Beberapa tahun belakangan, rilisan karya rekaman dalam format pita kaset mendadak marak lagi. Menyusul ‘abang’nya, piringan hitam (vinyl) yang sudah lebih dulu mengusik kejayaan pasaran musik digital. Iya, tentunya masih tergolong sempit segmentasinya, tapi paling tidak fenomena tersebut sedikit banyak mengindikasikan ada perhatian khusus dari generasi sekarang untuk mengakrabi media musik era ‘purba’ tersebut.

Dalam skala global, bisa dibilang trend mengonsumsi kaset merebak di berbagai negara, termasuk Amerika dan Inggris yang dicap sebagai kiblat industri musik. Sejak 2018 lalu, industri rekaman di Amerika telah mencatat pergerakan pertumbuhan penjualan kaset mencapai 35%. Dan angka itu terus bergerak naik. Bahkan pada Oktober tahun lalu, Loudwire.com sempat melaporkan bahwa produksi kaset melambat karena tingginya permintaan pasar, sementara pihak produsen kekurangan material dasar untuk memproduksinya.

Di Inggris, seperti yang dilaporkan oleh berbagai media setempat seperti NME.com dan Consequenceofsound.net, lonjakan angka penjualan kaset juga mengejutkan. Bahkan mencetak rekor naik sebesar 103% tahun ini, atau dua kali lipat pencapaian tahun lalu.

Malah menurut laporan dari platform pasar musik online dan jejaring sosial Discogs pada Juni 2020 lalu, minat besar terhadap pembelian kaset telah turut mengerek harga karya-karya lama yang dirilis dalam format tersebut ke angka yang fantastis. Khususnya di ranah musik cadas, ada lebih dari selusin karya rekaman langka milik band-band seperti Metallica, Tool, Burzum, Rammstein, Rage Against the Machine, Mr. Bungle, Marilyn Manson hingga Every Time I Die yang diburu para kolektor dengan rentang harga menggila, mulai dari USD 270 hingga USD 750. Jika dirupiahkan, berarti berada di kisaran harga 400.000 hingga satu jutaan per keping!

Fenomena itu membuat semakin banyak musisi dunia yang melirik lahan ini, meluncurkan produk kaset sebagai salah satu alternatif dalam mempromosikan karya mereka, selain memaksimalkan jalur digital dan format fisik lainnya seperti CD dan piringan hitam. Termasuk di Indonesia.

Di negara kita, tak terhitung penyanyi atau band yang kini memperkenalkan karyanya dalam format kaset. Dari ranah musik keras misalnya, kini kita bisa menikmati karya-karya album rekaman dari band-band seperti Deadsquad, Superglad, Revenge, Wafat, Bvrtan, Noxa, Grausig, Nectura, Getah dan banyak lagi lewat media kaset. Namun alasan perilisannya berbeda-beda, dan nyaris tidak menyentuh kebutuhan ranah finansial.

Noxa yang juga merilis album “Propaganda” dalam format kaset menyebut permintaan dari penggemar serta untuk memenuhi kebutuhan para kolektor sebagai alasan utama merilisnya. Dijual seharga Rp 65.000 dan diproduksi hanya dalam jumlah terbatas. Satu yang pasti, perilisan kaset bagi Noxa bukan untuk mencari untung.

“Noxa banyakan dari merchandise dan apparel yang jadi duit. Kalo CD dan kaset cuma buat kolektor sama fans aja sekarang,” cetus gitaris Noxa, Ade Himernio kepada MUSIKERAS.

Lain lagi alasan dari unit metal asal Bandung, Nectura. Menurut salah satu personelnya, Hinhin ‘Akew’ Agung, perilisan kaset album “Narasi Penantang dari Lanskap yang Ditinggalkan” dilakukan karena ingin mengisi kekosongan masa pandemi agar ada alternatif lain dalam mempromosikan album terbarunya, selain dalam format CD.

“Malah sebenarnya awalnya hampir tidak ada rencana untuk rilis kaset. Ide itu datang di tengah pandemi. Kami merasa perlu membuat kegiatan sebagai bagian dari promo. Nah, waktu label (Playloud Records) ngasih kesempatan untuk rilis kaset akhirnya kami setujui, karena kami dengar dari teman-teman rilisan kaset mulai diperhatikan lagi,” ulasnya beralasan.

Nostalgia, adalah hal pertama, yang menurut Akew, turut membangkitkan tren mengonsumsi kaset lagi. Sebuah bentuk rilisan fisik yang bisa mengingat memori tentang bagaimana praktisi musik bersentuhan dengan musik dan mengembangkan kemampuan bermusiknya.

“Kedua, belakangan masih banyak teman musisi dan pedagang rilisan fisik yang masih aktif dan membuat gerakan yang cukup sering sehingga bentuk kaset jadi happening lagi. Ketiga, gerakan yang ramai ini mulai direspon oleh pelaku seperti kolektor dan musisi, karena secara nilai ekonomi, cukup besar. Sehingga lingkaran ini jadi mulai berjalan lagi sekarang.”

Mengoleksi kaset juga mungkin dianggap sebagai gaya hidup oleh sebagian generasi hari ini. Seperti yang diyakini oleh Lukman ‘Luks’ Lasmana dari unit punk rock Ibu Kota, Superglad. Kebetulan, ia dan bandnya juga baru saja merilis album mini “Rockaholic Revival” dalam format kaset, bekerja sama dengan Sabda Nada. Menurut pengamatan Luks, ada kecenderungan di generasi sekarang – khususnya yang menyukai dan memperhatikan perkembangan musik – untuk mencari tahu apa sih kaset itu?

“Karena gini, anak gue SMP kelas 1, dia nggak tahu kaset itu bisa diputer di mana? Dan seperti apa? Nah, mungkin anak-anak sekarang yang suka musik lagi demen-demen-nya nyari root-nya. Mungkin kayak jaman gue dulu nyari punk rock itu dandanannya seperti apa sih harusnya? Sekarang mungkin juga kayak gitu. Jadi kaset itu, disamping sebagai koleksi, mungkin juga dipakai seperti lifestyle, yang akhirnya membuat (tren) kaset naik lagi, dipakai sebagai koleksi, seperti layaknya kita mengoleksi action figure misalnya,” urai Luks mencoba menganalisa.

Sedikit informasi mengenai kaset (compact cassette). Teknologi dalam bentuk pita magnetik ini merupakan media penyimpan data yang umumnya berupa lagu atau musik. Sebutan kaset berasal dari Bahasa Prancis yang berarti ‘kotak kecil’. Sejak era ’70 hingga ’90an, kaset merupakan salah satu format media yang paling umum digunakan dalam industri musik.

Adalah perusahaan Phillips yang pertama kali memperkenalkan kaset pada 1963 di Eropa dan 1964 di Amerika Serikat. Sejak itu, kaset menjadi popular di industri musik dan perlahan menggeser dominasi piringan hitam. Produksi besar kaset diawali di Hanover, Jerman pada 1964, namun baru mendapatkan kualitas suara terbaiknya pada 1971, ketika perusahaan The Advant Corporation memperkenalkan Model 201 yang menggabungkan Dolby tipe B pengurang gangguan (noise) dengan pita kromium dioksida. Inovasi itu membuat kaset mulai dapat digunakan dalam industri musik secara serius, yang sekaligus menancapkan standar kaset berkualitas dan berkecepatan tinggi. (mudya mustamin)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY