Ibarat teh celup yang timbul dan tenggelam setiap tahun namun tetap bisa bertahan.

Begitulah dua personelnya, yakni Arif Rahman (vokal/gitar) dan Almero (bass) menggambarkan naik-turun perjalanan kreativitas Sickobein. Mulai menggeliat sejak 2009 dan selalu diterpa gonta-ganti personel. Namun tetap bisa survive dan berkarya hingga hari ini walau hanya diperkuat dua personel, dan meneruskan rekor sebagai satu-satunya band pengibar grunge di kota Banda Aceh.

Baru-baru ini, setelah sebelumnya merilis single “Amnesia” pada Maret 2020 lalu, kini Sickobein bakal kembali meluncurkan karya single terbarunya yang bertajuk “Ruang” pada akhir Juli 2020. Sebuah lagu yang mengangkat persoalan kehidupan dari sisi kefrustasian terhadap keadaan di liriknya.

“Ruang” sendiri sebenarnya merupakan lagu lama dengan produksi baru. Tapi yang pasti, menurut pihak band, terasa berbeda dibanding versi sebelumnya, terutama dari segi sound. Dalam penggarapannya, Sickobein juga masih bekerja sama dengan pihak Banana Town Records, sama seperti pembuatan single sebelumnya. Mereka dibantu oleh Hadi Kollias selaku pengarah musik serta pemilik Banana Town Records, yang juga punya andil besar dalam pembuatan beberapa single Sickobein.

“Proses rekaman single ruang ini butuh waktu dua hari. Hari pertama dihabiskan untuk dram, terus besoknya ngisi gitar, bass dan vokal. Banana Town Records masih menjadi tempat rekaman dan produksi beberapa lagu dari kami, sekaligus mengolah semua ide dari kami menjadi satu karya baru,” tutur Sickobein kepada MUSIKERAS.

Dari segi musikal, Arif Rahman dan Almero menyebut hasil akhir pengolahan single “Ruang” sudah seperti yang mereka inginkan. Khususnya dalam hal pengemasan sound.

“Sudah seperti sound grunge yang kami mau, mengayun dan mengentak dengan balutan distorsi berat serta alur bass yang ketat padat merayap. Referensi atau inspirasi musik untuk single baru ini kami ambil dari beberapa band grunge seperti Senium (AS), Valentiine (Australia), Pandora’s Bliss (Jerman), Pagoda (AS), dan selebih banyaknya yaa pengembangan dari musik Sickobein sendiri. Artinya lagu-lagi dari Sickobein yang telah ada sebelumnya juga ikut memberikan referensi yang kuat buat kami.”

Pada awalnya, Sickoben yang dibentuk oleh tiga orang mahasiswa tingkat akhir jurusan Psikologi ini sempat beberapa kali berganti nama. Dimulai dari Psychobain, lalu berubah jadi Psikobein dan terakhir akhirnya memilih Sickobein. Keputusan itu didasari alasan banyak orang yang kerap salah dalam penyebutan dan pengejaan nama band mereka, sehingga akhirnya nama SicKobein dipilih untuk mempermudah. Pada 2017, Sickobein pernah merilis album mini (EP) bertajuk “Misi Minor” berisi enam kumpulan lagu dari periode 2010-2016. (aug/MK02)

.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY