Sebuah kolaborasi musikal yang melebur elemen Jepang dan Jawa telah dipersembahkan dengan apik oleh unit cadas asal Surakarta, Jawa Tengah ini, lewat sebuah single enerjik bertajuk “Shizuku No Wirang”. Di lagu ini, Dejikai menyuntikkan instrumentasi tradisional Jepang seperti Koto dan Samisen, yang disandingkan dengan alunan Gamelan Soran (Bonang, Demung, Saron, Peking, Kenong) serta tembang Macapat dari Jawa Tengah.

Alasan melebur elemen Jawa dan Jepang tersebut, menurut beberan Dejikai kepada MUSIKERAS, adalah untuk membuat suatu komposisi musik metal yang berbeda. “Selain itu, juga untuk memberikan apresiasi dan atensi bahwa kita mempunyai musik tradisional yang adiluhung dan dinamis. Dalam artian, bisa masuk dan dikolaborasikan ke dalam komposisi musik genre apa pun.”

Tapi tentunya, terlepas dari formula tadi, unsur metal tetap mendominasi nadi band yang dihuni formasi Iyank Zona Brammastian (vokal), Ludwig Yordan (dram), Al ‘Awee’ Wasilah (bass) dan Adam Iskandarsyah (gitar) ini. Dan yang membuatnya semakin menarik, referensi yang mereka serap juga tak lepas dari leburan musik keras asal Jepang seperti Dir En Grey, Wagakki, Unlucky Morpheus, Orochi dan Nocturnal Bloodlust dengan pemancang metal murni dari ranah Barat macam Slayer, Anthrax, Testament hingga Exodus.

“Kami memasukkan unsur musik tradisional seperti gamelan soran, sindhen dan instrumen tradisional Jepang dalam suatu bentuk karya kolaborasi dengan riff-riff thrash metal era ‘90an dan juga sentuhan rock Jepang,” seru pihak band lagi mempertegas.

Lirik “Shizuku No Wirang” sendiri menyiratkan makna tentang peristiwa awal mula penciptaan manusia serta kegagalan dalam menyelaraskan kehidupan. Manusia diingatkan untuk memaknai bahwa jauh sebelum tercipta, sudah ada kehidupan yang berjalan di luar sana dengan selaras. Namun keserakahan dan keegoisan manusia justru membuat hidup menjadi rumit.

Proses kreatif penggodokan “Shizuku No Wirang” sendiri diawali dengan membuat komposisi musik dasar seperti riff-riff serta pola ritme dram. Sejurus kemudian, masuklah ornamen-ornamen unsur tradisional Jawa seperti gamelan dan Macapat yang lantas disilangkan dengan instrumentasi Samisen dan Koto, dengan penerapan notasi yang sesuai untuk beberapa riff-riff tersebut. Proses dari pra produksi, workshop, rekaman hingga mixing dan mastering kira-kira menghabiskan waktu selama sekitar dua minggu. Rekamannya sendiri dieksekusi di studio Dejikai sendiri, Mortification Studio. Namun untuk mixing dan mastering dirampungkan di Hiatus Records.

Lalu seolah tak mau membuka jeda panjang, kini Dejikai yang terbentuk pada 16 Februari 2016 silam ini langsung mempersiapkan single selanjutnya. Satu yang pasti, mereka bakal masih mempertahankan konsep peleburan elemen musik metal dengan musik tradisional Indonesia. Juga, ada rencana untuk melepas album mini (EP) yang ditargetkan kira-kira rilis pada akhir tahun atau menunggu pandemi selesai. (aug/MK02)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY