JENDRAL KANTJIL: “Kami Gunakan Referensi Punk Jepang untuk Mengenang Mbhoots.”

Akhirnya, album mini (EP) bertajuk “This Is What I Think About Love” milik unit punk rock asal Tambun Selatan, Bekasi ini tersiar juga di berbagai platform digital. Maklum, versi asli EP yang memuat lima komposisi gesit tersebut dirilis 15 tahun lalu dan tadinya hanya tersedia dalam format fisik.

“Saat itu kami baru melepas pakaian putih abu-abu dan masih suka nongkrong sana-sini, makanya cuma bisa bikin lima lagu, daripada nongkrong nggak jelas juga kan? Mendingan kami berkarya… hahaha. EP ini kami kerjakan bersamaan dengan kami manggung di (berbagai) gigs kecil skena Bekasi dan Jakarta. Kurang lebih dua tahun (penggarapan) EP ini selesai. Setelah semua materi selesai, kami merekam semuanya di Gitara Kemang Pratama, Bekasi,” beber pihak band kepada MUSIKERAS, mengenang karya rekaman lawas mereka tersebut. 

Selain tujuan agar bisa diakses lebih banyak pendengar dari ranah digital, merilis ulang “This Is What I Think About Love” juga diputuskan untuk mengenang mendiang Gusti Muhammad Nur Fajar alias Mbhoots, gitaris mereka yang ikut berandil besar memperjuangkan bergulirnya karir Jendral Kantjil, mulai dari manggung regist, punya album hingga bisa mendapatkan undangan manggung di skena ‘bawah tanah’ Jabodetabek. 

“Intinya kami ingin album ini pun menjadi kenangan kami yang tak terlupakan bersama Almarhum Mbhoots,” tutur mereka meyakinkan. 

Dari segi musikal, “This Is What I Think About Love” sendiri waktu itu diarahkan ke konsep penerapan beat yang cepat yang dipadukan lirik cinta yang tidak biasa. Sementara untuk referensi musik, Jendral Kantjil sedikit banyak menyerap pengaruh dari band-band punk macam Rufio, NOFX hingga New Found Glory.

Saat ini, Jendral Kantjil yang digawangi Vajar Subhanuddin (vokal), Ratno Pratama (gitar), Panji Wisnu Nugroho (bass), Muhammad Babullah (gitar), Gerry Ariestyo (kibord) dan Agung Ferly (dram) juga tengah menyiapkan single terbaru, yang rencananya dirilis November ini juga. Karya terbaru tersebut diberi judul “Mbhoots”. Ya, lagu ini pun dilahirkan lagi-lagi untuk mengenang sang gitaris.  

“Kami suka memanggilnya Mbhoots a.k.a Kentung dengan tubuhnya yang gemuk dan susah untuk dinasehati. Karena pada saat saat terakhir Almarhum hidup, dia ingin kami bersamanya membuat sebuah album baru. Materi lagu sudah siap namun karena belum mampu dalam hal materi finansial, maka hanya single inilah yang dapat kami rilis demi mengenang sosoknya. Proses lagu ini sudah tahap pendistribusian ke pasar musik digital dan segera keluar pada 20 November, atau H+1 ulang tahunnya.”

Oh ya, dari segi musik, sedikit ada pergeseran konsep dibanding “This Is What I Think About Love”, dimana band-band punk Jepang macam Dustbox, Shank, Hi-standard dan Northern19 sedikit banyak menjadi acuan. “Karena pada saat itu juga, Almarhum (Mbhoots) sedang asyik-asyiknya mengulik band-band dari Negeri Sakura. Makanya kami pakai referensi musik tersebut sebagai bagian mengenang Almarhum di masa lalu.”

Jendral Kantjil yang terbentuk pada 2001 silam sebelumnya sudah pernah merilis single yang masuk dalam kompilasi “From Family To Family” (2004), lalu merilis EP pada 2005 dan merilis album penuh pada 2010 serta berbagai single yang dirilis via label Middlename Re-chords. Modal yang membuat mereka bisa malang-melintang di berbagai skena punk rock Jabodetabek hingga berbagai daerah di Pulau Jawa. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *