Sejak dibangkitkan kembali pada 2019 lalu, setelah sekitar sembilan tahun menjalani fase ‘mati suri’, Mouthless akhirnya turun gunung untuk memanaskan gelora oldschool death metal yang mengalir deras dalam darah para personelnya.

Melanjutkan gembar-gembor album mini (EP) “Sermon Of  Perpetual Flames” yang telah dirilis melalui Deeprock Music pada 28 Februari 2020 lalu, unit oldschool death metal dari Jakarta Selatan ini pun melepas sebuah video klip, dari salah satu lagunya yang bertajuk, “Worship The Throne”.

Menurut para personelnya, yakni Bonjo (gitar), Septian Maulana (vokal), Didi (gitar) dan Gilang Muhammad Perdana (dram), konsep musik terapan Mouthless saat ini masih mengadopsi ramuan kental yang sebagian besar disari dari band-band mengerikan macam Malevolent Creation, Deicide, Memoriam, Entombed serta sedikit sentuhan black metal purba ala Darkthrone dan Mayhem.

Akan tetapi, khusus di lagu “Worship The Throne” yang dipilih untuk divisualisasikan, ada alasan tersendiri yang ingin ditonjolkan. Lagu yang bertemakan tentang kesibukan manusia menunaikan nafsu dan egonya demi kepuasan pribadi tersebut, mengandung pola aransemen yang sangat eksperimental.

“Kami mencoba bereksperimen di lagu tersebut, terutama pada riff guitar yang hanya 40% death metal, sisanya dipengaruhi warna Alice in Chains. Dan satu hal lagi, di EP ‘Sermon of Perpetual Flames’, hanya ‘Worship the Throne’ yang berbahasa Inggris untuk penulisan liriknya. Di luar kebiasaan kami saja sih intinya,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

Lalu dalam eksekusinya, karena kini diperkuatr empat personel, maka terasa sangat signifikan di olahan musiknya, khususnya di lini gitar yang terasa jauh lebih tebal. “Semoga ketika gigs sudah diperbolehkan, kami (bisa) uji di lapangan,” seru Mouthless semangat.

Dengan formasi barunya ini pula, Mouthless telah mencanangkan bakal mulai masuk studio rekaman guna merekam dua single untuk materi album. Jika tidak ada kendala, eksekusinya mulai dilakukan tahun depan.

Mouthless, yang mengawali sepak terjangnya di skena dengan nama Distrust, terbentuk pada 2008 silam. Dua tahun kemudian, mereka merekam demo bertajuk “An Era of Aboliton”, dimana salah satu lagunya dimasukkan ke dalam album kompilasi Tangerang Grindfest dalam format kaset. Selain itu, juga pernah menjadi salah satu band yang dilibatkan dalam kompilasi “Brutally Sickness” keluaran Extreme Soul Production, Bandung. (aug/MK02)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY