Dunia motor dan musik rock adalah pasangan serasi. Keduanya memancarkan aura kegagahan, nyali dan distorsi. Dan dua dunia itulah yang digeluti dan dipadukan sekaligus oleh The Hauler, trio heavy rock asal Lembah Palu, Sulawesi Tenggara ini. Pada 17 Juli 2020 lalu, mereka merilis single berformat instrumental bertajuk “Tagara”, yang dipersembahkan khusus sebagai lagu tema resmi untuk rekan-rekan mereka di komunitas Tagara Motorcycle, serta untuk para pengendara motor custom di mana pun berada.

Oh ya, selain diambil dari nama komunitas, kata ‘tagara’ yang dijadikan judul juga berarti ‘kotor’, berasal dari Bahasa Kaili, suku yang mendiami Lembah Palu.

Tadinya, “Tagara” yang digarap formasi Iun Suneon (vokal/gitar), Sanx Satrisno (bass/vokal) dan Dana Hermansyah (dram/vokal) diperuntukkan sebagai original soundtrack penyelenggaraan eksebisi “Tagara Motofest 2020”, garapan Tagara Motorcycle yang harusnya dihelat pada April lalu. Namun karena kondisi pandemi yang tidak memungkinkan, akhirnya gelaran tersebut harus ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.

“Pertimbangan memilih The Hauler untuk mengisi kebutuhan tersebut langsung dari mereka, dan sedikit proses workshop yang juga dikawal oleh teman-teman Tagara Motorcycle. Dikarenakan kondisi tidak memungkinkan, maka akhirnya single ini kami sepakati dirilis dalam bentuk video musik, dimana secara visual kami mengumpulkan footage dari teman-teman Tagara Motorcycle dan menyusunnya sehingga menjadi satu video utuh,” beber pihak band kepada MUSIKERAS.

Bagi para personel The Hauler, dunia motor memang bukan lahan asing bagi mereka. Masing-masing bahkan menekuni aliran berbeda dari segi jenis motor yang digemarinya, walau sebenarnya ketiganya memiliki kecenderungan yang sama yaitu penikmat Custom Culture/Custom Motorcycle. Iun Suneon adalah penggemar gaya Brat Style Motorcycle, Dana lebih ke pergaulan dunia Vespa/Scooter Classic, sementara Sanx pernah terjun di dunia Racing/Extreme Motorcycle.

Proses penggodokan rekaman single “Tagara” sendiri berlangsung selama kurang lebih dua bulan, plus mixing dan mastering sekitar sebulan. Eksekusinya dilakukan sepenuhnya di RNR Studio, Palu. Dalam penggarapannya, The Hauler yang juga dibantu oleh gitaris Arkie Gunawan (mantan personel The Box), memadukan kegarangan distorsi rock dengan sedikit sentuhan Mbasi-Mbasi, yakni alat tiup khas dari Lembah Palu.

“Kami coba bereksperimen menggabungkan sedikit nuansa etnik dengan musik rock yang sedikit heavy, yang mungkin terdengar sedikit lebih kelam namun tetap energik di bagian akhir single ini. Black Sabbath, Sleep, Russian Circles, The Box, Culture Project adalah sebagian nama yang menjadi referensi kami sehingga dari hasil mendengar beberapa karya dari mereka, maka terlahirlah single ‘Tagara’ ini.”

Setelah perilisan “Tagara”, The Hauler rencananya memanfaatkan waktu di sela promosi “Tagara” untuk memulai workshop materi lagu-lagu baru untuk kebutuhan album mini (EP) yang direncanakan rilis tahun ini.

Selain tayang di kanal YouTube, single “Tagara” juga bisa dinikmati di platform digital seperti Spotify, Joox, iTunes Music, Google Play dan lainnya. (aug/MK02)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY