Visualisasi “Grind For Better Life” Menandai 20 Tahun PROLETAR

Di saat kebanyakan kelompok penganut musik cadas mengisi kekosongan akibat pandemi dengan melahirkan karya lagu atau album, Proletar mendadak menerobos ke permukaan dengan proyek yang lebih terasa prestisius dan berbeda. Pada 30 September 2020 mendatang, unit grindcore asal Jakarta ini telah memastikan bakal merilis film dokumenter tentang perjalanan karir mereka yang telah terentang hingga dua dekade.

“Grind For Better Life” – judul film tersebut – berdurasi 129 menit dan diproyeksikan bakal diabadikan dalam format DVD. Penuturan visualisasi kisah hidup Proletar ini diproduksi bersama Area41 Workshop dan disutradarai oleh Diansyah Rizky. Tentu saja, para personel Proletar saat ini, yakni Moch. Reza Pahlevi a.k.a. Levoy (scream/dram), Benino ‘Nino’ Aspiranta (vokal growl) dan Sofwatul ‘Ipul’ Abidin (gitar) mendampingi sepanjang proses penggarapannya.

“Dua puluh tahun Proletar adalah yang melatarbelakangi dibuatnya film ini awalnya,” tutur Ipul kepada MUSIKERAS, mewakili rekan-rekannya di band.

Ya, pertengahan 2019 lalu sebenarnya Proletar tepat berusia dua dekade, sehingga pada awal 2019 sudah tercetus ide dan gagasan dari teman mereka, Jimi (Jimrock) untuk membuat film dokumenter tentang 20 tahun perjalanan Proletar. 

“Beberapa bulan mengumpulkan materi, wawancara, testimoni dari beberapa teman di Jakarta dan luar kota. Sampai akhirnya, Jimi sibuk karena menikah dan (akhirnya) tinggal di Bandung. Stuck cukup lama, akhirnya kami memutuskan untuk mengganti orang yang kebetulan teman kami juga untuk meneruskan proyek ini, Diansyah (Rizky) namanya. Dia yang membuat film ini akhirnya terealisasi. Konsep akhirnya kita ubah dengan mengabaikan konsep tentang ‘Anniversary 20 tahun’. Jadi film ini total menceritakan perjalanan dari awal berdiri Proletar sampai saat ini,” urai Ipul lagi panjang lebar.  

Jika dihitung-hitung keseluruhan, Proletar dan tim menggarap produksi “Grind For Better Life” sejak awal 2019 hingga awal September 2020. Sepanjang menjalani prosesnya, tantangan yang mereka hadapi lumayan banyak.

“Dari mulai pengumpulan materi rilisan, pengumpulan stok gambar, flyer dan lain-lain. Kami juga harus mengingat-ingat lagi kapan tahun-tahun show/gig, dengan line up siapa? Line up tersebut rilisannya apa aja dan sebagainya. Kami juga dibantu oleh teman-teman yang ikut atau berada di momen tersebut sebagai pengingat yang cukup ampuh.”

Selain menggelar berbagai arsip rekaman manggung dari berbagai sumber (footage) baik dari tur lokal maupun luar negeri, film “Grind For Better Life” juga mengisahkan tentang ihwal terbentuknya Proletar, pengalaman rekaman pertama kali dan pilihan untuk menjalani etos kerja Do-It-Yourself dalam mempublikasikan karya-karyanya, dan berjejaring dengan skena lintas genre baik dalam negeri maupun mancanegara, serta cerita tentang serangkaian badai yang menghantam ketika harus menghadapi fase pergantian personel. Semuanya disuguhkan berurutan, saling terkait dari tahun ke tahun, dari awal terbentuk hingga hari ini. 

Lalu berapa biaya yang dibelanjakan Proletar untuk merampungkan “Grind For Better Life”? “Kami nggak ngitung sudah berapa banyak, semua mengalir dan dikerjakan bersama-sama,” seru Ipul diplomatis.

Sedikit tambahan informasi, judul “Grind For Better Life” sendiri diambil dari salah satu lagu Proletar yang termuat di album split bersama unit progressive grindcore asal AS, Greber yang dirilis pada Juli 2012 silam.

Usai perilisan “Grind For Better Life”, Proletar mengakui masih banyak ‘pekerjaan rumah’ untuk mendukung promosi film dokumenter mereka tersebut. Mereka berencana akan bergerilya lagi, melakukan serangkaian kegiatan pemutaran film ke berbagai lokasi (screening tour), walau dengan kondisi pandemi seperti saat ini. Mereka juga harus menyiapkan perilisan dalam format fisik DVD setelah merampungkan tur tersebut. Dan juga ada kemungkinan memadukannya (bundling) dengan album terbaru Proletar. 

“Sebenarnya kami sedang proses rekaman, sudah masuk delapan lagu, tapi harus terhenti karena covid. Tapi kami juga harus fokus dengan penggarapan film jadi proses rekaman terhambat. Selesainya screening kemungkinan kami akan melanjutkan proses rekaman sampai selesai,” beber Ipul menjanjikan.

Terbentuk di Setiabudi, Jakarta Selatan pada 1999 silam, Proletar sampai saat ini masih bertahan solid untuk terus menyebarkan virus grind/crust yang berbahaya. Band ini lahir dari semangat berkomunikasi dan memperluas jaringan dalam menyebarkan setiap karya-karyanya, yang terbukti telah menelurkan seabrek karya rekaman split, yang menyandingkan mereka dengan berbagai band lokal dan mancanegara. Sejak awal terbentuk, terjadi beberapa kali pergantian personel hingga sampai pada titik dimana formasi saat ini menjadi salah satu yang terbaik dalam karir mereka. Proletar berharap dalam setiap pembuatan materi maupun berbagai proyek yang bakal mereka kerjakan selanjutnya dapat membuat Proletar semakin dewasa dan aktif dalam berkarya. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *