BLACKSWAN: “Kami Mengamalkan Perintah Al-Qur’an!”

Musik hanyalah musik. Sebuah ‘kendaraan’ untuk memuat pesan, untuk disampaikan kepada tujuan atau khalayak. Dalam konteks yang diterapkan unit cadas asal Malang ini, mereka memilih metalcore sebagai sarana pelampias misi dan visinya dalam bermusik, sekaligus berdakwah.   

Seperti yang mereka terapkan di single-single yang pernah dirilis, seperti “Masif Infotainment”, “Malhamah Kubra”, “Trump” dan juga “Anti Sekuler”, yang kini telah terangkum di album debut berjudul “Periode Akhir”. Sebuah karya rekaman kolektif yang sarat akan perspektif Islam dan fase social distorsing melalui syair, yang lantas diantarkan lewat entakan metalcore yang enerjik. Album tersebut beramunisikan 10 trek dengan satu tambahan lagu yang berinstrumen piano.

“Periode Akhir” sendiri berarti sebuah fase perjalanan dunia Islam yang kini sudah berada di abad kegelapan menjelang datangnya hari akhir atau kiamat.  Judul itu dipilih karena banyak lagu dari Blackswan sendiri yang mengedepankan fenomena akhir zaman seperti “Ghazwul Fikr”, “Garis Batas Palestina”, “Malhamah Kubra”, “Trump” hingga “Anti Sekuler”. Namun ada satu lagu yang menjadi inti dari sekujur album, yaitu “The Immortal One”, lagu yang menyinggung hal paling prinsip di dalam Islam yaitu tawhid (monoteisme) yang menjadi fitrah setiap manusia.

“Kami mengedepankan tema Islam bukan lain hanya untuk memberikan alternatif pemikiran klasik yang lama ditinggalkan kaum Muslimin dan menjalankan perintah Allah dalam Al-Qur’an yaitu ‘Ta’muruna bil ma’ruf, wa tanhauna ‘anil munkar’ atau mengajak pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Dan sudah seharusnya bagi kaum Muslimin mengamalkan ayat di atas sampai hari yang ditentukan tanpa melihat momentum. Selain itu, Blackswan merupakan wasilah atau sarana bagi kami dalam beramal. Untuk ke depannya tema kami akan selalu seperti ini. Insya Allah,” beber pihak band mengungkapkan alasannya.

“Periode Akhir” yang digarap Blackswan bersama Torch Production, dan Rama Project Studio didominasi penalaan (tuning) gitar Drop C dengan geberan distorsi penuh, terapan riff-riff khas metalcore era old school dan new school serta patahan-patahan breakdown yang dikombinasikan dengan vokal growl dan clean.

Jika harus memilih, formasi Achtafian Kevin Arighi (vokal), Ninis Agung Wahyu Prayoga (gitar), Deryl Septianto (gitar/vokal) dan Nida’ Al Kholil (dram) menyebut lagu “Aberasi Ummat” dan “The Immortal One” sebagai karya yang paling memuaskan bagi mereka, dari segi garapan musikalnya. Karena di kedua trek tersebut, mereka merasa berhasil memasukkan berbagai referensi yang dilebur. 

Selama menjalani proses penggarapan album “Periode Akhir”, Blackswan juga mengungkapkan hal-hal positif yang mereka dapatkan, terutama dalam proses teknis produksi. “(Kami) Lebih memperhatikan kesiapan equipment, pengaturan jadwal, kesiapan player terhadap materi, serta detail-detail pada setingan rekaman,” cetus pihak band meyakinkan.

Oh ya, “Periode Akhir” sendiri dirilis pada awal Oktober 2020 lalu, yang sekaligus menjadi momentum peringatan usia enam tahun Blackswan berkarir di skena musik cadas. (aug/MK02)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *