Pada 8 Maret 2007 silam, unit oldschool hardcore yang terbentuk di Kota Bekasi, Jawa Barat pada 1999 silam ini merilis sebuah album debut bertajuk “One Family”. Bisa dibilang, karya rekaman tersebut diproduksi seadanya, sebagian dalam format kaset serta CD-R yang diduplikasi secara mandiri menggunakan mesin pengganda CD rumahan. Namun karena tak terurus dengan semestinya, album itu pun tenggelam, nyaris tak terdengar gaungnya.

Kemudian waktu pun berlalu tanpa gebrakan lanjutan. Setelah “One Family” dirilis, dalam rentang waktu 13 tahun, sebagian personel Outcast pun menjalani proyek lain di luar bandnya. Bassis Ryzki ‘Keke’ Maulana dan dramer Bondan Julian P. misanya, mereka ikut terlibat dalam formasi band punk rock asal Bekasi, Total Anarchy. Sementara personel lainnya, memilih untuk nyaman menjalani hidup di luar band.

Setelah tampil di gig reuni bersama vokalis awal, Djamal pada 2013, barulah sekitar 2017 Outcast mencoba lagi melakukan jamming session di studio dengan formasi baru, dimana mereka dibantu oleh gitaris Bayu Wirawan dari band Lost Sight dan gitaris Endry Pamungkas dari Tenholes serta vokalis Bhayu Restu P. (No One Rules).

“Kami coba melakukan penyegaran dalam proses kreatif aransemen lagu dan pembuatan lirik. Karena banyak materi lama yang jarang kami bawain juga, ada baiknya album yang pernah kami rilis di 2007 tersebut kami reissue,” beber Keke kepada MUSIKERAS, mengungkapkan.

Hingga pada akhir Juni 2020, Toxic Noise Records memutuskan memproduksi ulang “One Family” dalam format CD yang dimanufaktur dengan kualitas lebih baik dan menyuguhkannya kembali ke skena sebagai penebusan dosa. Album ini berisi 10 trek dengan dominasi geberan hardcore ala New York dengan paduan gaya hardcore skinhead serta subgenre youth crew. Di album ini, Outcast juga menyelipkan satu lagu dari Warzone, berjudul “Brother and Sisterhood” serta sebuah bonus akustik lagu “Keledai Wortel” yang dinyanyikan bersama.

Sedikit menengok ke belakang, proses rekaman untuk album “One Family” diakui oleh Outcast sebagai sebuah kesempatan yang langka. Seperti kebanyakan band punk/hardcore di skena lokal pada akhir era ‘90an, peluang untuk rekaman tidak banyak kendati sering muncul di berbagai kesempatan manggung setiap akhir pekan.

“Beruntungnya kami mendapat kesempatan dan tawaran melakukan sesi rekaman di studio teman dekat kami, Rendi Adi Kartono yang juga mengisi gitar di album tersebut. Diawali dengan satu shift kami selesaikan untuk take dram di Rajawali Studio, sisanya kami bawa ke studio milik Rendi tersebut sampai dengan proses mixing dan mastering,” ujar Keke mengenang.

Ditengah proses rekaman, Outcast harus kehilangan Djamal. Dan diakui Keke, sampai sekarang pun ia tak pernah tahu alasan kepergian Djamal. Akhirnya, Keke diminta untuk mengisi sesi perekaman vokal, yang mana saat itu perampungan aransemenan lagu telah mencapai 90%. Singkat cerita, “One Family” pun terselesaikan berkat bantuan Toxic Noise Records sebagai label rekaman independen yang membantu memproduksi dan sekaligus mendistribusikannya.

Setelah peluncuran “One Family”, Outcast yang pernah pula terlibat di rilisan album kompilasi “Hegemony & Revolution” (1999) dan “Fight For Goodness Vol. 1” (2001) ini telah mengumpulkan beberapa kerangka materi yang bakal mereka jajal di studio. Kemungkinan dalam waktu dekat, mereka merencanakan pembuatan single, atau bahkan album mini (EP) atau album penuh.

“Karena kendala waktu masing-masing dari kami yang sudah rutin bekerja dan menjadi kepala keluarga, semoga tahun ini rencana tersebut bisa direalisasikan!” (mdy/MK01)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY