SETHOS Lepas EP Berkadar Ego Tingkat Tinggi

“Tujuan utama kami bukan hasil produksi, tapi hasil karya!”

Kalimat di atas dilontarkan unit black metal asal Ujungberung, Bandung ini untuk menegaskan fokus mereka saat menggodok album mini (EP) “Sethos – Unholy Legion” yang telah dirilis pada 6 September 2020 lalu via Sadist Records. 

Ada enam komposisi gelap nan mencekam yang bersemayam di kemasan EP self-titled tersebut, yakni “The Spells”, “Holy Treachery”, “The Beast”, “Divine Reaper”, “Drowned in Blood” dan nomor instrumental “The Unholy”. Semuanya direkam Cryptid Production, kecuali “The Spells” yang dieksekusi di Daevas Chamber. Sementara untuk mixing dan mastering dimatangkan di Insidious Soundlab.

EP ini, menurut Sethos, adalah perwujudan ide yang sudah lama tertahan, dengan konsep yang menjunjung tinggi egoisme, ketidakpedulian kolektif, dan pemikiran destruktif yang terangkai dalam ketidakaturan. Sebuah karya singkat yang telanjang tanpa banyak kemegahan dan kompleksitas. Penjabaran emosi yang dinamis dalam rentetan suara. Tidak banyak yang ditawarkan selain kejujuran dan spontanitas dalam berkarya.

“Semua lagu di album mini ini dibuat secara spontan, tanpa planning tanpa konsep, dengan tujuan emosi yang diberikan akan terasa lebih nyata. Proses penciptaan lagu tidak lebih dari satu jam, namun jeda (pengerjaan) antara lagu satu ke lagu lain bisa sampai satu bulan. Tidak ada kendala teknis yang berarti karena album ini dibuat secara sederhana. Tujuan utama kami bukan hasil produksi, tapi hasil karya,” koar pihak band kepada MUSIKERAS, 

Ya, kesederhanaan memang benar-benar dialirkan di urat nadi “Unholy Legion”. Tanpa banyak pernak-pernik. Para personel Sethos – Daevas (vokal), Maggot (bass), Andi Lazuardi (gitar), Agung Prasetia (gitar) dan Wawan Setiawan (dram) – yakin sangat mudah menebak ke mana arah musik yang mereka mainkan.

“Saking simpelnya lagu-lagu yang kami ciptakan. Mirip seperti musik pop, sangat mudah dicerna dan mungkin juga sama-sama murahan. Secara garis besar kami menyukai Norwegian Black Metal dan Swedish Black Metal, mau tidak mau akan ada nuansa itu di dalam musik kami.”

Dibanding band-band sejenis, Sethos juga tak melihat ada yang berbeda di sesembahan mereka. Sama-sama memainkan musik berdistorsi, dan sama-sama menggunakan corpsepaint, dan kami sama-sama menyukai black metal.

“Jadi kami pikir tidak ada pembeda antara kami dan mereka. Kami sama sekali tidak mencoba untuk menjadi berbeda, kami hanya ingin menjadi diri kami sendiri, kami hanya ingin jujur dalam berkarya.”

Setelah perilisan “Unholy Legion”, Sethos mengaku sebenarnya ingin menggelar acara peluncuran EP resmi serta melakukan tur. Namun mengingat situasi pandemi yang masih tak menentu, mereka tak tahu bagaimana mewujudkannya. 

“Di masa sekarang cukup sulit untuk memprediksi apa yang akan terjadi. Jika hal-hal yang sudah disebutkan tidak mungkin terjadi, kami akan mencari cara lain untuk berkreasi.”

Sebelum melahirkan “Unholy Legion”, Sethos yang terbentuk pada Maret 2017 telah menghasilkan karya rekaman promo “Invisible Divinity” (2017) yang diedarkan dalam format CD dalam jumlah terbatas serta single “Defiying Unworthy Deity” (2018). (aug/MK02)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *