“God Bless dan Achmad Albar bagai dua sisi satu mata uang. God Bless identik dengan Achmad Albar, tak terpisahkan!”

Kalimat itulah yang menjadi penekanan di “Roda Kehidupan”, sebuah buku terbaru yang mengulas momen-momen penting dalam perjalanan karir God Bless, band rock legendaris paling tangguh di Tanah Air. Buku tersebut diproduksi oleh Penerbit Buku Kompas dan dirangkai oleh Theodore KS, seorang wartawan dan penulis musik senior yang tercatat ikut menyumbangkan lirik karyanya di tiga lagu God Bless, yakni “Balada Sejuta Wajah” dan “Selamat Pagi Indonesia” yang termuat di album “Cermin” (1980) serta “Rumah Kita” dari album “Semut Hitam” (1988).

Ibarat video dokumenter, “Roda Kehidupan” merekam berbagai sisi humanis dari sebuah band rock yang telah meniti karirnya selama hampir setengah abad. Theodore bahkan memulainya dari perkenalan awalnya ‘mengejar’ Achmad ‘Iye’ Albar di rumah kontrakannya pada 1974 silam, beberapa bulan setelah menjadi saksi aksi panggung fenomenal God Bless di panggung “Summer 28” – singkatan dari “Suasana Menyambut Kemerdekaan ke-28” – yang berlangsung di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada 18 Agustus 1973.

Sebelum kembali ke Indonesia pada 1972 dan melahirkan Crazy Wheels yang lantas berubah menjadi God Bless, Iye sudah mengantongi pengalaman bermusik bersama Clover Leaf, bandnya yang bermarkas di kawasan Kota Roosendaal, Belanda. Ludwig Lemans, salah satu personel band tersebut di kemudian hari menjadi gitaris di formasi pertama God Bless.

Pada dekade itu, di Indonesia sendiri band rock terbilang sudah menjamur. Bergema di mana-mana. Di antaranya yang berhasil meletupkan eksistensinya adalah Freedom, C’Blues, Rollies dan Peels (Bandung), AKA dan Le Mans (Surabaya), Destroyer dan Trenchem (Solo), Zantyas (Yogyakarta), Spider (Malang), Golden Wings (Palembang), Rawa Rontek (Banten) dan Young Gipsy (Jakarta).

“Dari teman-teman saya tahu bahwa hampir di semua kota besar dan grup rock. Apalagi Bandung banyak grup yang keren-keren, show juga ramai, semua itu membuat saya bersemangat mendirikan grup bersama Ludwig, Donny (Fattah) dan Fuad (Hassan),” tutur Iye kepada Theodore, seperti yang dikutip dari buku “Roda Kehidupan”.

Sangat menarik mengikuti percakapan-percakapan natural antara Theodore dan Iye serta tuturan berbagai momen menarik di balik panggung God Bless juga berserakan di buku ini. Dimulai dari “Summer 28”, “Kemarau 75” yang berlangsung di kawasan Gedung Sate, Bandung hingga konser “To Commemorate God Bless 1973 – 2014” yang digelar di Convention Hall, Hotel Harris, Bandung, 30 Agustus 2014.

Penulis mengurai dengan cermat hal-hal yang kerap dilakukan Iye di belakang panggung, cara berpakaian dan dandanan yang sangat atraktif hingga makanan kesukaan. Ini penting karena pada saat itu, belum banyak literasi yang mengabadikan momen-momen tersebut. Tidak seperti hari ini dimana media berbasis internet menjamur. Untuk generasi masa kini, “Roda Kehidupan” bisa menjadi semacam ‘buku sejarah’ untuk meluaskan wawasan mengenai keriuhan perjalanan rock di Indonesia.

Dan… salah satu fakta paling menarik yang diungkapkan di buku ini, adalah bayaran fantastis Achmad Albar, saat ditawari menjajal rekaman lagu-lagu dangdut. Ya, pada 1979, Iye sempat merekam album dangdut bertajuk “Zakia” yang diedarkan oleh Sky Records. Musiknya digarap bersama gitaris Ian Antono yang resmi bergabung di God Bless pada akhir 1974.

Konon, pihak yang menggagas ide ‘gila’ itu, yakni wartawan Masheri Mansyur berhasil membujuk produser Ramlie ‘Ahon’ Roekman untuk mewujudkan proyek tersebut dan membayar honor Iye sebesar Rp. 25.000.000,-. Nilai tukar (United States Dollar) USD 1 terhadap Rupiah saat itu berada di kisaran Rp. 400. Berarti jika ditotalkan nilainya sebesar USD 62.500. Jika dikonversi ke nilai kurs USD terhadap Rupiah hari ini, berarti bayaran tersebut hampir menyentuh angka Rp. 900.000.000,-!   

Nah, tentunya, akan jauh lebih menarik jika membaca sendiri keseluruhan tulisan di buku setebal 274 halaman ini. Banyak fakta dan informasi langka tentang God Bless – khususnya di era awal – yang tentunya sudah sulit ditemui sumber literasinya saat ini. Untuk membelinya, bisa menghubungi Penerbit Buku Kompas, telp. 021-5347710 ext. 85783 atau via nomor WhatsApp +6281210208167 pada hari kerja. (mdy/MK01)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY