Resensi: Mitos Gelap dalam Paparan Hardcore Metalik

(Artis) Fraud – (Album) Sanctuary – (Prod.) 2020 BlackandJe Records

Kegelapan bisa disampaikan, tanpa harus kehilangan groove.

Tak apa jika kalian baru sempat mendengarkan lagu “The Prophecy” atau “The World Cursing Me” (atau “This World is Cursing Me”?) yang sudah lebih dulu gentayangan di kanal YouTube. Satu yang pasti bisa disimpulkan, garapan lirik serta goncangan musik Fraud di album “Sanctuary” ini semakin pekat, seolah menggiring kita – saat mendengarkannya – ikut masuk ke kegelapan dunia lain yang mistis dan menakutkan. Dan dua lagu yang disebutkan tadi, plus intro “Valley of Fire” yang membuka album sangat mewakili ‘roh’ yang ingin dikedepankan Fraud kali ini. 

Memang, Ardiansyah ‘Kecenk’ (gitar), Bayuaji Hastutama (vokal), Rama Nanda (dram) dan Agushari ‘Soul Lamb’ (bass) mengakui, kali ini mencoba bereksperimen dalam penulisan lirik. Jika dirangkai, tiap-tiap fragmen yang termaktub di tiap reportoar mereka bakal membentuk sebuah kisah terkait mitos yang mulai ditepikan oleh zaman. Salah satunya telah divisualisasikan dalam klip video pertama Fraud yang bertajuk “The Prophecy”.

Niatnya, Fraud ingin memangkas mata rantai dogma di album ini. Berupaya untuk merangkai sebuah kisah tentang manusia-manusia yang menyangkal doktrin lunatik warisan leluhurnya. ‘Sanctuary’ atau yang berarti ‘suaka’, dimaksudkan Fraud sebagai ruang eksplorasi manusia untuk menemukan kebenaran masing-masing. Lewat caranya masing-masing. Sekaligus, sebagai deklarasi sikap Fraud yang mengutuk kelompok-kelompok intoleran, yang memaksakan dunia menjadi seragam, mengikuti jalan mereka – para pemuja dogma lama – dan mengandaikan kebenaran sebagai milik mereka semata. 

Eksplorasi dalam lirik tentu saja membutuhkan penyampaian yang mampu menegaskan ekspresi Fraud. Katakanlah, hardcore mungkin tak cukup kuat menanggung beban keseluruhan intensitasnya, sehingga butuh tendangan metalik yang lebih kejam untuk melampiaskan karya berdurasi 31:13 menit tersebut secara maksimal. Pelampiasannya, kini pola permainan riff gitar menjadi lebih thrashy dengan distorsi tebal, pekat dan terburai lebar, yang dipandu berondongan dram yang lebih eksplosif dan ganas plus raungan parau di lini vokal yang menggelegar.

Tapi seperti kutipan kalimat di awal artikel tadi, kegelapan dalam lirik bisa menjebak olahan musik tergeret ke nuansa yang pun kelam. Tapi terima kasih untuk perjalanan panjang dalam kubangan hardcore yang sudah mendarah daging di band ini. Tancapan groove yang memaksa kepala mengayun naik-turun tetap menjadi pondasi kuat tak tergoyahkan, yang menopang keseluruhan lagu di “Sanctuary”. 

Formula tersebut, menurut kami, penetrasi paling beringas terjadi di komposisi “Live with the Pain”, “Tell the Truth”, “Kontra Martir” dan “The World Cursing Me”.

Dan satu lagi. Dua studio yang menjadi dapur utama Fraud dalam meramu sound rekamannya, yakni Inferno Studio (Surabaya) serta Fun House Studio (Bandung) tampaknya membuahkan senyuman lebar. “Sanctuary” benar-benar terdengar perkasa, jauh meninggalkan kualitas rekaman album sebelumnya, “No Fans Just Friend” (2014) dan “Movement Before Mouthment” (2015) di belakang.

Oh ya, Fraud yang telah menggeliat di skena independen sejak 2010 silam mempersembahkan “Sanctuary” ini sebagai monumen peringatan satu dekade perjalanan mereka. Selain dalam format fisik CD, juga bisa disimak via berbagai platform digital. (mudya mustamin/MK01)

.

One reply on “ Resensi: Mitos Gelap dalam Paparan Hardcore Metalik ”
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *