GRAUSIG Patenkan “Thy of the Damned” dalam Visualisasi Video

Satu-satunya lagu godokan terbaru yang menyesaki album mini (EP) “Re-Abandoned, Forgotten & Rotting Alone”, bertajuk “Thy Of The Damned” akhirnya dipatenkan GrausiG sebagai salah satu ujung tombak promo rilisan EP tersebut. Terhitung sejak 8 Agustus 2020 lalu, video musik lagu itu telah ditayangkan resmi melalui YouTube, di kanal resmi GrausiG.

Single “Thy Of The Damned” sendiri mengandung arti ‘dia (kau) yang terkutuk’, dimana dalam visualisasi videonya digambarkan melalui footage tentang ‘segala sesuatu bentuk penyimpangan, akan mendapatkan balasan atau kutukan yang setimpal’, yang dipadukan dengan penampilan dari GrausiG itu sendiri. Saat pembuatannya, GrausiG berkolaborasi dengan B A L U A R T I, rumah produksi yang juga menggarap video single “God’s Replicated” pada 2014 silam.

“Ini lagu baru dari era sekarang. Tapi benang merahnya kembali lagi ke musik era (album) ’Abandon …’ dulu. Sebenarnya kerangka lagunya udah ada sejak 2016, tapi baru beres diaransemen dan direkam pada 2019 lalu,” ujar dramer Denny Zahuri kepada MUSIKERAS, mengungkapkan.

Ya, EP “Re-Abandoned, Forgotten & Rotting Alone” yang dirilis GrausiG pada Desember 2019 lalu ini memang bisa dikatakan merupakan tiruan materi album “Abandon, Forgotten & Rotting Alone (1999)”, dimana GrausiG merekam ulang sebagian lagu yang ada di album tersebut, plus tambahan “Thy Of The Damned”.

Kendati demikian, unit death metal yang telah malang-melintang di skena ‘bawah tanah’ sejak 1989 silam ini tidak mengeksekusi “Re-Abandoned, Forgotten & Rotting Alone” dengan formula yang benar-benar sama dengan versi aslinya. Menurut Denny lagi, pendekatan sound yang dilakukan kini lebih modern dengan teknik rekaman digital. Dan selain itu, juga ada perubahan di jumlah dan susunan lagu.

Banyaknya permintaan penggemar untuk merilis ulang “Abandon, Forgotten & Rotting Alone” menjadi latar belakang GrausiG memutuskan untuk merekam ulang album yang dulu diedarkan oleh label Independen Records, sub-divisi dari Aquarius Musikindo tersebut. Saat itu, kontrak antara GrausiG dengan pihak label adalah jual putus master rekaman, yang mana keseluruhan master dalam format pita reel 2 inchi serta master DAT hasil mixing wajib diserahkan seluruhnya kepada pihak Independen Records/Aquarius Musikindo. Hak edar serta hak kepemilikan atas album tersebut merupakan hak mutlak pihak label, dan bukan lagi berada di pihak GrausiG.

“Atas dasar tersebut, dan memperhatikan banyaknya permintaan perihal rilis ulang album tersebut,” kata Denny, “GrausiG akhirnya sepakat untuk merekam ulang beberapa lagu yang termuat di album tersebut ke dalam format yang baru, dengan formasi personel yang berbeda dengan rekaman terdahulu, sekaligus sebagai peringatan 20 tahun rilisnya album tersebut.”

Sejak terbentuk, GrausiG yang kini dihuni formasi Denny, Isma ‘Bolonk’ Sulaiman (vokal), Rodewin ‘Ewin’ Naiborhu (bass), Slamet ‘Mame’ Kuskaijan (gitar) serta Robby Agam (gitar) sejauh ini sudah merilis tujuh karya rekaman berformat EP dan album penuh, yaitu “Feed The Flesh To The Beast” (EP – 1997), “Abandon, Forgotten and Rotting Alone” (1999), “Tiga Dimensi” (2002), “In The Name Of All Who Suffered And Died” (EP – 2013), “Di Belakang Garis Musuh” (2016), “Dogma Dunia Baru” (2018) dan “Re-Abandoned, Forgotten & Rotting Alone” (EP – 2019). (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *