Sambut SHVRON, Magnet Baru dari Panggung Emo/Post-Hardcore

Era ‘80an, solois wanita yang bergulat di pentas musik keras cukup banyak. Saat itu sebutannya ‘lady rocker’. Nama-nama yang paling menonjol di antaranya ada Nicky Astria dan Mel Shandy. Lalu masuk dekade berikutnya, ada Jennifer Jill yang menancapkan standar baru dalam penerapan vokal wanita, dimana ia lebih berani melampiaskan energi ekstrim dalam balutan distorsi hardcore besutan bandnya, Step Forward. Di Bandung, ada sosok Phopira yang lumayan mencuri perhatian publik metalhead lewat kegarangan vokalnya saat masih tergabung di unit metal Lose It All.

Kini, tentu saja sudah sangat banyak band yang berani mengedepankan vokal feminin di tengah kebisingan distorsi yang galak. Salah satunya yang paling fresh, Sharon Karr, solois kelahiran 1999 asal Jakarta yang mengibarkan eksistensinya menggunakan nama Shvron. 

Shvron adalah sebuah paket lengkap. Tidak hanya mengandalkan talenta serta karakter vokal yang terpengaruh kuat gaya emo, screamo dan post-hardcore, namun juga membalut sekujur fisiknya dengan dandanan atraktif. Jika di antara kalian ada yang pernah ke event Emonite Jakarta, tentunya akan sangat mudah mengenal kehadiran Shvron yang selalu nyentrik, dengan rambut berwarna-warni serta fashion yang sangat ‘emo’. Ia menjadikan emo sebagai identitas dirinya, dan musik ‘bawah tanah’ sebagai pendampingnya.

Kini, untuk menegaskan eksistensinya, Shvron telah melepas single perkenalan, bertajuk “Burn” yang sangat ketal menyari elemen emo, post-hardcore, hardcore dan electronic. Dari sisi lirik, karya rekaman debutnya yang diedarkan via Amplop Records tersebut menuturkan tentang seseorang yang suka berperan sebagai korban dan tidak ingin mengambil tanggung jawab atas tindakannya, dan ia pun harus membayar harga kekacauan yang telah ia timbulkan.

“Burn” sendiri tercipta dari gagasan Rizky Syahrial Putra, gitaris band Goodenough yang ingin mencoba sesuatu dengan menggabungkan musik emo dan post-hardcore dan dinyanyikan oleh seorang wanita. Seperti tuturan infonya kepada MUSIKERAS, Rizky memasukkan sisi emo di permainan nada untuk verse dan chorus serta juga menyelipkan sesi patahan-patahan (breakdown) layaknya post-hardcore, screamo atau hardcore di tengah-tengah lagu.

Akhirnya, Rizky yang berperan sebagai produser musik sekaligus pengisi gitar di lagu “Burn” memutuskan untuk melakukan proses rekaman dengan Shvron di Amplop Records. Untuk pengisian bass, dibantu oleh Allan Budi Wijaya, juga dari Goodenough. Proses penggarapannya berlangsung sekitar tiga bulan untuk eksekusi rekaman, termasuk proses pemolesan mixing dan mastering yang ditangani oleh Yos Bonar Singgah dari Goodenough dan Life Cicla sebagai penata suara.

Formula yang diterapkan di komposisi “Burn” deskripsikan pihak Shvron sebagai penggabungan sisi ego dari Rizky dan Shvron di dalam aransemen yang diciptakan. Sebenarnya, referensi serta inspirasi yang mereka terapkan bisa dibilang cukup universal. Kebanyakan dari band atau musisi dari era ‘2000an seperti Linkin Park, Avril Lavigne, Story Of The Year hingga Paramore. 

“Ada juga band atau musisi dari era modern macam Tonight Alive, Hands Like Houses, Halsey, Yungblud, PVRIS dan lainnya,” cetus pihak Shvron, menegaskan. 

“Burn” sekaligus menjadi jembatan menuju perilisan album mini (EP) yang penggarapannya sudah mencapai 80% dari keseluruhan proses. Bahkan kini sedang dalam tahap mixing dan mastering untuk seluruh materi yang berisikan lima lagu. Rencananya, jika tak ada halangan, EP tersebut bakal dirilis pada November 2020 mendatang. 

Dengarkan “Burn” di berbagai platform penyedia layanan dengar musik secara digital (streaming) seperti Spotify, Soundcloud dan YouTube. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *