MATHOLOGY Rilis Komposisi ‘Baper’, “Vellichor Monachopsis”

Setahun lebih sejak merilis EP debut mereka, “Crayon”, kini unit progressive rock instrumental Mathology kembali ke dapur rekaman dan menggodok materi untuk album berikutnya. Namun sebelumnya, single per single akan dirilis terlebih dahulu untuk menyiapkan jalur ke arah itu. Sebagai pembuka, band yang terbentuk pada Februari 2019 ini telah melepas single terbaru bertajuk “Vellichor Monachopsis” sejak 20 Juli 2020 lalu.

Kali ini ada yang baru. Di komposisi tersebut, Mathology yang dihuni formasi Ramcey Putra (gitar), Mondy Mamentu (gitar), Soebroto Harry (bass) dan Bistok Rukanzi (dram) meramu “Vellichor Monachopsis” dengan menghadirkan dua gitaris tamu untuk berkolaborasi. Mereka adalah Bacung Thatdamnrabbit untuk permainan gitar elektrik dan Made Dien yang memainkan gitar bersenar nilon.

Buat Mathology, menghadirkan Bacung dan Made adalah kebutuhan akan keunikan gaya permainan keduanya. “Sehingga (mereka) dapat dipercaya untuk pemilihan notasi dan mengeluarkan karakter pribadinya di dalam lagu ‘Vellichor Monachopsis’ ini,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS, mengungkapkan.

Sama seperti materi lagu di EP sebelumnya, Mathology kali ini juga masih meramu formula musiknya di sekitaran wilayah rock progresif yang sarat manuver musikal. Khusus di single ini, Mathology menyebut inspirasinya banyak diserap dari band-band dunia macam Monuments, Intervals, Plini, Periphery serta juga Novelist, dimana riff serta licks gitar yang diterapkan lebih mengarah ke nuansa modern.

Komposisi instrumental bisa melahirkan banyak persepsi, namun Mathology menyebut “Vellichor Monachopsis” sebagai lagu yang dibangun berdasarkan imajinasi cerita, yang terfokus pada seseorang yang mudah hanyut terbawa perasaan, baik itu sedih, bahagia, atau perasaan lainnya yang timbul dengan mudahnya ketika mengalami suatu kondisi dalam hidupnya. Di satu sisi ia merasa sudah berhasil menempatkan perasaannya di posisi yang tepat, tetapi pada akhirnya ia menyadari bahwa dirinya tidak seharusnya berada di situasi seperti itu.

“Lagu ini memiliki mood yang berubah-ubah di setiap part-nya yang diwakili oleh naik-turun lagunya, yang mewakili maksud perasaan seseorang atau emotional feelings.”

Cara kerja yang mandiri diterapkan saat menggarap “Vellichor Monachopsis”. Prosesnya dilakukan tiap personel di rumah masing-masing selama periode pandemi berlangsung, dengan komunikasi yang dilakukan secara digital. Mulai dari penggarapan konsep lagu, desain artistik hingga proses rekaman. Data mereka lantas disatukan dan dikirim ke Adyangga untuk pengolahan mixing dan mastering di Surabaya.

“Vellichor Monachopsis” sudah bisa didengarkan via berbagai platform penyedia jasa dengar musik secara digital (streaming) seperti iTunes, Spotify dan Guvera. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *