PERAUKERTAS Tolak Terborgol, Cetuskan “Adaptasi Atau Mati”

Berhenti di sini bukan opsi, atau pula negosiasi, hanya ada satu pilihan. Adaptasi Atau Mati.

Ada yang berbeda di single terbaru unit rock ‘organik’ asal Bekasi ini, yang bertajuk “Adaptasi Atau Mati”. Untuk pertama kalinya, band bentukan September 2016 tersebut menggandeng musisi lain untuk berkolaborasi, yakni rapper yang sedang laris saat ini, Tuan Tigabelas. Bukan cuma itu. Gaya penulisan lirik pun kini mengalami pergeseran konsep.

“Lagu-lagu kami sebelumnya banyak menggunakan kiasan atau literasi. Nah, lagu ini benar-benar pengen bahasa yang mudah dimengerti aja deh. Dan kayaknya lagu ini juga akan jadi role model buat lagu-lagu selanjutnya,” papar Peraukertas kepada MUSIKERAS, menajamkan niatnya.

Berawal dari ide membuat lagu tentang anak band yang kangen suasana panggung off air setelah tidak manggung selama hampir tiga bulan lamanya lantaran deraan pandemi. Tiga personelnya; Candra Riadiyanto (vokal/gitar), Hardi Arief Pambudi (bass/vokal latar) dan Halilintar ‘Manjoy’ Syumanjaya (dram/vokal latar) membuat sebuah komposisi lagu untuk menyuarakan isi hati mereka. Bercerita mengenai anak band yang terpaksa manggung di media sosial. Semua itu mau tidak mau harus dilakukan jika ingin tetap manggung, bertahan, bergerak dan eksis. 

Tadinya, komposisi tersebut hanya berdurasi satu menit dan memang hanya diperuntukkan sebagai konten Instagram. Lalu, Peraukertas merasa perlu seseorang yang dapat membuat lagu ini bisa berlayar dan berlabuh ke telinga pendengar yang lebih luas lagi. Dari beberapa nama teman musisi, mencuatlah nama Tuan Tigabelas. Kebetulan, kedua pihak sudah pernah bertemu sebelumnya, tepatnya pada 2018 di suatu panggung dan acara yang sama. Pertemuan itulah yang membuat Peraukertas sangat antusias untuk bisa berkolaborasi dengan Tuan Tigabelas. Dan setelah beberapa kali diniatkan berkolaborasi, baru lewat single “Adaptasi Atau Mati” inilah keduanya berjodoh.

“Gue suka banget vibes lagunya. Kok kepikiran sih ‘Adaptasi Atau Mati’? Tapi, gimana kalo liriknya kita buat yang lebih general? (Karena) Gue sebenernya menghindari bahas korona ini, sebel gue. Jadi, gue lebih general aja, emang situasinya lagi susah, tapi bukan berarti kita nyerah. Situasinya berengsek, sistemnya berengsek, kenyataan hidupnya berengsek. Tapi, mau nggak mau harus adaptasi. Kita semua emang harus adaptasi kalo nggak ya mati.” 

Begitu respon Tuan Tigabelas saat pertama kali dikirim materinya oleh Candra. Dan respon itu pun disambut dengan antusias oleh Peraukertas. Tiga bulan tidak manggung seolah bukan suatu problema lagi setelah mendapatkan sebuah tantangan dan respon menarik dari sang rapper

Butuh waktu sekitar dua minggu hingga akhirnya lirik “Adaptasi Atau Mati” dengan konteks yang lebih general ini rampung. Pada saat mengubah konteks dari yang personal hingga general, Candra mengakui tidak hanya ingin asal menulis dengan keadaan yang belum sepenuhnya dipahami. Candra butuh waktu untuk meresapi, merespon, melihat sendiri dan juga mendengar curhatan orang-orang terdekat. 

“Terpaksa berteman dengan keadaan meski terkadang sangat menyebalkan,” cetus Candra.

“Siapa yang bertahan bisa angkat piala. Berhenti bukanlah opsi, bukan juga negosiasi. Hanya ada satu pilihan, yaitu ‘Adaptasi Atau Mati’. Adaptasi atau kita akan tertinggal,” sahut Hardi menimpali.

Selain konteks judul dan juga ceritanya, lagu ini pun terus beradaptasi dari segi lirik maupun aransemen. Dari awalnya konten satu menit berkembang menjadi lagu seutuhnya. Dari irama yang cenderung lambat menanjak ke tensi meninggi dan membara. Sebuah kolaborasi yang sangat mendalam dan sarat eksperimen. Menurut Peraukertas, tanpa kehadiran sosok Tuan Tigabelas, lagu “Adaptasi atau Mati” tidak akan sampai menjadi seperti sekarang. Sebuah takdir dan jodoh yang sangat magis. 

Dari lini musik, Peraukertas tetap konsisten mengembangkan konsep musikal yang organik, tanpa mematok referensi khusus. Kalau pun ada, menurut mereka, biasanya justru muncul di tengah jalan atau saat produksi sudah mendekati finalisasi. 

“Nah, kalo lagu ini, waktu itu akhirnya nggak sengaja nemu referensi lagunya Bring Me the Horizon yang ‘Parasite Eve’, terus lagunya Falling In Reverse yang ‘Popular Monster’, Muse yang ‘Stockholm Syndrome’ serta Don Broco yang ‘Money Power Fame’ buat (referensi) kemasan mastering-nya. (Jadi) Lebih ke mood sama vibes-nya sih yang dicari….”

Oh ya, satu lagi kolaborasi yang terjadi di single “Adaptasi Atau Mati” adalah sentuhan permainan gitar dari Bagus Pandu dari band Delika. Menurut pihak band, Delika adalah salah satu band jebolan Levi’s Band Hunt 2018, sama seperti Peraukertas. Nah, mereka punya semacam ekosistem pergerakan bernama Indieventure yang dihuni band-band keluaran event tersebut.

“Nah kami masih sering main bareng, tukar pikiran, bikin acara bareng. Salah satunya adalah Delika Band. Kebetulan pas lagi rekaman gitar ada Bagus Delika main ke studio, sekalian deh bersinergi bareng. Karena emang lagi pengen banget eksperimen kolaborasian sama lagu ini…. Selain Bagus juga ada Tj Abdillah yang ngisi backing vocal.”

Setelah “Adaptasi Atau Mati”, rencana terdekat Peraukertas adalah merilis single baru. Setiap dua bulan, mereka mencanangkan ada karya baru yang dilepas sampai pertengahan 2021, dimana mereka akan menuangkan keseluruhan dalam kemasan album. “Sejauh ini sudah terkumpul delapan lagu kandidat, tinggal workshop dan rekaman full. Mudah-mudahan lancar jaya tanpa hambatan,” seru pihak band optimistis.

Sebelum “Adaptasi Atau Mati” yang sudah diedarkan sejak Agustus 2020 lalu, Peraukertas sebelumnya telah merilis single “Ini Aku!” (2017), “Merah Membiru” (2018), EP “Aurora” (2018) serta single “Terang Bersulam” (2019). (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *