… Teruntuk kawan-kawan yang masih sedia di garda terdepan, teruntuk mereka yang telah berprasastikan nisan, kami lanjutkan perjuangannya!

Lewat single terbaru bertajuk “Injustice”, Wolfbreath kembali memberondongkan kritikan tajam terhadap berbagai isu sosial politik terkini. Sebelumnya, pada April 2020 lalu, unit hardcore asal Magelang ini juga telah menggebrak lewat single panas berjudul “Lawan”.

“Injustice” sendiri mengisahkan kesenjangan dari berbagai aspek yang terjadi dalam masyarakat, terutama masyarakat kecil. Hal ini, menurut pihak band, membuat banyak masyarakat yang tidak menerima keadilan secara benar, baik dari otoritas elit maupun dari ormas dan pihak terkait mana pun. Banyak penderitaan yang terjadi, mulai dari sengketa agraris, sengketa tanah, sengketa bangunan, kasus pemerataan bantuan, pekerjaan, dan masih banyaknya hasil jerih payah masyarakat yang dikorupsi dan dikoleksi oleh kolega-kolega politik dan petinggi-petinggi masyarakat.

“Hal tersebut, mendorong kami untuk menyuarakan dan memberikan kritikan atas apa yang terjadi pada keadaan masyarakat saat itu. Tujuan kami menciptakan single tersebut adalah untuk mengekspresikan mengenai isu sosial dan politik saat ini dimana terdapat banyak penindasan dan ketidakadilan. Atas hal tersebut akhirnya muncullah single ‘Injustice’,” seru Wolfbreath kepada MUSIKERAS, menandaskan.

Proses penggarapan “Injustice” sendiri melibatkan kolaborasi formasi Muhammad Fikri Maulana (bass), Pramuditya Elang (gitar), Yosef Haryo Setyo Wiwoho (gitar), Petrus Dian Agus Nugroho (dram) dan Vincentius Candra Krisantama (vokal) dengan Misionero, seorang artis hip-hop asal Muntilan. Namun ide lagunya sudah ada sejak 2019, dan baru dieksekusi menjadi single utuh pada 2020.

“Dalam lagu tersebut juga terdapat aransemen-aransemen yang baru dengan beberapa inspirasi dari band-band hardcore dari Amerika,” cetus Wolfbreath mengenai konsep musiknya.

Hardcore memang menjadi titik sentral pembentukan musik Wolfbreath. Referensinya antara lain datang dari band-band dunia seperti Nasty, Slayer, First Blood, CDC, Shattered Realm, Madball, Terror dan bahkan pahlawan lokal, Seringai.

Wolfbreath mulai memanaskan mesin musikalnya pada 2017, dimana mereka mengombinasikan beatdown dengan unsur-unsur hardcore Amerika, Jerman dan Belgia. Wolfbreath sendiri akhirnya terbentuk berdasarkan sebuah evaluasi, karena segagalan-kegagalan band yang pernah dibentuk sebelumnya. Selain itu, mereka juga mengemban misi untuk menerangkan skena hardcore yang mulai redup.

Saat ini, Wolfbreath bersiap meletupkan materi album debut yang bakal diberi judul “Disintegrasi”. Ada delapan lagu yang termuat di album tersebut, dan kini tinggal menyisakan penggarapan artwork. Wolfbreath menargetkan perilisan album tersebut diwujudkan tahun ini juga.

Single “Injustice” kini bisa didengarkan melalui berbagai penyedia jasa dengar musik digital (streaming) seperti Spotify, Apple Music dan iTunes. (aug/MK02)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY