KEKAL Capai Usia 25 Tahun, Lalu Rayakan “Quantum Resolution”

Kekal, pada awalnya, tercatat sebagai band metal Indonesia pertama yang pernah melakukan tur Eropa, tepatnya pada Maret 2004 silam, dimana mereka menyambangi Jerman, Swedia dan Belanda. Sementara peredaran album-albumnya saat itu, juga bisa menembus pasar Amerika Utara dan Eropa.

Kini, tak terasa sudah seperempat abad usia band penganut paham musik keras eksperimental ini melanglang jagat musik independen. Sebuah album baru bertajuk “Quantum Resolution” lantas diletupkan untuk menandai pencapaian tersebut, sekaligus melengkapi 11 album yang telah mereka cecarkan sejak terbentuk pada 1995 silam.

Bagi Anda yang kebetulan mengikuti evolusi Kekal, tentu sudah sangat paham bahwa metal tidak lagi menjadi satu-satunya kitab yang menjadi pegangan band ini. “Quantum Resolution” justru menajamkan visi musikal Kekal yang semakin terkonsep, dimana mereka mematok tema tertentu di liriknya, lalu menganyam balutan musiknya ke altar avant-garde bertabur elemen ekspresif, hasil serapan dari intisari rock, metal dan elektronik. 

“Quantum Resolution” mulai digarap tak lama setelah otak utama Kekal, Jeff Arwadi merampungkan album “Deeper Underground” (2018). Butuh waktu hampir 15 bulan untuk menyempurnakannya, setidaknya hingga memenuhi standar konsep yang diinginkan. 

Oh ya, sejak 12 Agustus 2009, Jeff telah memutuskan format Kekal menjadi ‘one man band’, dimana ia menjadi satu-satunya pilot yang mengendalikan geliat kreativitas band ini, menjadi ‘the man behind the gun’. Ia menulis lagu, menggarap dan memainkan musiknya, memproduseri, mengoperasikan sendiri teknis rekamannya, termasuk eksekusi mixing dan mastering.

Lebih jauh tentang “Quantum Resolution”, berikut ungkapan Jeff terhadap tiga pertanyaan esensial dari MUSIKERAS. 

Anda menyebutkan bahwa butuh waktu lebih dari setahun untuk menggarap “Quantum Resolution”. Ceritakan proses kreatif saat merekamnya dan faktor apakah yang membuat prosesnya berlangsung lama??

Proses rekaman dilakukan di tempat tinggal saya, dan ini bukan dalam set-up seperti layaknya studio rekaman, tapi sangat sederhana sebenarnya. Sebagian besar proses dilakukan secara digital di dalam komputer, dan sudah cukup lama, lebih dari 10 tahun, proses penulisan lagu-lagu Kekal dilakukan bersamaan dengan proses produksi. 

Di album ‘Quantum Resolution’ ini, saya menulis lirik lagu terlebih dahulu sampai selesai, dan baru setelah itu musiknya mulai digarap dengan menerjemahkan inti-inti yang dipersepsikan dalam lirik lagunya. Memang pada awalnya cukup sulit dalam menerjemahkan inti sebuah lirik ke dalam ekspresi musik, tapi karena saya sudah melakukan hal seperti ini cukup lama, melalui banyak kegagalan pada awalnya, jadi bisa dikatakan saat ini sudah lumayan terbiasa dengan metode yang diambil. 

Proses rekaman dan penulisan musik dilakukan per lagu, satu demi satu. Dan sejak 2019 beberapa lagu sudah dilepas terlebih dahulu secara individual dalam format digital, terutama untuk streaming, sebelum albumnya sendiri dirilis bulan Agustus yang lalu. Faktor utama dari lamanya proses produksi itu dikarenakan saya tidak punya terlalu banyak waktu luang untuk menggarap musik, itu hanya dilakukan di tengah-tengah kesibukan lainnya terutama dalam pekerjaan saya di luar musik yang cukup menyita waktu sehari-hari. 

Dari segi musikal, kami tahu agak sulit untuk mendefenisikan genre Kekal saat ini. Tapi bagaimana pun, harus ada deskripsi yang bisa menggiring imanjinasi pembaca. Bisa dijelaskan…? 

Nah, mendeskripsikan musiknya Kekal ini yang menurut saya pribadi paling sulit, soalnya saya tidak lagi mempersepsikan musik dari sudut pandang genre atau warna musik. Seringkali saya salah dalam mengategorikan musik tertentu ke dalam kotak-kotak genre musik yang ada. Musik Kekal selama ini banyak dikategorikan sebagai progressive metal, juga avant-garde/experimental metal, dan ada cukup besar elemen musik elektronik di dalamnya. Itu yang saya ketahui dan juga bisa dipertanggung-jawabkan. Kategori-kategori itu didapat dari sebagian besar resensi album yang masuk.

Kalau deskripsi dari saya sendiri mungkin sifatnya lebih abstrak, dan kemungkinan besar akan disalah-artikan. Label rekaman Eastbreath Records, yang melepas album ‘Quantum Resolution’ dalam format CD di pasar Indonesia, melihat musik Kekal sebagai ‘complex music’, tapi saya sendiri tidak melihat kompleksitas musiknya dari segi struktur aransemen ataupun teknikalitas yang dikaitkan dengan seberapa cepat nada-nada dimainkan dalam gitar atau pun densitas dari ketukan-ketukan dram. Jadi kalau misalnya musiknya Kekal bisa disebut ‘kompleks’, dimensi-nya menurut pendapat saya lebih bersifat tekstural daripada struktural. Bagaimanapun juga, saat ini musik Kekal sudah cukup mudah untuk dicari di internet, ada baiknya memang pendengar bisa langsung mendengarkannya di YouTube, Spotify, atau kanal-kanal digital yang ada. Dari situ persepsi masing-masing pendengar mengenai seperti apa musiknya Kekal bisa didapat.

Jika dibandingkan dengan “Deeper Underground”, menurut Anda apa perbedaan signifikan yang diterapkan di “Quantum Resolution” dari segi konsep musikal serta lirik?

Album ‘Deeper Underground’ menurut saya bisa disebut sebagai album yang cukup ‘berbeda’ kalau dilihat dari bentuk-bentuk musik yang ditawarkan Kekal. Sedangkan ‘Quantum Resolution’ sedikit-banyak lebih ‘sejalan’ dengan beberapa album Kekal terdahulu seperti ‘Multilateral’ (2015) dan ‘The Habit of Fire’ (2007). ‘Deeper Underground’ ini secara temperamen dan energi musik bisa dibilang cukup ‘panas’, juga lebih ‘liar’ dan intens, karena memang kebanyakan lirik lagu-lagu di album tersebut ‘mengharuskan’ musiknya untuk memiliki temperamen seperti itu.

Di album ‘Quantum Resolution’, ekspresi musik tidak terfokus pada energi, tapi ke dalam bagaimana kita melihat proses interaksi dari bentuk-bentuk ekspresi tertentu di dalam konteks pemakaian ruang yang ada. Maaf kalau bahasa saya seperti ini, ya seperti ini sulitnya kalau saya mencoba mendeskripsikan sebuah musik, hehehe.

‘Quantum Resolution’ juga secara lirikal bisa disebut sebagai ‘concept album’, di mana semua lirik lagunya memiliki tema yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Perbedaan yang mendasar, menurut saya, adalah dalam bagaimana kita mendengarkan musiknya. Untuk album ‘Deeper Underground’, pendengar tidak perlu mendengarkan lagu-lagunya satu album penuh, tapi untuk ‘Quantum Resolution’ kalau lagu-lagu tidak didengarkan seluruhnya dalam satu album dan juga berurutan dari track pertama sampai track terakhir, akan dirasakan ada hal yang ‘hilang’ di situ. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *