Sejak terbentuk pada Agustus 2017 di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, unit thrash crossover ini telah beberapa kali mengalami proses gonta-ganti personel. Karena menurut mereka, memang tak mudah menemukan sosok yang tepat untuk bersama-sama menancapkan komitmen mengibarkan bendera Gaijin. 

Hingga akhirnya, formasi terkininya yang dihuni vokalis dan bassis Falhan Basya (Aang The Great), gitaris Femi Firmansyah (Benk) dan Adi Ismayana (Adew) serta dramer Mesa Trimulya (Mesa Bugie) berhasil ‘memecahkan telur’ kreativitas band ini. Sebuah single debut bertajuk “Hypocrites” telah mereka letupkan untuk mengokohkan eksistensi Gaijin.

Pihak band menyebut, “Hypocrites” ini tercipta dari keresahan seorang Aang The Great, yang mana kala itu mendapatkan kesempatan merekam sebuah single di ATAP Studio, Tasikmalaya untuk dimasukkan ke dalam album “Tasikmalaya Kompilasi Vol.1”.

Memang, kelahiran Gaijin tak lepas dari spirit Aang yang merasa sudah ‘kelamaan’ berkecimpung di musik industri mainstream. Kini ia ingin membangkitkan kembali gairahnya yang terhenti selama belasan tahun. Dengan terciptanya single “Hypocrites”, memberi arti bahwa passion Aang tersebut masih menyisakan bara. Setelah single “Hypocrites” dirilis, barulah Aang merekrut personel lainnya untuk mewujudkan band yang bisa tampil secara nyata.

Oh ya, nama Gaijin sendiri berasal dari idiom Jepang yang bermakna ‘outsider’ atau ‘orang asing/orang luar Jepang’. Alasan memilih nama itu karena Aang merasa seperti orang asing yang kembali terjun di kancah musik ekstrim, namun dia punya ‘sesuatu’ untuk membuktikannya.

“Ketika pembuatan musik dasar, Aang langsung berpikir untuk membangkitkan lagi konsep thrash ‘90an, namun tetap ingin mengadaptasikan unsur millenialnya, yaitu dengan menambahkan sampling sebagai sisipannya. Seorang diri merekam semua instrumen berikut sampling-nya, dengan memakan waktu sekitar dua hari, dan untuk penulisan lirik hanya 10 menit, dan langsung take vokal yang hanya membutuhkan waktu 25 menit berikut unison dan backing vokalnya,” papar pihak band kepada MUSIKERAS.

Dari segi musikal, “Hypocrites” diolah sedemikian rupa dengan menyesuaikan keresahan di semburan liriknya, yang bertemakan kemarahan akan situasi Indonesia pada saat itu. “Tergambarkan lewat emosi drumbeat yang seakan-akan termuntahkan secara spontanitas, dibalut dengan ritem tebal serta distorsi kering khas Slayer dan Metallica, melodi melengking dan ditambah sampling yang – maunya – memberi ambience industrial. Untuk referensinya sendiri lebih dominan ke Slayer, Metallica dan Testament.”

Setelah perilisan “Hypocrites”, Gaijin langsung menyiapkan single berikutnya yang berjudul “Thrashing Mad”. Selain itu, beberapa persiapan menuju perilisan album mini (EP) debut mereka juga sudah mulai dijalani. Jika tak ada kendala, Gaijin menargetkan paling lambat akhir 2020 sudah bisa merilis EP tersebut. (aug/MK02)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY