DUSX: “New Force, New Power, New Chemistry!”

Judul di atas adalah semangat baru yang ingin ditunjukkan oleh pasukan progressive/technical grindcore asal Bandung ini. Mereka telah menyemburkan album mini (EP) perdana bertajuk “Toxicious Anthropoid” via Disaster Records sejak 20 Oktober 2020 lalu, dimana DUSX kini diperkuat formasi baru.

Selain Tommy Budiawan, mantan gitaris Godless Symptoms yang mencetuskan kelahiran DUSX pada 2019, kini ada suntikan ‘darah baru’ dari vokalis Syafriady (Gunblasting) serta dramer Cepie Permana dari Femau. Masing-masing menggantikan posisi Gempita ‘Jims’ Adrian dan Usenx, dua musisi yang sebelumnya sudah terlibat di penggarapan single debut DUSX, “Beneath The Limb” (2019).

Secara konsep musikal sebenarnya nyaris tak ada yang berubah, jika membandingkan “Toxicious Anthropoid” dengan “Beneath The Limb”. Seperti tuturan Safri kepada MUSIKERAS, DUSX kali ini tetap memainkan kebengisan grindcore, yang digasak dengan tempo cepat dan berintensitas tinggi, plus pola-pola rumit yang diharapkan menggugah adrenalin pendengar. 

“Namun dengan lineup baru ini, ada hal baru yang ingin kami tunjukkan, yaitu new force, new power, new chemistry,” cetusnya meyakinkan.

Lebih jauh, Tommy dan Cepie juga menguatkan pernyataan di atas, bahwa perbedaan lebih terasa di penerapan isian dram yang lebih rapat, serta karakter vokal yang jauh berbeda dibanding sebelumnya.

“Toxicious Anthropoid” yang digarap selama kurang lebih satu bulan tersebut dirilis dalam format kaset pita dalam jumlah terbatas. Hanya 150 keping. Mengapa mereka memilih format tersebut?

“Nostalgia!!!!” Cepie dengan cepat mencetuskan alasannya.

Karena menurutnya, bagi para penggemar teknologi konvensional, konon suara yang dihasilkan kaset pita memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan rilisan format digital. “Jadi disamping target konsumsi untuk penikmat format musik digital, kami juga memperuntukkan album DUSX ini bagi mereka yang benar-benar hobi mendengarkan suara dengan teknologi konvensional.”

“Sebetulnya perilisan kaset atau pun CD sama saja. Musisi itu harus ada hasil karyanya, mau berbentuk CD, kaset, piringan hitam atau apa pun itu,” seru Tommy menimpali.

Di “Toxicious Anthropoid”, DUSX menggeber tujuh lagu, yang tentunya didominasi tamparan distorsi meledak-ledak dan agresif, hasil serapan pengaruh dari band-band luar seperti Misery Index, Benighted dan Absurdist. Lalu di antaranya, terselip pula lagu “Nu Gelo” yang merupakan karya daur ulang milik Keparat, band favorit mereka dari skena ‘90an di Bandung. Buat Tommy, “Nu Gelo” sangat pas dengan tema yang diletupkan di “Toxicious Anthropoid”. 

“Lagunya unik, singkat, padat, dan menurut saya sangat cocok untuk diubah ke dalam versi musik grind,” ujar Cepie menambahkan.

Disamping itu, timpal Safri, keputusan membawakan lagu “Nu Gelo” juga bisa dikatakan sebagai bentuk apresiasi DUSX terhadap Keparat. “Kami ingin menunjukkan bahwa lagu yang pernah mereka luncurkan di tahun ‘90an itu seharusnya tidak dilupakan. Kami ingin mengingatkan bahwa lagu itu pernah eksis dan dikenal.” 

Kaset “Toxicious Anthropoid” kini sudah tersedia di webstore dan e-commerce Tokopedia. Rencananya, DUSX juga bakal menghadirkan album tersebut di berbagai platform digital. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *