NO RECOVERY: “Konsep (Dbeat Hardcore Punk) Kami Sangat Tak Terduga.”

Pengalaman masing-masing personel bergabung dengan band lain membentuk karakter No Recovery menjadi semakin solid. Terutama dalam pemilihan genre serta tema. Seperti yang kini mereka lampiaskan di album baru bertajuk “Ego-Cen-Tris”, dimana trio pengibar dbeat hardcore punk asal Jakarta ini banyak menyurahkan pengalaman hidup, sosial politik, tingkat kesetaraan, hak asasi manusia, masyarakat dan realita pada umumnya di lirik lagunya.

Berawal dari sebuah proyek coba-coba, dengan memodifikasi musik yang sudah sangat menjenuhkan dan menjemukan otak, prinsip, ide dan idealis, yang lantas tanpa mereka sadari ternyata seperti rumus yang menghasilkan efek domino. Seperti semangat baru, sangat eksplosif dan masif, meramu leburan hardcore punk ‘90an dengan jaman moderenisasi, dan tercetuslah nama No Recovery.

Sesario Tohpati (vokal/gitar), Rizal ‘Nyoi’ (bass) dan Danny ‘Yango’ Irawan (dram) mengakui banyak terpengaruh band-band seperti Uncurbed, Doom, Driller Killer, Baptist, Victims, Chaos UK, Instinct Of Survival, Slayer, Nuclear Assault, S.O.D, Partisan, MOB 47 dan masih banyak lagi.

Berbicara tentang pengaruh-pengaruh musikal, bagi No Recovery adalah sebuah topik yang menarik, mengingat ketiga personelnya datang dari referensi masing-masing yang berbeda. Namun demikian, ada benang merah yang menyatukan mereka, yakni ketiganya sangat menggilai musik yang cepat yaitu Hardcore Punk.

“Karena passion kami bertiga beranjak dari musik-musik seperti Doom, Police Bastard, The Exploited, Baptist, Slayer dan masih banyak lagi. Tentunya selama musiknya bisa membuat kami bahagia dan tersenyum itu akan menjadi favorit kami bertiga, hahaha… dan sudah pasti kami sangat berbeda dibanding band-band yang sudah ada karena kami bermain dengan cara kami, yang kami bisa dan mengerti tentunya,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, gamblang.

Saat menggarap “Ego-Cen-Tris”, album yang dirilis secara kolektif oleh tiga label yaitu Tarung Records, Apocalypse Records dan Distorts Records tersebut, No Recovery mengungkapkan banyak peningkatan dalam peramuan musiknya. 

“Dalam sentuhan riff gitar, baik isian lead dan feel, ditambah dengan dinamika bass serta penambahan karakter sound yang lebih kotor dan lebih berat pastinya, dan tidak lupa dengan beat dram yang sangat tidak mudah dimainkan, dikarenakan kami bertiga mempunyai konsep yang sangat tidak diduga tentunya, tetapi tidak meninggali akar bermusik yaitu hardcore punk.”

Eksekusi pengisian dram “Ego-Cen-Tris” dilakukan No Recovery di Bullet Proof Studio yang berlokasi di kawasan Bintaro, milik sahabat mereka. Penggarapannya hanya menghabiskan waktu kurang lebih lima jam. Sementara untuk pengisian gitar, bass dan vokal dilakukan di Freak Effect Studio, Pamulang.

Kenapa merilis “Ego-Cen-Tris” dalam format kaset? 

“Karena menurut kami sendiri, kaset itu masih banyak yang meminati dan penjualannya pun masih luar biasa. Dengan segala kelemahannya, kaset masih punya keandalan dibandingkan CD, karena mutu kaset relatif lebih awet dan perawatannya pun mudah. Maka itulah sebabnya kami memilih (merilisnya) dalam format kaset.”

No Recovery terbentuk pada akhir 2018, yang menggabungkan musisi dari berbagai band. Yango sebelumnya tergabung di Total Destroy, Aparatur dan juga menjadi additional player di band Inasubs, Kremlin dan Dickhead. Nyoi sebelummya main di S.O.R bersama Sesar yang juga bermain di Kasbih 47, Total Destroy dan Android Noid. Pada awal 2020, No Recovery telah merilis album mini (EP) berjudul “I Against You” yang juga diedarkan dalam format kaset via Tarung Records. (mdy/MK01) 

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *