Sisi Emosional NAME OF HATE di Antara Post-Hardcore dan Metalcore

Tak ada kata mundur jika kreativitas menggelora sudah di ujung jari. Termasuk urusan finansial. Unit cadas asal Bali ini misalnya. Dengan bekal pas-pasan, mereka berhasil merampungkan album debutnya, “Remind” hanya dengan fasilitas rekam seadanya, plus pembiayaan yang diirit semaksimal mungkin. 

“Pengerjaan album tersebut kami kerjaan di rumah dengan alat seadanya dan alat tersebut kami beli dari hasil lomba dan audisi yang sempat kami juarai, mengingat kami sebagai personel saat itu masih berstatus mahasiswa, jadi kami berusaha menekan budget serendah mungkin untuk proses album tersebut,” urai Name of Hate kepada MUSIKERAS.

Kini, “Remind” (Carrion Records) telah beredar di berbagai platform digital, serta juga dalam format fisik (CD).

Gilang Wiryawan (vokal), Yusuf ‘Fandy’ Afandy (gitar), Penda Usmana (gitar), Yudha Dinata (bass), Afwan ‘Wawan’ Maulana (dram) dan Aldi Maulana (kibord) yang mengawali karir Name of Hate sejak 26 November 2015 silam menggarap album “Remind” selama kurang lebih dua tahun. Proses keseluruhan dilakukan secara independen, mulai dari rekaman dan pengemasan (packaging) fisik CD hingga urusan publishing ke berbagai platform digital. 

Album “Remind” di mata para personel Name of Hate, lebih cenderung mendeskripsikan sisi emosional atau perasaan dalam sebuah hubungan. Filosofi dari kata ‘remind’ itu sendiri adalah ‘mengingatkan’, jadi dapat disimpulkan bahwa lagu-lagu di album tersebut berkisah tentang kejadian-kejadian di masa lalu yang sulit dilupakan hingga saat ini. 

“Dari segi referensi atau inspirasi musik yang kami ambil dominan dari genre post-hardcore, contohnya seperti Crown The Empire, Blessthefall, Asking Alexandria dan masih banyak lagi, namun kami memodifikasi agar terasa lebih fresh dan berbeda dari post-hardcore lainnya. Sehingga beberapa lagu yang ada di dalam album tersebut tidak sama rata genre-nya. Ada yang cenderung ke post-hardcore dan ada yang ke metalcore.”

Selama menjalani prosesi rekaman, Name of Hate menyebut lagu “Tikam” terbilang paling menantang. Menurut mereka, instrumentasi lagu tersebut cukup membuat kepala kami pusing. Lalu juga ada lagu “The Enemy” yang menurut mereka paling memuaskan dari segi musikalita.

“Sejujurnya lagu itu sangat simpel dan sederhana prosesnya, juga gampang-gampang susah. Tapi kami terus mencoba untuk membuat lagu tersebut terdengar lebih modern dan fresh meskipun sederhana.”

Oh ya, band ini memilih nama ‘Name of Hate’ dari ungkapan ‘persetan dengan nama’, yang didasari prinsip bahwa nama sebenarnya tidak begitu penting. Selama ada tekad dan niat yang kuat untuk terus berkarya, maka nama apa pun pasti akan terlihat bagus. 

Setelah album “Remind” dirilis, Name of Hate tidak berdiam diri. Dalam masa pandemi ini, mereka terus mengerjakan beberapa materi lagu baru dengan konsep serta instrumentasi yang lebih fresh. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *