JABOGAR Colek Generasi Rebahan di “Rocker Palsu”

Di sisi lain, kemunculan musibah Covid-19 ternyata sukses membuat banyak musisi mendadak kreatif dan gesit. Seperti Jabogar ini. Sempat terjerumus godaan ber-‘woles ria’ karena diperbudak mood, lalu mendadak bermanuver menjadi aktif berpikir keras dan tajam. Dan berhasil! Pada awal Agustus lalu, unit musik keras ugal-ugalan asal Bogor ini pun meletupkan single terbarunya yang bertajuk “Rocker Palsu”.   

Tapi tentang single tersebut, pihak band yang dihuni formasi Bepe Hutabarat (vokalis The Jaka Sembung), Heru Maulana (gitaris unit death metal Castigation), Yogi Polli (bassis Bajink Luncat) serta Tanchebok ‘Tan Tan’ Sueb (dram) ini terang-terangan menyebutnya sebagai hasil eksperimentasi. Mereka berharap, “Rocker Palsu” bisa menjadi pemicu buat mereka untuk terus berkarya.

“Kami mencoba apakah Jabogar ini masih layak diteruskan atau tidak. Banyak hal prinsipil jika dijelaskan panjang lebar… hahaha! Tadinya, Bepe membuat band ini hanya untuk eksperimen saja. Ditambah ada Heru yang banyak nge-band di skena metal. Untungnya karena dilandasi persekawanan bersama Tan Tan dan Yogi jadinya menjalani band ini terasa lebih rileks, karena masing-masing sudah pernah melewati fase-fase nge-band jadi ambisinya memang lebih kepada menciptakan karya daripada eksistensi seperti band pendatang baru,” beber Jabogar kepada MUSIKERAS, menandaskan.

Ya, seperti sudah dipaparkan di awal artikel, “Rocker Palsu” memang baru berhasil dieksekusi saat dunia diterpa pandemi. Lagu hasil temuan Bepe saat memainkan gitar akustik pada suatu sore tersebut diotak-atik cukup lama. Alasannya, masing masing personel punya kesibukan dunia yang berbeda. lalu terkadang gairah berkarya tersingkirkan oleh obrolan-obrolan lepas yang kerap disertai ocehan ghibah. “Terkadang walau kita bertemu dan saling berbincang belum tentu satu lagu akan kelar… hahaha!”

Singkat cerita, Bepe dan Heru lantas sepakat bertekad langsung berkumpul di studio dan langsung rekaman. Dan seperti biasa, mereka selalu mengembangkan musik langsung di studio tanpa proses jamming. Tepatnya pada Mei 2020, Jabogar pun berkumpul di studio setiap Sabtu untuk menggodok proyek single ketiga mereka tersebut. Setelah melalui beberapa kali perubahan pada komposisi musiknya, akhirnya bulan berikutnya keseluruhan musik berhasil dirampungkan.

“Agak memakan waktu ketika Bepe meminta waktu untuk membuat lirik. Masih seperti kebiasaan, Jabogar selalu memberi kebebasan pada vokalis untuk membuat sendiri lirik lagunya. Proses rekaman berjalan cukup alot karena lirik ternyata lebih panjang daripada seharusnya dan terpaksa memberi penambahan dan beberapa masukan dari Bepe pada (struktur) musiknya.”

Ya, bagi Jabogar, lagu mereka memang punya kekuatan pada lirik yang tajam dan frontal, selain dari judulnya yang sudah pasti bermakna ‘dalam’ dan cukup menyindir keras mereka yang merasa.

Untuk urusan musik, terutama di lini gitar, Heru juga diberi kebebasan bereksplorasi dalam meramu permainan riff serta melodi gitarnya, yang di sana-sini ada suntikan pengaruh thrash metal. Sementara pada bass dan dram, Jabogar sepakat tidak mengubah gaya permainan dan soundnya. Ekspresi lebih banyak dimaksimalkan di lini vokal dan gitar, dan menjadikan dram dan bass sebagai benang merah yang menjadi ciri khas musik Jabogar.

Musik rock dari era ’80 dan ’90an diakui Jabogar memang menjadi sumber inspirasi akut mereka saat melampiaskan kreativitas di lagu “Rocker Palsu”. Bisa dibilang paling banyak diserap dari band-band dunia seperti Metallica, Pantera, AC/DC, Van Halen, The Clash, Motorhead hingga pahlawan lokal macam God Bless dan Edane.

“Dari semua referensi itu untuk karakter sound kami banyak ambil dari AC/DC, karena Bepe tergila-gila pada band itu sejak lama. Sampai karakter huruf untuk logo band saja dia maunya sama seperti AC/DC,” seru pihak band blak-blakan.

Dibanding “Masa Bodoh Cuek Aja” (2015) dan “Bucin” (2019) – dua single mereka sebelumnya – “Rocker Palsu” juga disebut Jabogar lumayan berbeda konsepnya. Karena memang pada rilisan sebelumnya, mereka lebih terfokus pada semacam cek ombak terhadap animo skena rock lokal, sekaligus untuk menakar kekompakan mereka. “Rocker Palsu” dianggap lebih rumit, dari segi musik dan juga penulisan liriknya.

Selain itu, semua yang Jabogar tuliskan di lirik “Rocker Palsu” juga ditujukan sebagai bentuk kampanye, dan melibatkan beberapa komunitas di skena lokal seperti komunitas skate, aktifis kampus, dan komunitas mari berkebun. Misi di lagu itu adalah untuk menyadarkan para generasi rebahan untuk bangkit, kritis untuk melawan ketimpangan yang terjadi dengan karya.

“Bisa dibilang perbedaan yang paling signifikan adalah pada tingkat keseriusan kami pada proses pembuatan musiknya.”

Seolah ingin mempertahankan momentum agar tidak terjebak menjadi generasi rebahan, para personel Jabogar langsung mencanangkan untuk memulai penggarapan album fisik secara serius. Karena menurut mereka, mau tidak mau album fisik tetap diperlukan sebagai jejak keberadaan Jabogar dalam belantika rock nasional.

“Dengan strategi merilis single secara bertahap setidaknya cek ombak sudah dilakukan, dan saatnya kembali meneruskan dua materi yang sudah setengah matang. Rencananya sampai akhir tahun ini, Jabogar (bakal) menyibukkan diri untuk membuat dua single lagi sembari mencari label rekaman sebagai rumah untuk merilis album fisik ini. Ya, kali aja via MUSIKERAS ini Jabogar dapat partner untuk kerjasama, hahaha!”

Untuk mendengarkan “Rocker Palsu” bisa menyaksikan video liriknya di YouTube atau via berbagai platform penyedia jasa dengar musik secara digital (streaming) seperti Spotify dan iTunes. (mdy/MK01)

.

 

One reply on “ JABOGAR Colek Generasi Rebahan di “Rocker Palsu” ”
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *