Perang akhir zaman akan terjadi. Tanda-tanda kiamat telah tampak di depan mata, apalagi dengan adanya wabah virus corona yang semakin menunjukkan bahwa manusia sedang melangkah menuju ke fase terakhir kehidupan. Kini saatnya untuk bangkit mempersiapkan kedatangan hari akhir.

Itulah inti dari geraman lirik yang dicecarkan oleh Fasik lewat single terbarunya, “Arise”. Karya rekaman yang menghadirkan vokal tamu dari salah satu legenda Kota Malang, yakni Novi ‘Screaming Factor’ tersebut dipersembahkan oleh unit cadas asal Malang, Jawa Timur ini untuk melepaskan diri dari belenggu keterbatasan akibat terpaan pandemi Covid-19.

Para personelnya, yakni Fadillah Rahadiansyah (vokal), Tonny Adi (gitar), Krisna (gitar), Anggik Windi Pradana (bass) dan Ilham Maulidana (dram) menjalani proses penggarapan “Arise” selama sekitar dua mingguan. Semuanya dilakukan dengan mengakali waktu selepas kerja. Tapi setelah itu, pengolahan mixing dan mastering memelar hingga tiga bulanan akibat terkendala kondisi pandemi, disamping keharusan melakukan beberapa revisi agar hasilnya lebih maksimal. Proses rekaman “Arise” dilakukan di Torch Production dimana penanganan teknisnya dikomandoi langsung oleh Ilham, sang dramer.

Dari segi musikalitas, Fasik menyebut “Arise” lebih condong ke ranah metal hardcore dengan penerapan riff-riff berat dan cepat. Mereka mengaku banyak mengeksplorasi ide dari masing-masing personel, dan sedikit mengulang memori saat penggarapan single “Chance To Change” pada 2013 lalu, yang juga beraroma metal hardcore yang kental.

“Untuk referensi kami lebih banyak terinspirasi dari Sworn Enemy, Hatebreed dan beberapa band metal maupun hardcore lainnya, dan tentunya kami sesuaikan aransemennya dengan partner tandem kami, yaitu Mas Novi dari Screaming Factor agar lebih dapet soul-nya,” urai pihak band kepada MUSIKERAS menegaskan.

Jika misalnya harus menarik garis perbedaan antara Fasik dengan band-band yang ada di ranah yang sama, maka Fasik menyebut pola aransemenlah yang membuat mereka punya posisi tersendiri.

“Kami lebih memilih memasukkan banyak referensi agar tidak terkesan monoton. Memang root asli kami metal, tetapi kami sangat terbuka dengan ide-ide liar masing-masing personel, selama dirasa pas dengan materi ya wajib digas saja. Jangan kaget kalau di EP kami nanti banyak corak berbeda di tiap track. Itu perbedaan kami dengan band lain. Maka dari itu juga, ketika ditanya kami mengusung genre apa? Kami selalu jawab, ‘metal’. Karena menurut kami, dengan cukup sebutan ‘metal’ itu saja sudah sangat luas.”

Omong-omong tentang EP atau album mini, kini Fasik memang juga tengah mengarahkan konsentrasinya ke perampungan karya rekaman tersebut. Mereka membidik target rilis awal tahun depan dan saat ini progres penggarapannya sudah mencapai 75%.

“Kami menunggu momen yang tepat untuk lanjut. Lagi-lagi dikarenakan pandemi yang belum selesai jadi halangan buat kami untuk lanjut. Untuk materi sendiri kami sudah menyiapkan sekitar enam trek, dengan catatan lima di antaranya sudah direkam.”

Sejak terbentuk pada 2011 silam, Fasik yang beberapa kali mengalami proses gonta-ganti formasi ini telah berhasil melahirkan karya rekaman berupa single “Patricide” yang berkarakter progressive metalcore, lalu “Chance To Change” (2013) dimana mereka berkolaborasi dengan Yayak (eks Sharkbite) dan “Blame Your Self” (2014). Sempat vakum pada 2018, namun bangkit kembali di tahun berikutnya, dan merilis single “Wrath Of The Gods” pada Oktober 2019.

“Arise” kini sudah bisa didengarkan di beberapa platform digital (streaming) seperti Spotify, iTunes, YouTube, Soundcloud, Amazon Music, Deezer dan Pandora. (mdy/MK01)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY