GETWELLSOON Serukan “Metanoia” dengan Pengaruh Pop Punk Hardcore dan Folk

“EP ‘Metanoia’ memiliki beberapa referensi musik, mulai dari band ber-genre pop punk hardcore seperti Billfold, bahkan band ber-genre folk seperti Fourtwnty.”

Getwellsoon menegaskan benang merah konsep musiknya kepada MUSIKERAS. Kenapa konsepnya begitu kontras ? “Karena kami berusaha merangkum proses perjalanan kami dalam bermusik dan menggabungkan keempat pemikiran kami untuk menjadi lebih berwarna,” cetus band yang telah menggeliat sejak 2012 silam ini meyakinkan.

Getwellsoon sendiri merupakan unit keras asal bumi Gunungkidul-Handayani, Yogyakarta yang muncul dari berbagai proses yang dialami oleh para personelnya; Nikki Tirta (vokal), Mahessa Rastamandhika (gitar/vokal) dan Muhammad ‘Pongs’ Hairuman Alviansyah (dram/vokal latar). Mereka membuat sebuah wadah bagi kegelisahan terhadap kehidupan yang mereka alami sendiri. SEmpat ditinggal Nikki ke tanah rantau Negeri Sakura, membuat Getwellsoon berulang kali mengganti beberapa anggota tubuhnya untuk terus tetap hidup. Mengalami berbagai fase perubahan, hingga akhirnya Nikki kembali dan bergabungnya Deta Bagas Kurnianto (bass/vokal) membuat Getwellsoon kembali bangkit. 

Pada 4 Oktober 2020 lalu, Getwellsoon pun merilis album mini (EP) debutnya yang bertajuk “Metanoia”. Beramunisikan empat komposisi lagu, yakni “Kontradiksi”, “Tak Sejalan”, “Kait Waktu” dan “Juga Manusia”, dimana Getwellsoon menjadikannya pengalaman belajar dan berproses dalam bermusik.

Proses panjang yang dijalani Getwellsoon dimulai sejak Maret 2020 hingga harus terhenti sejenak karena pandemi Covid-19 yang tak kunjung mereda, membuat Getwellsoon harus berputar otak merampungkan EP “Metanoia”. Dari empat lagu yang tersaji, Getwellsoon menyebut lagu “Kontradiksi” sebagai karya mereka yang paling memuaskan penggarapannya.

“Satu-satunya lagu di ‘Metanoia’ yang paling berbeda, dari segi musik, lirik, hingga video musiknya. Berbeda dari ketiga lagu yang lain yang memiliki tema tentang isu sosial, konflik batin, dan pola pikir, ‘Kontradiksi’ menceritakan tentang kisah cinta dua manusia, yang tidak memiliki ujung meskipun telah menjalin hubungan yang begitu panjang. Dari segi teknis pun, ‘Kontradiksi’ banyak menggunakan sampling, mulai dari dram, hingga violin. Tidak begitu ribet, tetapi fokus pada tujuan lirik lagunya sendiri,” urai pihak band mendeskripsikan.

EP “Metanoia” dirilis dalam bentuk boxset yang berisikan keempat lagu beserta video musiknya dalam format fisik CD, plus merchandise berupa kaos, lanyard, masker serta stiker dalam jumlah yang terbatas. Selain itu, Getwellsoon juga menyebar “Metanoia” ke seluruh paltform digital seperti Spotify, Dezeer dan YouTube Music. (aug/MK02)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *