VOX MORTIS Bela Hewan dengan Kebuasan Death Metal

Masih berciri death metal pada umumnya, dimana liriknya meluapkan keresahan berbalut ironi yang diraungkan dengan penuh murka. Tapi Vox Mortis bukan band cadas seperti yang sering kalian dengar sehari-hari. Karya mereka adalah media propaganda yang fokus menghujat ulah manusia terhadap kucing dan anjing, dua hewan domestik yang paling tidak mendapatkan perlindungan. Ya, band yang baru terbentuk di awal pandemi ini mengepalkan urgensi dalam menyuarakan kesejahteraan hewan domestik di bawah panji musik ekstrim.

Unek-unek dengan kepedasan distorsi tingkat dewa tersebut kini telah dilampiaskan lewat dua single debut sekaligus, bertajuk “Primata Durjana” dan “Forever No To Dog Meat”, dimana mixing dan mastering dibidani oleh Rsharsh Leonard di Tonebetter Soundlab.

“Anda pasti setuju jika perjuangan tidak melulu soal perang, pula melalui diskusi dan diplomasi. Sementara kami siap untuk bertumpah darah, sisi diplomasi juga tidak dikesampingkan. Vox Mortis adalah pengejawantahan dua sisi itu,” koar band asal Jakarta tersebut, menandaskan.

Kepada MUSIKERAS, Doni Herdaru Tona selaku vokalis dan penulis lagu menegaskan: “Kami akan menggerus kekejaman pada hewan melalui gemuruh musik kami bersama kampanye yang melekat pada penulisan lirik dan pemilihan tema yang berkisar pada penegakan kesejahteraan hewan dan lingkungan. Musik kami adalah bentuk perang dan sekaligus diplomasi dalam satu bungkus dengan tiga karet, penanda isinya banyak ‘cabe’nya. Pedas banget!”

Secara spesifik, Doni yang sebelumnya dikenal lewat band Funeral Inception dan juga sejak dulu konsisten menyuarakan perlindungan hewan menyebut “Primata Durjana” sebagai ungkapan kekesalannya atas superioritas semu manusia terhadap hewan dan lingkungan, berlaku semena-mena dan arogan. Sementara di “Forever No To Dog Meat”, ia menyerukan rangkaian kampanye stop makan daging anjing yang korelatif dengan perjuangan Vox Mortis di area non-musikal, di area penegakan hukum bersama organisasi mereka, Animal Defenders Indonesia.

Untuk musik, Vox Mortis yang juga diperkuat ‘orang lama’ lainnya: dramer Achmad Mustaid (Vomitology) dan bassis Donirro Hayashi (Last Blood) mengedepankan performa death metal dengan corak musik progresif, memadukan pukulan blastbeat yang intens, serta vokal growl yang meledak-ledak. Liriknya bertema keresahan berbalut ironi yang dikumandangkan dengan penuh murka. Komposisi lagunya dibuat segenerik mungkin dengan menyisipkan elemen maupun efek pendukung untuk menghasilkan atmosfer yang epik.

“Musik Vox Mortis sangat dipengaruhi oleh dewa-dewa death metal seperti Suffocation, Dying Fetus hingga ke band-band newschool (seperti) Abominable Putridity, Visceral Disgorge. US Death Metal sih mayoritas influence kami,” cetus Doni lebih rinci.

Disamping “Primata Durjana” dan “Forever No To Dog Meat”, Vox Mortis juga telah mencanangkan rencana merilis album debut, yang ditargetkan bisa terwujud pada awal Januari 2021. Saat ini, proses penulisan lagu sudah mencapai 40% dari 10 lagu yang diproyeksikan, dan berharap bisa mengeksekusi rekamannya mulai November 2020 mendatang.

Dua single awal Vox Mortis kini sudah bisa didengarkan di berbagai platform penyedia jasa dengar musik secara digital (streaming) seperti Joox, iTunes, Deezer, Spotify, Apple Music, Amazon Music, Shazam hingga Bandcamp sejak 9 September 2020. (mdy/MK01)

Kredit foto: Bastart Photography

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *