CHILDREN OF GAZA Menyalak Lagi, Letupkan Konsep Baru

Sebenarnya unit metal bernuansa Timur Tengah ini telah menggeliat sejak 2010 silam dan terbilang cukup aktif. Tapi setelah sekitar tujuh tahun bergerilya di skena underground, kesibukan para personelnya memaksa laju band asal Bekasi tersebut terhenti sejenak. Formasi Children of Gaza lalu hanya menyisakan sang vokalis, Husein Al Atas karena personel lainnya memilih mengundurkan diri.   

Pada 2018, Husein yang juga dikenal sebagai runner-up ajang kompetisi vokal Indonesian Idol 2014, perlahan menggerakkan roda Children of Gaza lagi dengan merekrut personel baru. Namun dalam kurun waktu lebih dari setahun, sempat terjadi beberapa kali bongkar pasang formasi, hingga akhirnya Husein dan dua personel dari formasi awal Children of Gaza, yakni Freddy Pardamean (bass) dan Muhammad Maldo (dram) sepakat untuk menancapkan kembali eksistensi Children of Gaza. Ketiganya kemudian diperkuat oleh gitaris baru, Rahadiyan Harris. 

Formasi itulah yang lantas melahirkan “Hina Angkara”, single terbaru yang telah diluncurkan via Sanca Records pada 25 September 2020 lalu. 

Lahirnya “Hina Angkara” dimulai dari proses tukar pikiran antara Husein dengan Freddy mengenai konsep yang bakal dikedepankan Children of Gaza selanjutnya. Lalu muncul gagasan dari Husein untuk mengurangi porsi unsur folk Timur Tengah dan memilih lebih menonjolkan elemen modern di garapan musiknya. Singkat cerita, Freddy pun mulai menggarap komposisi musik lagu baru tersebut, sambil merekomendasikan Rahadiyan Harris untuk menempati posisi sebagai gitaris terbaru Children of Gaza. 

Bergabungnya Harris menjadi penyempurna formasi Children of Gaza. Latar belakang musikalnya yang lebih kental akan karakter djent menjadi suntikan darah segar bagi band yang justru didominasi latar belakang metalcore ini.

“Ternyata Harris ini djent sekali anaknya,” seru Husein kepada MUSIKERAS, meyakinkan. “Makanya, di single terbaru ini ada unsur djent-nya, sementara gue dan personel lainnya latar belakangnya metalcore. Jadi gue dulunya lebih sering dengerin Trivium, All That Remains, Killswitch Engage, August Burns Red…. sementara Harris lebih sering denger kayak Peripherry…. Nah, akhirnya aransemen yang sudah dibikin oleh Freddy disempurnakan lagi oleh Harris secara sound. Jadi boleh dibilang lagu ini aranjernya Freddy, lalu gue bikin vokal dan liriknya.

Hanya butuh waktu kurang dari dua minggu bagi Children of Gaza untuk menggarap  rekaman “Hina Angkara”. Itu sudah termasuk tahapan revisi serta pemolesan mixing dan mastering yang masing-masing dieksekusi di LC Records dan di Sanca Records, Bekasi. Harris sendiri terlibat cukup jauh di penggodokan single tersebut, dimana ia yang mengatur teknis rekaman, mengolah sound, balancing, editing hingga mixing dan mastering.

Secara musikal, tutur Husein lagi, kini Children of Gaza memasuki fase baru dimana unsur metal yang modern lebih mendominasi dan kekinian. Lumayan jauh berbeda jika dibandingkan dengan konsep Children of Gaza terdahulu. Kini bisa dibilang memadukan metalcore dengan sentuhan djent. Kontribusi Harris dianggap berhasil menyuntikkan unsur djent ke dalam racikan metalcore.

“Di lagu-lagu Children of Gaza sebelumnya nggak pernah ada riff-riff atau progresi kord kayak gitu, karena ada (pengaruh) cara main Freddy dan sound djent Harris di situ. Aransemen folk Middle East (juga) sangat dikurangi, nggak ada alat musik folk atau gendang, nggak ada lantun vokal ala Middle East, ini benar-benar Children of Gaza mengeluarkan modern metalcore-nya.”

Lirik juga berbeda. Sebelumnya Husein banyak membahas tentang perang, tentang suasana perang yang mencekam, atau panas dinginnya perang. Intinya tak jauh-jauh dari tema perang, terutama yang berhubungan dengan konflik yang terjadi di Gaza, Suriah, Chechnya hingga Kashmir.

“Tapi kali ini, di ‘Hina Angkara’, gue menulis dari sudut pandang yang berbeda, tentang hal yang berbeda juga. Ceritanya tentang sosok ulama palsu, yang sangat terlihat seperti pemuka agama, dengan penyampaian yang sangat meyakinkan sehingga orang-orang awam banyak yang terpengaruh. Tapi sebetulnya di dalamnya dia mengikuti apa maunya iblis. Dia ulama ahli dunia, bukan ahli akhirat.”

Setelah perilisan “Hina Angkara”, sebenarnya Children of Gaza punya segudang rencana. Ingin sesering mungkin merilis video dan single, lalu merangkumnya menjadi album. Tapi gara-gara pandemi, banyak rencana yang terhambat, salah satunya keinginan untuk manggung. “Kami pengen nunjukin ke khalayak bahwa Children of Gaza punya karya baru. Sayangnya saat ini nggak memungkinkan untuk manggung seperti dulu. Semoga pandemi segera berakhir!”

Selain menyaksikan video klipnya di kanal YouTube, “Hina Angkara” juga bisa dinikmati via berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music dan Joox. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *