30 Tahun Lalu, MEGADETH Rilis Mahakarya “Rust in Peace”

Bulan ini, tiga dekade lalu, “Rust in Peace” diperdengarkan ke publik metal dunia. Salah satu masterpiece dari salah satu band legendaris dan monster thrash metal, Megadeth. Menghadirkan sebagian komposisi terbaiknya, yakni “Holy Wars… The Punishment Due”, “Hangar 18” dan “Tornado of Souls” serta dukungan formasi terbaik Megadeth yang paling disegani hingga kini; Dave Mustaine (vokal/gitar), David Ellefson (bass) serta kontribusi pertama gitaris Marty Friedman dan mendiang dramer Nick Menza.

Kabarnya, sebelum memutuskan menggarap “Rust in Peace”, Dave Mustaine yang merupakan penggerak utama band ini sempat membidik Dimebag Darrell (Pantera) untuk menempati posisi gitar. Tapi syarat utama dari Dimebag yang ingin menyertakan saudaranya, dramer Vinnie Paul, tak dapat dipenuhi Dave lantaran telah terlanjur merekrut Nick Menza, teknisi Chuck Behler (dramer Megadeth di album sebelumnya, “So Far, So Good… So What!”). Formasi dahsyat itu pun buyar.

Nasib baik memang berpihak pada Marty Friedman yang saat itu telah berkibar lewat grup speed metal Cacophony yang ia derukan bersama shredder Jason Becker serta sebuah album solo instrumental bertajuk “Dragon’s Kiss” (1988). Ketika diundang audisi, Marty melibas semua materi yang diajukan pihak Megadeth.

Adalah berasal dari sebuah tulisan tempel (sticker) dari sebuah mobil yang dilihat Dave Mustaine ketika mengemudi di jalan tol yang memberi inspirasi konsep “Rust in Peace”. Di situ tertulis, “May all your nuclear weapons rust in peace.” Maka mengalirlah tema-tema politik yang menyesaki album studio keempat Megadeth tersebut. Mulai dari isu pemanasan global serta lingkungan di “Dawn Patrol”, lalu tentang tawanan perang di “Take No Prisoners”, tentang agama di “Holy Wars …” dan bahkan membahas konspirasi UFO di “Hangar 18”.

Seperti dinamika komposisi lagu-lagu Megadeth yang sarat pola ritem serta tempo yang berubah-ubah, plus permainan gitar solo yang cenderung teknikal, penggarapan rekaman “Rust in Peace” pun diliputi gelombang masalah. Awalnya, perancangan proses penggarapannya ditangani oleh produser Dave Jurdin. Tapi ia tak bertahan lama. Lantas masuklah Mike Clink. Namun Mike saat itu tengah menanti instruksi dari Axel Rose (Guns N’ Roses) mengenai kapan penggarapan produksi album “Use Your Illusion” dimulai. Jadi sangat besar kemungkinan urusan produksi berhenti di tengah jalan jika sewaktu-waktu Mike mendapat panggilan untuk masuk studio menggarap album milik Guns N’ Roses tadi.

Untungnya, para personel Megadeth mampu merampungkan keseluruhan proses rekaman yang dieksekusi di Rumbo Studios, Los Angeles, sebelum Mike Clink pindah ke klien berikutnya. Dave Mustaine, Max Norman serta Micajah Ryan lantas melanjutkan sentuhan final rekaman “Rust in Peace”. 

Kerja keras Megadeth terbayar. “Rust in Peace” yang dirilis pada 24 September 1990 via label Capitol Records berhasil menembus 10 besar terlaris di Inggris, lalu peringkat 23 terlaris di Amerika Serikat versi perhitungan Billboard 200, dan bahkan masuk nominasi Grammy Awards 1991 untuk kategori “Best Metal Performance”. Oleh majalah Kerrang!, “Rust in Peace” disebut telah meletakkan standar baru dalam genre heavy metal di era ‘90an. 

“‘Rust in Peace’ mungkin merupakan album rekaman Megadeth terhebat yang pernah ada,” cetus Kerry King (Slayer) memuji. “Formasi yang bagus, lagu-lagu yang bagus serta tata suara yang bagus. Saya mengagumi gaya Dave (Mustaine) sampai hari ini. Dia benar-benar total di album ini!”

Lebih gamblang tentang album “Rust in Peace”, sebagian telah diumbar Dave Mustaine di buku “Rust in Peace: The Inside Story of the Megadeth Masterpiece”, terbitan Hachette Books pada 8 September 2020 lalu. (MK03)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *