“Relocate The Fate” adalah Terkaman ‘The New SHARKBITE’

Deretan lagu “Real is Rare”, “Malignance” serta single “Shallow Proof” yang telah dialirkan ke publik musik keras sejak sekitar enam bulan lalu akhirnya sampai ke muaranya. Pada 22 Agustus 2020 lalu, karya album bertajuk “Relocate the Fate” yang antara lain memuat lagu-lagu tadi telah dirilis resmi via kerja sama Disaster Records dan Maternal Disaster. Selain digital, format CD fisik juga tersedia untuk audiens yang masih mengoleksi album rekaman fisik.

Dibanding album-album Sharkbite sebelumnya, terutama di debut “This Reality” (2012) serta EP “Future Is Bleak” (2018), nuansa musik di “Relocate the Fate” kini lebih kokoh, dengan kegaharan yang terdengar lebih segar. Formasi Rizky Ananda (vokal), Bogi Satya (dram), Nando Pamungkas (gitar) dan Santonio August (bass) memadukan teriakan vokal tajam, ritme bertaburkan groove, suara gitar yang bright, plus sedikit balutan nu-metal. Inilah fase ‘new Sharkbite’ di masa ‘new normal’! 

“Jika digali lebih dalam, Sharkbite tidak ingin karyanya hanya dinikmati oleh kalangan pecinta musik hardcore saja. Kali ini kami sangat jelas mengeksplor musik kami sedemikian rupa. Kami menyuguhkan sajian blending nu-metal dalam musik hardcore kami. Dimana secara garis besar kami memangkas elemen beatdown menjadi lebih simpel dengan tujuan mengenalkan fase Sharkbite yang baru dan meraih jangkauan audiens lebih lebar,” beber pihak band kepada MUSIKERAS, mengemukakan alasan.

Sembilan trek di album penuh kedua ini, Sharkbite mengajak para pendengar musik keras untuk mengetahui kegeraman banyak masyarakat terhadap fenomena sosial yang terjadi di era modern ini. Salah satu contoh kecil adalah belum tercapainya keadilan di sekeliling peradaban manusia. Tidak berhenti di situ, album “Relocate The Fate” juga mencoba untuk membangkitkan semangat manusia agar optimis untuk mencapai harapan serta mimpi yang akan diraih. 

Sharkbite mengawali karirnya sejak 2009 di Malang. Para personelnya memilih ‘sharkbite’ sebagai nama band setelah terinspirasi dari sebuah tayangan dokumenter mengenai beberapa orang yang selamat dari  kejadian di pesisir pantai Amerika bagian barat, yang mana pada saat itu serangan hiu telah menyebabkan banyak korban tewas dan terluka.

Sejak awal terbentuk, Sharkbite sempat memilih hardcore yang lebih ringan sebagai amunisi utama musiknya, dengan menyerap berbagai pengaruh dari band-band luar macam Madball, yang lantas berevolusi ke ramuan yang lebih berat hasil perahan dari band seperti Nasty, Circle of Death serta band-band Beatdown Hardcore lainnya. Hingga kini, Sharkbite tercatat pernah berbagi panggung dengan band-band luar seperti Madball, Cruel Hand, Backtrack, Deez Nuts, All For Nothing dan juga Sick Of It All yang kebetulan menggelar konser di Indonesia. (aug/MK02)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *