DIVINE CVLT: “Kami Gabungkan Pengaruh Modern Metalcore, Djent dan Melayu.”

Usia band keras asal Padang, Sumatera Barat ini masih sangat belia. Baru terbentuk pada Desember 2019 lalu, tapi diteguhkan atas dasar semangat berkobar-kobar untuk mencoba menghadirkan sesuatu yang berbeda, warna baru dalam musik ranah rock dan metal di pesisir barat Pulau Sumatera. Divine Cvlt pun dicetuskan dengan formula metalcore, yang dipadukan dengan attitude Melayu yang telah mendarah daging dalam diri setiap personelnya.

Belum lama ini, Divine Cvlt pun berhasil meletuskan single perdananya, bertajuk “It’s Not A Crime” yang sudah bisa didengarkan via berbagai gerai penyedia jasa dengar musik secara digital. Para personelnya; Rahmad Fajar (vokal), Gholid Tamazu (gitar), Roby Ravindra (gitar), Ronny Syarkifli (bass/vokal) dan Muhammad Hebron (dram), mengangkat tema yang masih dianggap sensitif di lirik “It’s Not A Crime”, tentang respon atau pandangan tentang masyarakat atau lingkungan konservatif terhadap individu yang merajah tubuh mereka dengan tattoo.

“Di tengah masyarakat konservatif terlihat berbeda adalah sesuatu keanehan yang bisa menjadi topik perbincangan yang tidak ada habisnya. Penolakan atas pilihan memiliki tattoo dari lingkungan keluarga, lingkungan sekitar, dan lingkungan pekerjaan adalah hal yang biasa,” tutur pihak band memperjelas. 

Single “It’s Not A Crime” sendiri mulai digarap Divine Cvlt pada Februari 2020 lalu, termasuk proses kreatif penciptaan musik dan liriknya. Namun ketika masuk sesi perekaman, pandemi Covid-19 mulai merebak sehingga menyisakan perekaman vokal yang belum sempat tereksekusi. Proses rekaman akhirnya baru bisa dilanjutkan lagi pada Mei, dieksekusi di Barcore Home Record Studio milik rekan mereka yang bernama Bardi, yang juga melakukan mixing final untuk single tersebut.

“Waktu yang dihabiskan dari proses rekaman hingga peluncuran single ini cukup lama, dari Februari sampai September karena proses mixing yang juga mengalami kendala, karena personel tidak dapat menemani sound engineer saat melakukan mixing dan evaluasi hanya bisa dilakukan melalui obrolan via (aplikasi) Whatsapp,” ujar Divine Cvlt kepada MUSIKERAS, terus-terang.

Pengaruh geografi yang menjadi lokasi domisili kelahiran Divine Cvlt rupanya ikut berpengaruh terhadap pembentukan karakter musikal band ini. Sumatera yang mayoritas masyarakatnya dari rumpun Melayu sangat mendarah daging dalam nadir masing-masing personel. Mereka pun membawa pengaruh itu ke pengolahan lagu, yang dilebur dengan berbagai pengaruh dari referensi luar yang mereka dengarkan. 

“Divine Cvlt mencoba hadir dan menggabungkan modern metalcore dan unsur djent yang terpengaruh beberapa band yang kami dengar seperti Wage War, Architech, Amity Affliction, Polaris, Erra, Thornhill, Phinehas, Poison The Well dan Killswitch Engage.”

Rencananya, tahun depan Divine Cvlt menargetkan bisa merilis album debutnya. “Kami harap awal tahun depan akan menjadi tahun yang lebih baik untuk kita semua, dan Divine Cvlt sendiri ingin memberi kejutan dengan album pertama yang berisikan beberapa lagu yang terinspirasi dari cerita tentang kehidupan personel dan fenomena yang terjadi saat ini.” (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *