Lewat “Worshipper”, BUSUK Akhirnya Muntahkan yang Terbaik

Usai jalan panjang yang lebih banyak dipanaskan lewat karya rekaman album mini (EP), album split serta beberapa kompilasi – termasuk yang terakhir berkontribusi di “Indonesian Tribute to Nasum” (2018) – Busuk akhirnya mampu lepas dari ancaman membusuk imbas kevakuman. Lewat label independen Lawless Records, unit metal ekstrim asal Depok yang telah menggeliat di skena sejak 2009 silam ini pun menumpahkan segala kemampuan terbaik mereka di laga grindcore dengan memuntahkan album bertajuk “Worshipper”. 

Dari segi musikal, apa yang istimewa di album debut ini menurut Busuk? Khususnya jika dibandingkan dengan karya-karya lepas mereka terdahulu?

“Yang istimewa, kami memikirkan konsep album ini secara matang sebelum kita merekam semua lagunya,” cetus Busuk kepada MUSIKERAS, mengonfirmasi.

“(Jika) Dibandingkan dengan karya kami sebelumnya, mungkin album ini lebih serius atau pendewasaan musik kami. Konsep musiknya secara menyeluruh mendeskripsikan keadaan dunia yang suram dan menyedihkan. Referensi musik kami kebanyakan (datang) dari band-band Swedia.”

Keistimewaan genre yang menjadi ‘agama’ panutan Busuk dalam menyampaikan unek-unek kerasnya di “Worshipper” ini dipilih karena dirasa lebih pas buat mereka. “Lebih bisa mewakili semua apa yang kami rasakan,” serunya.

Formasi Kristian ‘Tyan’ Parhusip (gitar), Fakih Triana (bass), Indrawan Juniarsyah (dram) dan Abdillah Nurul Ramdan (vokal) mengeksekusi rekaman “Worshipper” di empat studio berbeda. Khusus untuk sesi pengisian dram dilakukan di Plug Studio, lalu untuk gitar dan bass di Apache Music Studio, sementara untuk vokal di Sheva Studio. Tapi, tiga lagu yang termuat di album ini, yakni “Poison”, “Go Grind” serta nomor cover milik Disfear, unit crust punk asal Swedia yang berjudul “Get It Off” direkam secara live di Benji Music Studio. Keseluruhan proses pengerjaan “Worshipper” berlangsung selama sekitar enam bulan.

Keseluruhan, “Worshipper” beramunisikan 13 komposisi mengerikan yang menggerinda dalam tensi tinggi selama hampir setengah jam. Sepuluh lagu berdurasi singkat tanpa basa-basi yang belum disebutkan di atas adalah “Fight the Fire”, “Misbegotten”, “Still Continues”, “Animal Prey”, “Life Taker”, “Worshipper”, “Greedy”, “Malicious”, “Among the Storm” dan “Plague Bearer”.

Sebelum “Worshipper”, sebelumnya Busuk telah menancapkan catatan diskografi yang lumayan panjang. Di antaranya dua EP yang masing-masing berjudul “What Ever You Say” (2010) dan “Judgement Day Has Begun” (2011). Lalu ada tujuh album kompilasi serta tujuh album split bersama beberapa band dalam dan luar negeri. (mdy/MK01)

.

One reply on “ Lewat “Worshipper”, BUSUK Akhirnya Muntahkan yang Terbaik ”
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *