jika pada album pertama nuansa hardcore punk terasa mendominasi, maka di album kedua nanti mereka mencoba mengeksplorasi nuansa thrash metal dan hardcore ’80an model Motorhead, Obituary, Anthrax dan Overkill.

O ya, nama Apatrides yang dijadikan nama oleh band bentukan 2014 ini, secara implisit berarti ‘seseorang yang tak mempunyai status kewarganegaraan’. Namun pemilihan nama tersebut bukan berarti para personelnya tak ingin bernegara atau menjadi warga negara. Karena toh mau tak mau mereka menyadari harus menjadi warga negara yang baik dan menjalankan segala hak dan kewajiban.

“Nama itu sebenarnya dipilih dengan makna satir, (bahwa) jika kami sebagai warga di negara demokrasi akan terus mengkritisi segala penyimpangan yang dilakukan oleh elit politik atau pun masyarakat di luar sana!” (mdy/MK01)

.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY